Tren Nama Anak yang Semakin ke Sini Semakin ‘Ribet’, Apa Alasannya?

ENSIPEDIA.ID, Kendari –Apalah arti sebuah nama,” tulis Shakespeare dalam roman terkenalnya bertajuk Romeo dan Juliet. Namun, bagi sebagian orang nama adalah perwujudan bahkan pencerminan dari identitas seseorang. Nama juga dipercayai sebagai doa agar sang anak bisa tumbuh menjadi kebanggaan orang tuanya.

Maka dari itu, orang tua saat ini berlomba-lomba memberikan nama kepada anaknya dengan bahasa-bahasa indah nan sastrawi. Nama-nama yang diserap dari penggabungan pelbagai bahasa. Kecenderungan ini membawa pada suatu tren yang menjadikan nama-nama anak saat ini terkesan “ribet”.

Ribet di sini bisa diartikan sebagai nama yang sulit diucapkan karena bersumber dari bahasa yang asing didengar; nama yang terlampau panjang; atau nama dengan kombinasi huruf (ejaan) yang beda dari yang lain.

Bandingkan nama-nama orang yang lahir di bawah tahun 2000-an dan yang lahir di atas tahun 2000-an. Sebelum tahun 2000-an kita akan menjumpai nama-nama, seperti Agus, Sutisna, Ayu, Rusdi, dll. Kebanyakan dari mereka juga memiliki nama hanya dengan 2 kata. Sekarang coba lihat nama-nama anak yang lahir setelah tahun 2000. Kita bisa melihat nama-nama peserta Junior Master Chef Indonesia season 3 yang notabene masih di bawah usia 13 tahun. Ada Louisa Candice Cristiara Mayrilli Mayson, Regan Araazzaq Hamdani, Quanesha Elsye Maria Tamaela, Darell Nathaniel Wu, Skolastika Akshita Reine Ishana, Gaudio Zephanya Kusbiantoro. Bagaimana? Lidahnya tidak belibet? Boleh lah kita sebut nama-nama di atas sebagai nama yang unik.

Seperti pembuka di atas, kecenderungan orang tua di Indonesia memberikan nama yang unik ialah sebagai doa untuk anaknya. Tak ada orang tua yang ingin memberikan nama negatif kepada anak sendiri. Namun, apa alasan lain pemberian nama yang unik-unik tersebut?

Menurut Nurhayati, seorang ahli linguistik dari Universitas Diponegoro, yang dikutio melalui The Conversation Indonesia, pemberian nama yang terkesan unik tersebut bertujuan untuk membuat kesan sosial baru yang lebih bersifat global. Dengan adanya nama-nama dari berbagai bahasa, mereka seakan ingin membaurkan identitas kedaerahan menjadi identitas yang lebih universal.

Menurut penelitian Nurhayati, nama sangat berperan sebagai alat yang dapat digunakan untuk mengubah status sosial seseorang. Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa asing, nama yang panjang, atau kosakata bermakna sangat dekat kaitannya dengan status sosial yang lebih tinggi. Maka dari itu, orang tua berharap anak-anak mereka bisa tumbuh di kelas sosial yang lebih tinggi pula.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Teguh Setiawa seorang Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNY, menemukan bahwa ada perubahan tren yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam pemberian nama anak dalam kurun waktu 2000-2020. Terdapat dua tren utama, yaitu: Pertama, sudah jarang sekali nama-nama yang berasal dari kosakata Jawa, melainkan nama-nama tersebut kebanyakan berasal dari bahasa Inggris dan Arab.

Kedua, rangkaian kata juga secara kuantitatif sudah berubah. Yang semula hanya terdiri dari satu kata berubah menjadi nama-nama yang terdiri dari 3 kata atau lebih.

Menurut Teguh, alasan pemberian nama unik tersebut berhubungan dengan wawasan dan pengetahuan orang tua. Kosakata nama yang cenderung rumit digunakan sebagai metode agar nama anak mereka menjadi unik dan terkesan modern.

Latest articles