Bagaimana Perasaan Cinta bisa Terbentuk? Yuk, Ketahui Prosesnya!

ENSIPEDIA.ID, KENDAL – Cinta merupakan salah satu dari sekian banyaknya emosi yang dialami manusia. Cinta juga dikenal sebagai perasaan positif terkuat yang dirasakan manusia terhadap manusia lain (Wortman, 1992).

Nah, sepanjang hidup pasti kita pernah merasakan yang namanya cinta. Perasaan positif itu muncul dan membuat hati kita merasakan sesuatu yang emosional. Namun, tahukah kalian bagaimana cinta bisa terbentuk? Dan, bagaimana dia bisa membuat jantung kita terasa dag-dig-dug?

Arti Cinta 

Cinta adalah… | Pixabay

Seorang antropolog bernama Helen Fisher menyebut cinta merupakan bagian dari aktivitas otak manusia. Cinta juga mengalami evolusi sehingga bentuk dan rasanya selalu berkembang.

Ada juga konsep cinta Platonis, yaitu sebuah konsep yang berasal dari pemikiran-pemikiran Plato dalam bukunya Simposium, sebuah buku yang membahas mengenai hakikat cinta.

Platonis memandang cinta dari besarnya rasa kasih sayang, bukan dari seksual atau romansa. Menurut Plato, manusia dengan cinta terbaik adalah ia yang mencintai kebijaksanaan. Hakikatnya, baginya cinta akan membawa manusia menemukan sesuatu yang terbaik baginya.

Cinta timbul dari kemampuan tubuh untuk menyeleksi sesuatu yang cocok bagi kita. Ia berkembang lewat motif hidup setiap manusia yang merasa dirinya perlu mempertahankan keturunannya.

Dengan cinta, manusia mampu mempertahankan hidup hingga saat ini. Ratusan ribu tahun yang lalu, cinta belum sekompleks saat ini. Mereka hanya mencari cara untuk dapat bertahan hidup dan bereproduksi.

Kini, ibu-ibu di seluruh dunia tentu memerlukan yang namanya kasih sayang kepada anak. Respon positif ini tidak akan ditemukan pada orang tua yang tidak terikat emosional kepada anaknya. Respon tersebut memungkinkan anak-anak mereka berkembang lebih jauh karena aman dari risiko-risiko liar.

Dari respon inilah, rasa cinta dan kasih sayang mulai menyebar bukan hanya kepada anak dan ibu, tetapi juga ke ayah.

Pengkategorian Cinta 

Cinta dibagi dalam tiga kategori

Dilansir dari channel YouTube Neuron, penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dan dipimpin oleh Dr. Helen Fisher, mengkategorikan cinta menjadi 3 bagian dengan masing-masing hormon yang terlibat.

Pertama adalah nafsu, dengan hormon testosteron dan estrogen. Kedua, daya tarik, dengan dopamin, norepinefrin dan serotonin. Ketiga, keterikatan, dengan oksitosin dan vasopressin.

Hormon testosteron yang memengaruhi nafsu dapat menaikkan libido pada seseorang, sehingga ia akan merasakan rasa cinta yang intensif. Begitu pula dengan estrogen yang mampu membuat wanita merasa bergairah saat ovulasi.

Dopamin, sebuah hormon yang sudah tidak asing lagi namanya bagi kita. Ia disebut juga hormon bahagia, karena dopamin diproduksi saat kita melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti mencicipi makanan baru, melakukan hobi, atau bersalaman dengan orang yang kita sukai.

Tapi tahukah kalian, dopamin juga diproduksi saat pecandu narkoba menggunakan obat-obatan terlarang. Jadi, bisa dibilang daya tarik atau keterikatan adalah rasa kecanduan terhadap seseorang pada porsi yang serupa dengan kecanduan narkoba.

Sedangkan hormon norepinefrin akan membuat kita kehilangan nafsu makan, atau bahkan insomnia karena sedang merasakan jatuh cinta. Kemudian serotonin, berperan penting dalam menjaga suasana hati kita. Apabila hormon ini berkurang jumlahnya, maka suasana hati kita dapat menjadi lebih buruk.

Lalu, kategori ketiga yaitu keterikatan yang melibatkan hormon oksitosin. Hampir serupa dengan dopamin, oksitosin juga dikeluarkan dalam jumlah besar apabila kita sedang merasa terikat dengan orang lain. Hormon ini dikeluarkan saat setelah berhubungan seksual, melahirkan, dan menyusui.

Cinta Berasal dari Otak, Bukan Hati

Otak, sebuah organ dengan berat hanya 1,4 kilogram tapi berisi 100 miliar saraf yang bekerja. Ia mengatur segala sesuatu yang kita lakukan, bahkan mengontrol pemikiran kita juga. Sedih, bahagia, marah, bahkan cinta terjadi di otak, bukan di hati.

Cinta terjadi karena adanya reaksi kimia dalam otak yang saling memengaruhi bagian yang satu dengan yang lainnya. Cinta terbagi atas beberapa jenis, oleh karena itu masing-masing jenis disebabkan oleh reaksi kimia yang berbeda pula.

Sistem kerja otak yang kompleks mampu menghasilkan emosi yang menggebu-gebu dalam dada. Misalnya saat kita bahagia, dopamin akan diproduksi oleh hipotalamus. Kita akan merasa bersemangat dalam menjalani hidup sehingga semuanya berjalan dengan senang. Setidaknya ada lebih dari 5 hormon yang memengaruhi tingkat jatuh cinta seseorang.

Benarkah yang Kamu Rasakan itu Cinta?

Sains tak hanya menjelaskan bagaimana cinta bisa terjadi, tetapi juga tahapan-tahapan terjadinya cinta. Nah, mengapa ada tahapan-tahapannya? Karena cinta tidak terjadi secara tiba-tiba. Yuk, ketahui apakah yang kamu rasakan selama ini benar-benar jatuh cinta.

1. Ketertarikan

Pada fase ini, seseorang dapat tertarik karena disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti fisiknya, sifatnya, suaranya, atau bahkan caranya menyampaikan pendapat saat diskusi.

Ketika muncul rasa tertarik, salah satu bagian otak kita yang bernama reseptor opioid mulai bekerja. Ia bertugas menyimpulkan data-data untuk menjawab pertanyaan dari diri kita sendiri; suka atau tidak?

Ketertarikan pada seseorang tidak hanya terjadi ke satu individu saja, tetapi bisa lebih dari itu. Misalnya, kamu tertarik pada A, tetapi juga tertarik pada B dan C. Nah, tergantung opioid yang akan menjawabnya.

2. Kasmaran

Tahapan yang kedua ini memungkinkan kamu untuk mencari tahu lebih dalam tentang dia. Kamu juga akan merasa lebih bersemangat sekaligus deg-degan saat bertemu dengannya.

Saat kasmaran, dopamin dan norepinefrin diproduksi secara bersamaan sehingga terkadang dapat menimbulkan efek yang berlebihan, seperti sulit tidur, kehilangan nafsu makan, hingga perasaan gelisah yang terus-menerus menyerang.

3. Candu

Di fase ketiga ini, kamu akan terus-menerus ingin mengetahui lebih banyak mengenai dirinya. Setelah mendapat informasi, kamu akan merasa puas seolah mendapatkan reward.

Setelah merasa puas, kamu akan merasa senang. Kesenangan inilah yang nantinya terus kamu inginkan hingga melakukan kegiatan yang berulang kali telah kamu lakukan; mencari tahu tentangnya.

4. Cinta itu Buta!

Sering dengar kata tersebut? Yap, cinta ternyata memang benar-benar dapat membuat kamu buta. Hal ini terjadi karena rendahnya kadar serotonin dalam otak.

Kadar serotonin yang rendah membuatmu terobsesi dengannya. Obsesi yang muncul bahkan dapat berlebihan hingga membuatmu mengabaikan hal-hal negatif dari dirinya dan hanya melirik hal positifnya saja.

5. Komitmen dan Keterikatan

Semakin sering kamu merasakan jatuh cinta, semakin terbiasa pula kamu terhadap respon yang dikeluarkan oleh otak. Hal ini memicu perubahan sikapmu ke dia.

Saat memasuki fase ini, kamu merasa lebih tenang dan nyaman dengannya. Perasaan yang timbul juga tidak berlebihan, melainkan lebih stabil. Panik, gugup, hingga gelisah tak lagi kamu rasakan, tetapi justru jalinan keterikatan akan terasa lebih kuat.

Pada fase inilah, saat yang tepat bagimu untuk mulai berkomitmen dengan pasangan. Pasalnya, emosimu juga mulai lebih stabil dibanding sebelumnya.

 

 

 

Hilmi Harsaputra
Menyukai bidang sosial-hukum, sosial-budaya, geografi, dan astronomi.

Latest articles