Apa Saja Syarat Sebuah Kata untuk Bisa Masuk dalam KBBI?

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Bahasa merupakan ekspresi dari pemikiran yang berkembang di masyarakat. Simbolisasi ekspresi tersebut kemudian diverbalkan menjadi kata-kata. Nah, daftar kata yang digunaan oleh sebuah bahasa biasanya dikumpulkan dan ditulis dalam sebuah buku besar bernama kamus.

Dalam bahasa Indonesia sendiri, dikenal Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Muncul sebuah pertanyaan, bagaimana sebuah kata bisa masuk ke dalam KBBI?

Sebelumnya, kita harus memahami konsep bahwa pembakuan bahasa hanya mencatat apa yang ada di dalam masyarakat. Artinya, sebuah kata bisa tercantum dalam kamus bahasa apabila kata/lema tersebut digunakan oleh penuturnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut syarat-syarat sebuah kata untuk bisa masuk dalam KBBI seperti yang dilansir menurut Badan Bahasa Kemendikbudristek RI.

1. Unik

Syarat kata masuk dalam KBBI – Unik

Sebuah kata untuk bisa diusulkan masuk di dalam KBBI haruslah unik. Maksudnya, kata yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing tersebut memiliki makna yang belum ada di dalam KBBI. Nantinya kata unik yang akan diusulkan bisa menutupi kerumpangan leksikal (lexical gap) atau kekosongan makna yang ada di dalam bahasa Indonesia.

Misalnya kata “barongko” di dalam KBBI edisi V, kata ini bermakna “Panganan kukus khas Bugis-Makassar, dibuat dari pisang yang sudah dihancurkan dicampur dengan tepung,  telur, dan gula pasir.” Lema ini dimasukkan agar maknanya bisa merujuk kepada panganan khas daerah Bugis-Makassar.

2. Eufonik

Syarat kata masuk dalam KBBI – Eufonik

Kata yang diusulkan hendaknya memiliki bunyi pelafalan yang sedap didengar. Dengan kata lain, mengandung bunyi yang lazim di dengar oleh telinga orang Indonesia atau sesuai dengan kaidah fonologi bahasa Indonesia.

Bayangkan misalnya, KBBI menyerap kata bahasa Arab dengan penggunaan qalqalah, tentunya hal ini akan menyulitkan penutur. Maksud dari syarat ini adalah agar penutur bahasa Indonesia dimudahkan dalam pelafalan kata.

Contoh lain misalnya, dalam bahasa Belanda akhiran -age diserap ke bahasa Indonesia menjadi -ase.

Percentage > Persentase.

3. Seturut Kaidah Bahasa Indonesia

Syarat kata masuk dalam KBBI – Seturut Kaidah Bahasa Indonesia

Kata yang hendak di masukkan dalam KBBI haruslah bisa direduksi dan membentuk penurunan kata sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata dasar tersebut haruslah bisa dijadikan imbuhkan ataupun dijadikan kalimat majemuk.

Misalnya kata struktuur (Belanda) > struktur > terstruktur > strukturisasi

4. Tidak Berkonotasi Negatif

Syarat kata masuk dalam KBBI – Tidak Berkonotasi Negatif

Jika terdapat beberapa kata yang memiliki makna yang sama hendak dimasukkan dalam KBBI. Kata yang memiliki makna positif akan lebih dipilih dibandingkan kata yang berkonotasi negatif. Hal tersebut dipertimbangkan karena kata yang berkonotasi negatif kemungkinan akan ditolak penggunaanya oleh kalangan pengguna tinggi.

5. Kerap Dipakai

Syarat kata masuk dalam KBBI – Kerap Dipakai

Tidaklah sebuah kata dimasukkan dalam KBBI apabila tidak ada orang yang menggunakannya. Indikasi dari kerapnya kata tersebut dipakai bisa diidentifikasi dengan menggunakan frekuensi (frequence) dan julat (range).

Frekuensi adalah indikator kekerapan sebuah kata dipakai dalam sebuah korpus atau kelompok masyarakat. Sedangkan julat mengukur persebaran kemunculan bahasa dalam beberapa wilayah.

Misalnya kata bobotoh yang jika dilihat frekuensi persebarannya yang tidak hanya meninggi, tetapi juga meluas ke beberapa daerah di Indonesia. Hal ini bisa dilihat melalui tools seperti google search atau google thrend.

Nah, menurut Dora Amalia, Kepala Bidang Pengembangan, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa, ia menjelaskan bahwa ada beberapa tahap yang harus dilalui oleh sebuah kata untuk masuk ke dalam KBBI. Pertama, kata tersebut harus diusulkan lalu diserahkan ke meja validator. Setelah memenuhi persyaratan, kata tersebut akan diperdebatkan oleh pakar dalam sebuah lokakarya yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa.

Latest articles