Ciri Utama Manusia Indonesia Menurut Mochtar Lubis

ENSIKLOPEDIABEBAS.ID, Jember – Sebuah pidato kebudayaan pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki dibacakan oleh salah seorang sastrawan sekaligus jurnalis beken, Mochtar Lubis. Pidato ini merupakan pidato politis yang berkedok kebudayaan, isinya berisi sebuah sindiran kepada masyarakat.

Deskripsi tentang sifat-sifat manusia yang dikemukakan pada pidato tersebut bukan merupakan definisi antropologi yang dibuat oleh para antropolog atau sosiolog, tetapi sebuah kritik yang datang dari seorang nasionalis kepada bangsanya sendiri. 

Dalam pidato tersebut, Mochtar Lubis menyebutkan 6 sifat negatif yang dimiliki masyarakat Indonesia. Bagaimana sosok “manusia Indonesia” menurut Mochtar Lubis? Simak ulasannya di bawah ini:

1. Hipokritis atau Munafik

“Lain di muka, lain di belakang.” sebuah kutipan yang rasanya pas untuk menggambarkan ciri utama manusia Indonesia yang sudah mengakar sejak lama. Mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya, dipikirkannya, ataupun dikehendakinya.

Tanpa bermaksud untuk menyudutkan agama, namun sudah banyak contoh dan bukti nyata yang menjadi salah satu faktor kemunafikan masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah tentang seks, di depan umum mengecam seks terbuka ataupun setengah terbuka, namun masih banyak tempat pijit dan tempat prostitusi yang dilindungi, menjamin keamanan prostitut dengan berbagai cara.

Dalam lingkungannya dia pura-pura alim, namun ketika turun di Singapura, Hongkong, Paris, New York ataupun Amsterdam, langsung loncat ke taksi dan mencari nightclub serta menyewa perempuan pemuas seks.

“Dia maki-maki korupsi tetapi dia sendiri koruptor.” Kita semua mengutuk korupsi, namun berdasarkan fakta dilapangan koruptor masih dan terus bertambah. Meskipun fakta-fakta sudah jelas, namun hingga hari ini belum ada tindakan untuk mencekal sang pelaku utama. 

Katanya hukum yang berlaku di negeri ini sama untuk setiap warga, nyatanya pencuri kecil masuk penjara, tikus berdasi bebas berkeliaran, sekalipun di bui hanya sebentar saja.

Akibat dari kemunafikan manusia Indonesia, muncul istilah ABS (Asal Bapak Senang). Ketika tuan feodal merajalela di negeri ini, menindas rakyat dan memper*osa nilai-nilai manusia Indonesia. Rakyat terpaksa memasang “topeng” untuk melindungi dirinya dan tuan feodal, raja, sultan, sunan, bupati, demang dan sebagainya, selalu dihadapi dengan “inggih”, “sumuhun”, “ampun duli tuanku”, “hamba patih tuanku”.

2. Enggan Bertanggung Jawab Atas Perbuatannya

“Bukan saya.”, sebuah kalimat yang cukup terkenal di mulut manusia Indonesia. Pimpinan menggeser tanggung jawabnya kepada bawahan tentang sebuah kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, dan bawahannya menggesernya ke tempat yang lebih bawah lagi.

Menghadapi sikap tidak mau memikul tanggung jawab terhadap sesuatu yang merugikan, merusak harkat dan martabatnya. Tidak hanya atasan yang bisa mengelak dari tanggung jawab, bawahan pun punya jawaban sendiri, mereka seraya berkata, “Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan!”

Sebaliknya, jika terdapat sesuatu sukses dan gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan tampil ke depan menerima bintang penghargaan, pujian, sorak tepuk tangan dan sebagainya.

Jika kita lihat dengan seksama, banyak manusia Indonesia mendapatkan bintang gerliya walaupun sebenarnya tidak berhak, maka sebagian besar yang menerima bintang Mahaputra hanyalah kelas “bapak-bapak”. Pegawai kecil dan rendahan yang tekun dalam bekerja, menahan segala rupa kesukaran hidup, dan jarang sekali mendapatkan penghargaan selayaknya yang harus mereka terima.

3. Jiwa Feodal

Ciri ketiga manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Walaupun salah satu dari tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia adalah untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari feodalisme, tetapi feodal dalam bantuk-bentuk baru sudah berkembang.

Dikalangan atas mengharapkan unsur keharusan, agar manusia-manusia yang berada di bawahnya, baik dari segi pangkat, kekuasaan maupun kedudukannya mengabdi kepadanya dengan segala cara, harus patuh dan hormat, takut, tahu diri, tahu tempatnya, dan melakukan sesuatu asal bapak senang.

Di Mentawai, pamong praja menyuruh cukur rambut demi modernisasi suku Mentawai. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, tua, muda ataupun paruh baya memanjangkan rambut mereka. Di Papua koteka (pakaian untuk menutup kemaluan) di buang, di Jakarta tari telanjang di klub malam.

Sifat ini sudah ada sejak zaman kerajaan, raja di masa lalu dianggap mendapatkan kekuasannya dari dewa atau Tuhan. Raja-raja di Jawa dipercaya memiliki wahyu cakraningrat yang diberikan dewata kepadanya dan karena inilah seorang raja tidak bisa berbuat salah dan semua ucapannya benar.

Hari ini pun masih ada, hanya saja tokoh utamanya berganti nama menjadi presiden, menteri, gubernur, direktur, dan sebagainya. Meskipun bentuknya sudah berubah, pada hakikatnya hubungan dan sikap-sikap feodal ini masih melekat dari diri manusia Indonesia .

4. Masih Percaya Takhayul

Gunung, pantai, danau, pohon, keris, patung,  merupakan daftar-daftar tempat dan benda yang masih dianggap keramat oleh sebagian manusia Indonesia. Untuk menyenangkan mereka agar tidak menggangu manusia, mereka dipuja, diberi sesajen, mengantar upeti dan masih banyak lagi lainnya.

Manusia Indonesia menghitung hari baik dan hari naas, bulan baik dan bulan naas, jika ada burung gagak yang terbang di atas rumah, itu merupakan pertanda yang mengerikan, akan ada yang mati di dalam rumah.

Banyak yang takut memegang keris, apalagi memilikinya. Salah memiliki, malahan bisa celaka, ada keris untuk membawa rezeki, ada keris untuk menjaga harta benda, ada keris yang konon membuat penggunanya kebal. 

Ada juga yang percaya segala rupa hantu, genderuwo, jurig, kuntilanak, suster ngesot dan masih banyak lagi jenisnya. Terdapat juga ilmu ngepet, untuk membuat penggunanya kaya raya, di Sumatera juga orang percaya cindoku atau jadi-jadian.

Terdapat salah seorang dukun lambang yang paling hebat di Indonesia, tak lain dan tak bukan yaitu Soekarno. Mantranya pada zaman Jepang “Amerika kita seterika, Inggris kita linggis”, dan kemudian ketika berkuasa, mantra-mantranya pun tambah hebat, seperti Nekolim, Vivere Poricoloso, Berdikari, Jarek dan masih banyak lagi lainnya.

Kemudian kita membuat mantra-mantra baru, jimat-jimat baru, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, dan masih banyak lainnya. Manusia Indonesia mudah percaya terhadap lambang dan slogan yang dibuatnya sendiri. Negara kita berdasar pada Pancasila, setelah mengucapkannya, maka masyarakat Pancasila telah tercipta. Mirip seperti seorang tukang sulap yang mengucapkan bim salabim, keluarlah kelinci dari topi.

5. Artistik

Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa dan tuah pada benda alam disekitarnya, maka manusia Indonesia dekat dengan alam. Dia hidup lebih banyak dengan nalurinya, dan perasannya, hal itu mengembangkan daya artistik yang besar, dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang indah dan beranekaragam.

Sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang, daya cipta artistik manusia Indonesia banyak yang diboyong ke luar negeri, dan kini museum-museum di Eropa, Amerika dan berbagai negeri lainnya mengoleksi tembaga, tenun, batik, patung, ukiran kayu dan masih banyak lagi lainnya.

6. Lemah

Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “bertahan” bersedia mengubah keyakinannya. Itulah sebabnya kita sering melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

Dahulu kalah Soekarno mengatakan bahwa inflasi itu baik, asalkan demi “revolusi Indonesia”. Akibatnya waktu dia jatuh dan laju inflasi di negeri kita menjadi 650 persen setahun. Tetapi ketika Soekarno berkata demikian, para ahli ekonomi kita bertepuk tangan menyanjung pemikiran tersebut.

Hari ini menyenangkan hati manusia Indonesia, maka sikap ini diberi nama “tepa selira”, namun pada hakikatnya tidak lain dia merupakan satu kegoyahan watak, di kedua belah pihak, yang berkuasa dan yang tidak berkuasa. watak, di kedua belah pihak, yang berkuasa dan yang tidak berkuasa.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles