Hustle Culture, Budaya Kerja Gila Tanpa Jeda

ENSIPEDIA.ID, Jember – Bekerja merupakan salah satu rutinitas yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun, karena terlalu berambisi pada tujuannya dengan cara bekerja secara ‘gila’ ia lupa untuk beristirahat, atau lebih dikenal dengan sebutan Hustle Culture.

Fenomena ini tentu merupakan sebuah hal yang negatif dan tidak perlu untuk dilakukan, karena sebagai seorang manusia biasa, ada kalanya kita merasa lelah dan perlu istirahat. Jangan hanya karena ambisi, sehingga lupa akan kondisi.

Gaya hidup Hustle Culture tentu akan merusak keseimbangan kehidupan serta pekerjaan (work life balance) seseorang, dan juga akan memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan mental serta emosional.

Apa itu Hustle Culture?

hustle-culture-budaya-kerja-gila-tanpa-jeda

Singkatnya, Hustle Culture berarti bekerja terus-menerus. Itu berarti mencurahkan sebanyak mungkin hari-hari yang dilewati untuk bekerja. Orang yang tidak menganggap hal-hal lain yang sebenarnya dibutuhkan oleh setiap manusia itu penting.

Budaya ini merupakan sebuah pola pikir, filosofi dan kehidupan yang dianut oleh banyak orang, baik oleh perseorang ataupun bahkan perusahaan. Ketika berbicara tentang Hustle Culture, semakin banyak bekerja, maka akan semakin terkenal.

Makan, tidur ataupun acara pentingnya lainnya merupakan suatu hal yang menurutnya tidak penting, bahkan istirahat dianggap sebagai simbol ‘kelemahan’. Otak penganut ini dituntut untuk selalu aktif dan selalu mengeluarkan ide demi ide.

Dampak yang Ditimbulkan dari Hustle Culture

hustle-culture-budaya-kerja-gila-tanpa-jeda

Dengan kegiatan yang totalitas pada pekerjaan dan mengabaikan hal lain, tentu ini akan memiliki dampak yang buruk. Seperti dilansir dari fk.unair.ac.id, sebuah studi dalam jurnal Occupational Medicine, bahwa orang yang memiliki jam kerja yang panjang, pada semua kalangan, cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Menurut Forbes, pekerja yang ada di Negeri Paman Sam, 55% mengalami mengalami stress, presentase ini lebih tinggi 20% jika dibandingkan total keseluruhan angka di seluruh dunia.

Beralih ke Benua Eropa, menurut Mental Health Foundation UK, sebanyak 14,7 pekerja yang bekerja di Inggris mengalami gangguan kesehatan mental yang disebabkan karena pekerjaannya. Hal serupa juga ditemui di Jepang, pekerja yang mengalami gangguan mental, penyakit dan jantung naik 3 kali lipat karena kelelahan bekerja.

Hustle Culture di Indonesia

Hustle Culture merupakan budaya yang sudah universal, hampir setiap negara ada yang menerapkan ini, tak terkecuali Indonesia. 1 dari 3 pekerja Indonesia mengalami gangguan mental akibat porsi bekerja yang berlebihan.

Dengan adanya pandemi ini, tentu Hustle Culture lebih mudah untuk dilakukan, karena hampir semua pekerjaan di lakukan di dalam rumah. Namun, budaya ini merupakan hal yang tidak baik, kita harus menyikapi kondisi pandemi dengan lebih banyak istirahat bukan bekerja.

Gaya hidup ‘kerja gila’ ini harus disikapi dengan bijak, jangan sampai dibutakan oleh uang hingga lupa akan kesehatan, baik itu mental maupun fisik.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles