6 Metode Dakwah Sunan Kalijaga

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Wali Songo merupakan sekumpulan para ulama’ yang menyebarkan ajaran agama Islam khususnya di Pulau Jawa. Salah satu dari kesembilan wali tersebut ialah Raden Said atau Sunan Kalijaga.

Raden Said adalah putra dari pasangan Tumenggung Wilaktikta dan Dewi Nawangrum. Beliau merupakan murid dari Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Sunan Bonang.

Dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Kalijaga sering melakukan dakwah dengan cara akulturasi budaya antara budaya daerah setempat dengan ajaran Islam. Lalu, metode apa saja yang digunakannya dalam menyebarkan Islam? Simak ulasannya di bawah ini:

1. Wayang Kulit

Wayang kulit merupakan pertunjukan drama dengan menggunakan boneka yang terbuat dari kulit kerbau sebagai pemerannya dan digerakkan oleh seorang dalang. Kesenian tradisional jawa ini sudah ada sejak masa Hindu-Buddha.

Kesenian ini sudah sangat melekat dan terkenal di kalangan masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jawa. Dengan fakta tersebut, tentu Sunan Kalijaga memanfaatkan wayang sebagai alat dalam proses berdakwah di dalam masyarakat.

Raden Said berinisiatif mengadakan acara wayang bagi masyarakat, adapun persyaratannya bukan dengan memberikan sejumlah uang melainkan dibayar dengan membaca kalimat syahadat. Kemudian beliau memasukkan tokoh-tokoh pewayangan ternama sebut saja seperti kelompok Pandawa dan Kurawa, dan mengubahnya menjadi menjadi rukun Islam.

Misalnya, orang yang paling tua di kelompok Pandawa yakni Yudhistira oleh Sunan Kalijaga digambarkan sebagai dua kalimat syahadat. Dalam kisah yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga, Yudhistira enggan untuk berperang, maka ia diberi sebuah azimat yang bernama Kalimasada. Beberapa tahun berlalu — setelah Pandawa meninggal — ternyata azimat tersebut berbunyi “Saya bersaksi tidak ada Tuhans selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Adapun para Pandawa lain, sebut saja Bima digambarkan sebagai Salat. Dengan badannya yang kekar, perkasa, kokoh disamakan dengan Salat yang merupakan tiang agama, tanpa melakukan ibadah ini maka agama seseorang akan runtuh. Sedangkan Arjuna dianalogikan sebagai Puasa — terutama Ramadhan — hal tersebut dikarenakan kesatria yang pandai memanah ini sangat suka bertapa. Adapun si kembar Nakula dan Sadewa digambarkan sebagai zakat dan haji.

2. Serat Dewa Ruci

Serat Dewa Ruci merupakan salah satu cerita yang ada dalam pewayangan, mengisahkan seorang Wrekodara (Bima) yang melakukan pengembaraan spiritual untuk mencari kesempurnaan hidup. Ia dapat menemukan guru sejatinya yaitu Dewa Ruci. Dalam perjalanan tersebut, orang yang terkenal dengan senjata Gada Rujakpala-nya ini sedang melakukan intropeksi diri agar dapat bersatu dengan-Nya.

Kisah ini dapat digolongkan sebagai metode dakwah. Hal tersebut dikarenakan dengan serat Dewa Ruci sebagai kisah perjalanan Wrekodara untuk mendekatkan diri kepada sang maha pencipta (Allah SWT). Kisah ini dapat memberikan contoh untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa.

3. Suluk Linglung

Suluk Linglung merupakan karya sastra yang memuat beragam pengetahuan serta nasehat yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Karya ini ditulis oleh Iman Anom, seorang pujangga Surakarta yang masih memiliki garis keturunan dengan beliau.

“Kanugrahane Hyang Widhi/ambawani kasubdibyan pangawasane pan dene/kadigdayan kaprawiran/sakabeh rehing yuda (anugerah Allah, meliputi dan menimbulkan keluhuran budi, adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan kekuatan luar biasa dan keberanian, serta meliputi segala ujian hidup.

Adapun nilai yang dapat diambil dari Suluk Linglung adalah sebuah kisah perjalanan spiritual Sunan Kalijaga demi mencapai kesucian hati untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

4. Lagu Lir-ilir

Sunan Kalijaga juga berdakwah dengan menciptakan sebuah lagu Bahasa Jawa yang berjudul “Lir-ilir”. “Lir-ilir” berasal dari kata ngelilir yang berarti bangunlah atau sadarlah. Pesan yang disampaikan pada lagu ini adalah membangun spirit untuk terhindar dari keterpurukan.

a. Lir ilir, lir ilir; Tandure wis sumilir; Tak ijo royo-royo; Tak senggo temanten anyar. “Bangkitlah, bangkitlah; Pohon sudah mulai bersemi; Bagaikan warna hijau yang menyejukkan; Bagaikan sepasang pengantin baru”.

Maknanya adalah diri kita digambarkan sebagai sebuah tumbuhan yang hijau dan mulai berbunga pada mulanya. Namun hal tersebut tergantung pada diri sendiri, apakah mau bermalas-malasan dan membiarkan iman kita luntur atau bangkit dan berusaha menumbuhkan iman (tanaman) hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan di musim panen seperti kebahagiaan pengantin baru.

b. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi; Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro. “Wahai anak gembala, Wahai anak gembala tolong panjatkan pohon blimbing itu; Walaupun licin (susah) tetaplah memanjatnya untuk mencuci pakaian yang kotor itu”.

Disini disebutkan “Cah angon” yang berarti anak gembala bukan anak raja, anak pejabatan, anak patih ataupun jabatan yang terpandang lainnya. Hal tersebut karena anak gembala dianalogikan sebagai sosok pemimpin yang mengantarkan hewan gembalanya (makmum/pengikut) ke dalam jalan yang benar.

Kemudian, si anak gembala diperintahkan untuk memanjat belimbing meski licin (sulit) — buah belimbing memiliki 5 sisi yang berbentuk bintang — digambarkan sebagai 5 rukun Islam. Adapun yang dimaksud pakaian disini adalah iman, jadi iman harus selalu dalam keadaan bersih.

c. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir; Dondomono jlumatonok kanggo sebo mengko sore; Mumpung padhang rembulane; Mumpung jembar kalangane; Yo surako Surak iyo. “Pakaian Pakaianmu telah rusak dan robek; Jahitlah perbaikilah untuk bekalan nanti sore; Selagi rambulan masih purnama ; Selagi tempat masih luang dan lapang; Berserahlah dengan rasa syukur”.

Bagian ini merupakan penjelasan lanjutan dari bagian yang atas, yakni untuk selalu membersihkan pakaian (iman), sebagai menusia biasa pasti akan terkoyak dan berlubang di mana-mana, oleh sebab itu perlu dibenahi dan diperbaiki untuk kelak ketika dipanggil oleh Allah SWT sudah membawa bekal ke akhirat.

5. Kidung Rumekso Ing Wengi

Kidung Rumekso Ing Wengi adalah sebuah panjatan doa yang bertujuan untuk memohon perlindungan dari segala malapetaka baik itu penyakit, kejahatan, sihir serta musibah-musibah lainnya.

Adapun hal yang melatarbelakangi Raden Said untuk membuat kidung ini adalah untuk menjembatani hal-hal yang berbau mistis. Saat awal-awal Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam, banyak orang yang tidak suka dan berusaha mencelakainya berupa sihir, santet ataupun ilmu hitam.

Kidung ini mempunyai 45 bait tembang yang bermetrum dandhanggula, namun bait yang paling populer dan sering dinyanyikan oleh orang jawa adalah bait pertama hingga bait kelima serta ada juga yang menyanyikannya sampai bait kedelapan.

6. Lagu Gundul-gundul pacul

Lagu ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga sekitar tahun 1400-an sewaktu masih muda bersama teman-temannya. Lagu “Gundul-Gundul Pacul” merupakan sebuah nyanyian berbahasa jawa yang memiliki makna yang sangat mulia.
a. Gundul-gundul pacul-cul gembelengan

Gundul” merupakan kepala pelonthos tanpa rambut. Kepala diartikan sebagai sebuah lambang kemuliaan seseorang, sedangkan rambut ialah mahkota lambang keindahan dari kepala. Jadi, Gundul diartikan sebagai sebuah lambang kehormatan yang tidak memiliki mahkota.

Sedangkan pacul merupakan peralatan pertanian yang sering digunakan oleh rakyat jelata. Pacul juga melambangkan “Papat Kang Ucul” 4 yang lepas, maksudnya adalah kemuliaan seseorang tergantung bagaimana menggunakan hidung, telinga, mata, dan mulutnya dengan baik. Jika tidak mempergunakannya dengan baik maka akan menjadi “Gembelengan” yakni sombong.

b. Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan

Terjemahan dari kata ini adalah membawa bakul di atas kepala, hal ini bermakna bahwa seorang pemimpin sedang membawa amanah dari rakyat/masyarakat. Namun, setelah membawanya ternyata pemimpin tersebut besar kepala (gembelengan).

c. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar berarti nasinya jadi sehalaman, maksud dari kata ini adalah jika pemimpin yang sedang membawa amanah rakyat menjadi sombong, maka pemerintahannya akan menjadi sia-sia dan gagal mensejahterakan rakyat.

Jadi isi keseluruhan dari lagu ini adalah sindiran kepada pemimpin agar selalu bertanggungjawab dalam memegang amanah rakyat dan tidak menjadi gembelengan (sombong) dalam melaksanakan tugas.

7. Grebeg Maulud

Sebutan Grebeg berasal dari kata Gumrebeg yang berarti “ramai” dan maknanya pun diperluas menjadi “keramaian” atau “perayaan”. Jadi, Grebeg Maulud merupakan tradisi untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW secara beramai-ramai , puncaknya adalah saling berebut gunungan besar yang isinya makanan dan hasil bumi.

Grebeg Maulud diprakarsai oleh Sunan Kalijaga dilatarbelakangi sepinya pengunjung pengajian akbar oleh para wali di depan Masjid Demak. Sadar akan hal itu, maka Raden Said berinisiatif menambahkan tradisi jawa ke dalamnya untuk menarik minat masyarakat.

Tradisi ini berkembang di lingkungan keraton serta eksis hingga sekarang, selain Grebeg Maulud juga terdapat tradisi serupa, seperti Grebeg Syawal untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri dan Grebeg Besar untuk Hari Raya Idul Adha.

————————————————–

Referensi:

——

[1] Oktaviani, W. (2020). Model Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Menyebarkan Islam di Indonesia. Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah

Institut Agama Islam Negeri Islam (IAIN) Metro tahun 1441 H/2020 M.

[2] Sakdullah, M. 2014. Kidung Rumeksa Ing Wengu Karya Sunan Kalijaga Dalam Kajian Teologis. 25(2), 3-6.

[3] Prass, Ary B. 2017. “Matahari Jingga Lagukan Suluk Linglung Sunan Kalijaga”. Diakses dari krjogja,com/hiburan/musik/matahari-jingga-lagukan-suluk-linglung-sunan-kalijaga/. Diakses pada 5 Juli 2021.

[4] Amalia, Ana. 2016. “Makna Mendalam di Balik Lagu ‘Lir-ilir'”. Diakses dari merahputih,com/post/read/makna-mendalam-di-balik-lagu-lir-ilir. Diakse pada 5 Juli 2021.

[5] N.N. 2013. “Warisan Sunan Kalijaga Dalam Nyanyian”. Diakses dari bkd,jogjaprov,go,id/informasi-publik/artikel/warisan-sunan-kalijaga-dalam-nyanyian. Diakses pada 6 Juli 2021.

[6] Utami, Silmi Nurul. 2021. “Makna Lagu Gundul-Gundul Pacul, Nasihat bagi Penguasa”. Diakses dari kompas,com/skola/read/2021/03/07/104000369/makna-lagu-gundul-gundul-pacul-nasihat-bagi-penguasa. Diakses pada 6 Juli 2021

[7] Raditya, Iswara N. 2018. “Grebeg Maulud dan Cara Syiar Islam Para Wali”. Diakses dari tirto,id/grebeg-maulud-dan-cara-syiar-islam-para-wali-daix. Diakses pada 6 Juli 2021.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles