Tragedi-tragedi Kelam Sepakbola yang Memakan Banyak Korban Jiwa di Stadion, Kanjuruhan Nomor 3

ENSIPEDIA.ID, Jember – Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022) malam WIB menjadi hari yang kelam bagi persepakbolaan Indonesia. Pertandingan sepakbola yang seharusnya menjadi tempat menjadi hiburan dan kesenangan berubah menjadi tempat tangis dan kesedihan.

Selain Indonesia, sepakbola dunia juga berduka atas tragedi ini. Ucapan-ucapan belasungkawa dari klub, pemain, pelatih, dan mantan pemain terus berdatangan. Bahkan, presiden FIFA saat ini juga ikut sedih dan kecewa atas kejadian ini.

Tragedi kerusuhan suporter dalam sepakbola yang memakan banyak korban jiwa tidak hanya terjadi kali ini saja. Banyak tragedi-tragedi lain yang tak kalah miris, bahkan pernah mencapai 328 korban jiwa. Lantas, kerusuhan-kerusuhan suporter apa saja yang memakan korban jiwa? Simak penjelasannya di bawah ini.

12 Maret 1988 di Nepal

Pada waktu itu sekitar 30 ribu orang menonton pertandingan antara tim tuan rumah Nepal, Janakpur melawan Muktijoddha dari Bangladesh. Secara tiba-tiba badai mendekat dengan cepat dan batu es mulai menghujani para penonton.

Para penggemar akhirnya panik dan berusaha bergegas menuju pintu keluar. Namun, pintu keluar terkunci sebagai bentuk antisipasi penyelenggara pertandingan terkait penonton tanpa tiket memasuki stadion.

Ribuan suporter terus mendorong pintu gerbang agar terbuka sehingga menyebabkan tumpukan manusia di pintu keluar stadion. Dampak dari desak-desakan tersebut membuat suporter kesulitan bernapas sehingga mengakibatkan banyak korban jiwa.

Dari kejadian ini, terhitung memakan 93 korban jiwa dan 100 orang lainnya terluka. Mirisnya lagi, pemerintah Nepal tidak memberikan kompensasi kepada keluarga korban karena menurut mereka bahwa para suporter berada di stadion adalah pilihannya sendiri dan pemerintah tidak berperan dalam bencana ini.

Tragedi Hillsborough 1989

Pada 15 April 1989 sekitar 15.000 suporter berangkat lebih awal dari kota Liverpool menuju Stadion Hiilsbrough, Sheffield untuk menonton tim kesayangannya yang menjalani laga semifinal Piala FA melawan Nottingham Forest.

suporter Nottingham Forest ditempatkan di Spions Kop, sisi utara dan timur dengan kapasitas 29,800. Sedangkan suporter Liverpool ditempatkan di Leppings Lane, tribun selatan dan barat, dengan kapasitas 24,256. Namun, kuota yang telah diberikan tersebut tidak mampu menampung banyaknya suporter Liverpool sehingga membuat 5.000 suporter tertahan di luar stadion.

Meskipun tidak mendapatkan tiket, mereka tetap memaksa masuk. Situasi ini mengharuskan pihak keamanan mengambil keputusan cepat, mengusir mereka atau membukakan pintu gerbang. Pada akhirnya kepolisian membukakan gerbang dan mempersilahkan para suporter yang ada di luar untuk masuk.

Karena kejadian inilah yang menjadi penyebab utama tragedi Hillsborough. Saat para suporter yang ada di luar stadion masuk, membuat suporter lain yang sudah ada di dalam harus tertekan dan membuat pagar pembatas jebol

Alhasil, para pendukung Liverpool yang ada di luar terinjak dan tertindih oleh suporter lain. Terhitung ada 96 orang meninggal dunia dan 776 orang mengalami luka dengan 300 diantaranya sempat dilarikan ke rumah sakit.

Tragedi Kanjuruhan 2022

Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang menempati urutan ketiga sebagai tragedi sepakbola di dalam stadion dengan jumlah korban terbanyak. Berdasarkan keterangan dari kepolisian, terhitung 125 korban jiwa, 21 orang mengalami luka berat, dan 304 orang mengalami luka ringan.

Kerusuhan terjadi setelah pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya yang dimenangkan oleh The Green Force dengan skor 3-2. Para penonton yang tidak puas dengan hasil tersebut merangsek ke lapangan pertandingan. Menanggapi situasi yang kurang kondusif, maka aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata.

Beberapa korban diakibatkan oleh gas air mata, sedangkan sisanya diakibatkan oleh berdesakannya suporter di pintu keluar setelah terjadi kericuhan suporter dan terdapat tembakan gas air mata oleh pihak kepolisian.

Tragedi Accra Sports Stadium 2001

Pada 9 Mei 2001, terjadi pertandingan yang mempertemukan dua tim tersukses di Ghana, yaitu Accra Hearts of Oak (The Phobians) Sporting Club dan Asante Kotoko (Porcupine Warriors).

Awalnya Kotoko unggul dengan skor 1-0, tetapi berhasil disamakan dan justru berbalik unggul oleh Accra di ujung pertandingan dengan skor akhir 1-2. Suporter yang kecewa atas hasil tersebut kemudian melampiaskan kekecewaannya dengan melemparkan kursi dan botol ke dalam lapangan.

Polisi yang berusaha meredamkan situasi tersebut menembakkan gas air mata dan peluru plastik ke arah massa. Hal tersebut membuat panik penonton dan berhamburan keluar dan membuat beberapa suporter sesak napas dan meninggal sebanyak 116 orang dan 10 orang lainnya meninggal akibat trauma

Tragedi Estadio Nacional 1964

24 Mei 1964 terjadi pertandingan kualifikasi turnamen sepakbola Olimpiade Tokyo di Estadio Naciona yang mempertemukan Timnas Peru dan Timnas Argentina. Kejadian bermula ketika Timnas Argentina unggul 1-0 atas Peru. Tuan rumah kemudian menyamakan kedudukan , tetapi gol tersebut dianulir oleh wasit asal Uruguay, Angel Eduardo Pazos.

Kejadian tersebut memicu kemarahan dari suporter Peru dan membuat mereka turun ke dalam lapangan. Polisi kemudian membalasnya dengan menembakkan gas air mata ke kerumunan untuk mencegah lebih banyak massa yang turun ke lapangan.

Penonton yang panik kemudian menuju pintu keluar dengan menuruni tangga. Hal tersebut membuat beberapa orang mengalami pendarahan dan sesak napas akibat berdesak-desakan saat berusaha keluar stadion. Semua yang meninggal terbunuh di tangga hingga ke permukaan jalan, sebagian besar karena pendarahan internal atau asfiksia.

Jumlah korban tewas resmi adalah 328, tetapi ini mungkin terlalu rendah karena kematian akibat tembakan tidak dihitung dalam perkiraan resmi.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles