ENSIPEDIA.ID, BOGOR – Bagi setiap individu, perasaan sedih merupakan hal yang wajar dan tak luput dari bagaimana kerasnya kehidupan yang sedang dijalani. Tidak menutup kemungkinan juga kalau perasaan sedih yang dialami adalah hal yang membuat individu menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Ada berbagai macam penyebab kesedihan yang dialami setiap individu. Bukan tidak mungkin kita juga dapat melewatinya dengan begitu mudah. Salah satu film dari Disney yang gue tonton beberapa waktu lalu mengubah paradigma gue mengenai pengendalian/kontrol diri dalam EQ seseorang. Judul filmnya Cruella, dengan tokoh utamanya adalah sosok Gwen Stacy dari Spider-verse, Emma Stone.

Pada tahun 1969, sebuah buku berjudul On the Death and Dying yang ditulis oleh Dr. Elisabeth Kubler-Ross, seorang alumnus dari Universitas Zurich (1957) yang merupakan psikiater sekaligus penulis buku terobosan, menjelaskan lima tahap kesedihan atau the five stages of grief yang lebih dikenal dengan model Kubler-Ross. Model ini dikemukakan dan diperkenalkan dalam ilmu kedokteran khususnya pada bidang studi psikologi.

Baca juga: Antibiotik: Selamatkan Jutaan Nyawa dan Resistensi Bakteri yang Diakibatkannya

1. Denial (Penolakan/Penyangkalan)

Ilustrasi Tahap Denial (bisnis)

Tahap pertama bagi setiap individu yang baru saja mengalami sesuatu yang membuatnya merasa terpuruk. Tahap ini merupakan reaksi/respon diri terhadap sesuatu yang di luar dugaan mereka, sehingga mereka tidak begitu mempercayai apa pun yang telah terjadi di hadapan mereka.

Co: “Ah, kalem aja, gue baik-baik aja, kok.

2. Anger (Kemarahan)

Ilustrasi Tahap Anger (liputan6)

Setelah tahap menolak sedih, besar kemungkinan mereka akan melampiaskan kesedihannya dalam bentuk amarah. Hal ini memang nyata adanya, bukan lagi karena masih meratapi peristiwa, melainkan sedang mencoba beradaptasi dengan memaksakan perubahan. Alih-alih meredam amarah, biasanya mereka akan mulai menyalahkan dan membenci seseorang atas keterpurukannya tersebut.

Co: “Ini semua gara-gara lo.

3. Bergaining (Penawaran)

Ilustrasi Tahap Bergaining (giwangkara)

Sebagai bentuk relaksasi diri, mereka mulai berandai-andai dengan berbagai kemungkinan yang seharusnya dilakukan sebelum keterpurukan menimpanya. Pada tahap ini, mereka menyadari secara detail bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sia-sia dan menerimanya sebagai bentuk penyesalan diri.

Co: “Coba saja sedari dulu gue jaga baik-baik diri gue, pasti gak bakal jadi seperti sekarang.”

4. Depresi

Ilustrasi Tahap Depresi (acehtrend)

Di tahap ini, mereka sedang berusaha sekuat-kuatnya menerima kenyataan. Depresi yang dialami bukanlah bentuk gangguan psikologis, melainkan bagaimana cara mereka bisa keluar dari keterpurukan tersebut. Bagi individu yang berada pada tahap ini, mereka membutuhkan waktu kesendiriannya untuk merenungi banyak hal termasuk persiapan mereka ke depan dan menjadi sebuah decision (keputusan) mereka di tahap berikutnya.

5. Acceptance (Penerimaan)

Ilustrasi Acceptence (spunout)

Tahap akhir dari segala macam penyebab kesedihan. Di tahap ini, mereka menyadari bahwa tidak melulu harus berada dalam kesedihannya. Mereka perlu melalui dan belajar dari apa pun yang telah dilewatinya.

Namun, perlu diketahui juga, penerimaan tidak selalu menjadi tahap yang membahagiakan atau membangkitkan semangat. Besar kemungkinan tidak semua dari mereka berhasil menjadi pribadi yang sama persis dengan sebelumnya. Itu pun tergantung apa yang mereka alami.

So, sebagai makhluk sosial, ada kalanya kita sesekali membahagiakan diri kita, tidak lain untuk sedikit menguatkan dan mempersiapkan apa pun yang di luar kendali kita. Buatlah momentum agar kita tahu bahwa kebebasan itu ada dan merupakan hak kita untuk memilikinya.