Bagaimana Cara Ilmuan Menerjemahkan Bahasa yang Telah Punah?

ENSIPEDIA.ID – Bahasa merupakan alat kumunikasi yang digunakan suatu bangsa dalam interaksi sosialnya. Dalam mempelajari bahasa baru, terkadang kita membutuhkan kamus bahasa untuk menerjemahkannya. Terkadang pula, kita bertanya kepada orang yang setidaknya menguasai setidaknya dua bahasa yaitu bahasa yang ingin kita pelajari dan bahasa yang telah kita kuasai. Tetapi, timbul sebuah pertanyaan, bagaimana cara bahasa bisa diketahui ketika tidak ada kamus dan penutur bahasa tersebut sudah tidak ada atau punah?

Sebuah peradaban yang telah punah biasanya mempunyai peninggalan yang disebut dengan prasasti. Ada pula peradaban yang meninggalkan jejak berupa naskah atau tablet yang berisi informasi-informasi sejarah di dalamnya. Namun demikian, tak sedikit prasasti, naskah, atau tablet yang memiliki aksara serta bahasa yang tak dikenali. Kebanyakan dari mereka meninggalkan jejak bahasa yang penuturnya juga sudah punah.

Itulah yang dikerjakan oleh oleh para ahli epigrafi dan filologi di dunia. Epigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang prasasti. Biasanya berupa prasasti batu atau logam. Sedangkan filologi adalah ilmu yang mempelajari naskah kuno. Keduanya memiliki kesamaan pada proses menerjemahkan bahasa, memecahkan aksara, dan mencari makna sebuah peninggalan sejarah.

Pada dasarnya proses pemecahan bahasa yang telah punah sangatlah sulit. Ilmuan terkadang membutuhkan waktu yang cukup lama dan proses yang sangat panjang dalam menerjemahkannya. Mereka hanya murni melakukan penyandian langsung, tanpa kode enkripsi. Tanpa kamus saja membuat ilmuan kebingungan, ditambah dengan ketiadaan sandi enkripsi.

Sebuah titik terang pun tiba, sebuah batu bernama Rosetta Stone yang ditemukan pada tahun 1799 di Mesir. Saat ditemukan, batu ini masih menyimpan informasi yang misterius. Tidak ada satupun orang yang mengetahui isi dari prasasti tersebut.

Dua orang peneliti bernama Thomas Young dan Jean-Francois Champollion pun berlomba-lomba dalam memecahkan informasi di batu ini. Akhirnya, setelah persaingan yang sengit selama bertahun-tahun, prasasti tersebut pun berhasil di pecahkan.

Rupanya, prasasti tersebut memuat 3 naskah dengan bahasa yang berbeda, yaitu menggunakan tulisan Hieroglif, bahasa Demotik, dan bahasa Yunani Kuno. Diketahui pula bahwa ketiga bahasa dan aksara tersebut menginformasikan hal yang sama. Yaitu perihal dukungan untuk raja Mesir yang bernama Ptelomy V. Prasasti tersebut dibuat untuk menginformasikan kejayaan sang raja. Digunakanlah 3 bahasa guna meluaskan dan menyebarluaskan informasi.

Dalam proses pemecahan tersebut, digunakanlah bahasa Yunani Kuno sebagai pegangan dalam penerjemahan. Untungnya, bahasa Yunani Kuno masih diketahui oleh beberapa peneliti.

Konsepnya sama seperti mengetahui arti dari tulisan di papan penunjuk jalan. Di tempat wisata, terkadang memiliki papan penunjuk jalan yang tertulis dua atau lebih bahasa. Dengan mengetahui salah satunya, pasti kita akan menerka bahwa makna dari tulisan yang lainnya berarti sama.

Jadi, proses penerjemahan bahasa yang sudah punah salah satunya dengan menggunakan metode saling silang bahasa. Jika salah satu bahasa telah diketahui, maka proses selanjutnya adalah mencoba merekonstruksi bahasa yang belum diketahui.

Walaupun sudah bisa dipecahkan, hal tersebut tidaklah membuat ilmuan tahu persis kosakata dari bahasa punah tersebut. Maka dari itu, sangat dibutuhkan banyak penemuan-penemuan prasasti dan naskah kuno yang memuat dua bahasa atau lebih. Dengan hal tersebut, ilmuan semakin dimudahkan dalam proses pemecahan sandi bahasa yang telah punah.

Selain itu, saat ini, para ilmuan juga mencoba menerjemahkan bahasa dengan bantuan Artificial Intellegent (AI). Dengan bantuan robot, akan semakin mudah bagi ilmuan dalam menganalisis penggunan serta penyandian sebuah bahasa yang telah punah tersebut.

Latest articles