Soal Hak Cipta, Gojek Digugat Rp24, 9 T! Bagaimana Responnya?

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Baru-baru ini, muncul kabar yang mengatakan bahwa Gojek digugat oleh seseorang atas dasar pelanggaran hak cipta. Sebelum membahas kasus tersebut, alangkah baiknya jika kita mengetahui lebih dahulu sedikit tentang Gojek.

 Apa Itu Gojek?

Logo Gojek

Dilansir dari Wikipedia, Gojek merupakan sebuah perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2010 di Jakarta oleh Nadiem Makarim, yaitu sosok yang kini menjabat sebagai menteri pendidikan Indonesia.

Gojek memberikan kemudahan pada pelanggannya untuk dapat memesan melalui perangkat yang terhubung dengan internet, dengan begitu pelanggan tidak perlu berjalan ke pangkalan ojek, karena nantinya tukang ojek lah yang akan menghampiri.

Hingga kini, layanan Gojek telah tersedia di lebih dari 50 kota di Indonesia. Gojek juga menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang mencapai tingkat unicorn. Lebih tinggi lagi, pada 2019 lalu Gojek berhasil menyandang gelar decacorn, yaitu sebuah startup yang mempunyai nilai valuasi sebesar $10 Miliar, wow!

Digugat dengan Tuduhan Pelanggaran Hak Cipta 

Ilustrasi gugatan | Pixabay

Hasan Azhari atau Arman Chasan, adalah seorang pria yang berasal dari Jakarta. Hasan mengaku jika dirinya adalah orang yang pertama kali menemukan konsep ojek online dan pernah memasarkan jasa tersebut melalui situs blog pada 2008 silam.

Hasan berani menggugat Gojek karena ia merasa bahwa konsep ojek online yang dimilikinya lebih dulu mendapatkan hak cipta, yaitu pada 2008 sedangkan Gojek baru dibentuk pada 2010.

Chief of Corporate Affairs Gojek Nila Marita menyebutkan bahwa hingga saat ini perusahaan (Gojek) belum menerima gugatan dari pihak pengadilan. Ia melanjutkan, gugatan yang dilayangkan oleh Hasan disebut tidaklah berdasar.

“Kami melihat bahwa klaim (Hasan) tersebut tidak berdasar. Gojek telah menjalankan bisnis sesuai dengan hukum yang berlaku,” ucap Nila seperti yang dikutip dari Katadata.co.id.

Berdasarkan surat gugatan dengan nomor 86/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2021/PN Niaga Jkt.Pst, Hasan menyatakan bahwa Gojek dan Nadiem melanggar undang-undang hak cipta dan menggugat mereka dengan membayar ganti rugi sebesar Rp10 miliar serta harus membayar royalti sebanyak Rp24,9 triliun.

Rochmani, selaku kuasa hukum penggugat menuturkan kliennya lah yang telah menciptakan pertama kali konsep bisnis ojek online sejak 2008 silam.

“Klien kami pun punya sertifikat hak cipta yang diumumkan pada Desember 2008. Telah dilindungi oleh pemerintah hak ciptanya,” ujarnya dalam sesi wawancara di channel YouTube Hersubeno Point.

Hasan mengembangkan bisnis miliknya melalui blogspot dan melayani rute Bintaro, Jakarta, serta di wilayah sekitarnya. Mirip dengan metode yang saat ini digunakan oleh Gojek, pelanggan yang membutuhkan layanan transportasi harus berkontak kabar/menghubungi penyedia jasa terlebih dahulu secara online dan menyepakati harga di sana.

 

 

 

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles