Bajingan, Pergeseran Makna dari Pekerjaan Menjadi Umpatan

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Pada masa sekarang, makna bajingan sering diartikan sebagai sebuah hinaan. Namun, jika dilihat dari sejarahnya, bajingan merupakan sebuah profesi yang ada pada abad ke-16.

Kata “bajingan” hari ini merupakan sebuah makna yang berkonotasi negatif dan cenderung menghina. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bajingan berarti penjahat; pencopet ataupun kata kasar dari kurang ajar (makian).

Hal ini sangatlah bertolak belakang dari sejarah makna bajingan tersebut. Lantas, apa sebenarnya makna dari bajingan secara historis? Dan mengapa sekarang menjadi sebuah kata yang sering digunakan untuk menghujat seseorang? Simak penjelasannya di bawah ini.

Bajingan Merupakan Kusir Gerobak Sapi

bajingan-pergeseran-makna-dari-pekerjaan-menjadi-hinaan

Bajingan adalah sebuah pekerjaan kusir gerobak sapi, sekaligus sebagai warisan Indonesia yang telah ada sejak masa lampau. Berdasarkan sumber sejarahnya, pada masa Kerajaan Mataram, sapi merupakan salah satu hewan yang cukup digemari oleh orang. 

Kusir gerobak sapi yang dinamai bajingan, bertugas untuk menarik hasil panen yang dihasilkan oleh warga Mataram (terdiri atas Yogyakarta dan eks-karesidenan Surakarta).

Berlanjut pada masa penjajahan kolonial Belanda, masyarakat pribumi tidak bisa menaiki kendaraan mewah layaknya pejabat Eropa. Masyarakat lokal hanya dapat menaiki bajingan, itupun hanya pribumi kelas menengah atas saja. Setelah merdeka, berguna untuk mengangkat barang.

Bajingan merupakan singkatan dari “bagusing jiwo angen-angening pangeran” yang berarti “orang baik yang dicintai Tuhan”. Hingga sekarang, seorang bajingan masih sering dijumpai terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pergeseran Makna Bajingan Menjadi Hujatan

bajingan-pergeseran-makna-dari-pekerjaan-menjadi-hinaan

Sejarah pergeseran makna bajingan dari pekerjaan menjadi hujatan dikarenakan lambatnya perjalanan seekor sapi, sehingga sang juragan tidak sabar dalam menunggu, serta terkadang pengawal gerobak sapi tersebut suka mencuri barang yang dimuatnya. Sehingga muncullah sebuah umpatan “dasar bajingan”.

Terdapat juga versi lain, yang menyatakan bahwa di daerah Kebumen hingga Banyumas, bajingan berfungsi membawa batu-bata dan bambu dari desa ke kota. Nah, ketika berada di perjalanan, biasanya ada orang yang menumpang untuk pergi ke kota. 

Ketika orang-orang yang akan menumpang tersebut kesal, mereka sering melontarkan ucapan dasar bajingan, di enteni ora teko-teko” (dasar bajingan, ditunggu tidak datang datang). Hal ini tentu sudah wajar, karena sapi tidaklah secepat kuda.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles