Selamat Tinggal Tes Mata Pelajaran! Era Baru Seleksi Masuk PTN, Simak Perubahannya

ENSIPEDIA. ID, KENDAL – Seperti yang kita ketahui ada beberapa jalur seleksi yang dapat dilalui untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), seperti SNMPTN, SBMPTN dan Mandiri. Masing-masing jalur mempunyai syarat dan ketentuan yang berbeda-beda.

Nah, dari tahun ke tahun akan selalu ada evaluasi dan penyesuaian yang dilakukan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) dan Kementerian Pendidikan, seperti halnya di tahun 2023 mendatang.

Mulai tahun depan, Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim akan merombak sistem seleksi masuk perguruan tinggi. Di antaranya yaitu menghapus tes mata pelajaran di jalur SBMPTN, penilaian seluruh mapel di SNMPTN, dan transparansi jalur Mandiri.

SBMPTN: Bye-bye Tes Mata Pelajaran! 

Nadiem Makarim memberikan kabar gembira bagi pelajar yang nantinya akan mendaftar PTN melalui jalur SBM. Pasalnya, salah satu tes yang dinilai sulit oleh pendaftar mulai tahun depan akan dihapus.

“Tidak ada lagi tes mata pelajaran. Tes akan diganti dan disederhanakan. Saya berharap ini menjadi kabar gembira untuk kita semua, siswa maupun guru,” ujarnya dalam webinar Merdeka Belajar mengenai Transformasi Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang diikuti Tempo pada Rabu, 7 September 2022.

Di tahun sebelumnya, jalur SBMPTN mengujikan mapel-mapel tertentu seperti Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi dll. Hal ini membuat siswa harus menghafal ekstra sekaligus membebankan para guru karena harus mengejar ketertinggalan materi sedari pandemi.

Tes mata pelajaran juga menciptakan kesenjangan antara siswa dari keluarga menengah ke bawah yang tak mampu mengikuti bimbingan belajar layaknya siswa yang berekonomi atas.

Nadiem mengatakan, seleksi SBMPTN akan lebih berfokus pada pengukuran kemampuan nalar dan pemecahan masalah melalui tes skolastik. “Kali ini berbeda. Dalam seleksi ini, tidak ada lagi tes mata pelajaran, tetapi hanya tes skolastik,” ujarnya.

Tes skolastik ini menguji empat hal, yaitu potensi kognitif, penalaran Matematika, literasi Bahasa Indonesia dan literasi Bahasa Inggris.

“Soal pada seleksi ini akan menitikberatkan kemampuan penalaran peserta didik, bukan hafalan,” kata Nadiem.

Seluruh Mapel Punya Bobot di SNMPTN 

Tak hanya SBM, SNM juga akan mengalami perubahan untuk tahun depan. Awalnya, hanya mapel tertentu saja yang diberi nilai bobot, tapi kini seluruh mapel juga mempunyai pengaruh yang sama. Hal ini bertujuan agar para siswa tekun pada seluruh mata pelajaran, tidak hanya mapel tertentu.

Pemeringkatan pada jalur ini didasari 50 persen rata-rata nilai rapor seluruh mata pelajaran dan 50 persen komponen minat-bakat.

“Nantinya peserta didik diharapkan agar menyadari bahwa semua mata pelajaran adalah penting dan agar mereka membangun prestasinya sesuai minat dan bakat,” kata Nadiem.

Nantinya, tak akan ada lagi pembeda jurusan IPA atau IPS. Menurut Nadiem, pemisahan itu dilakukan agar seluruh siswa punya kesempatan yang sama.

“Untuk sukses di masa depan peserta didik perlu memiliki kompetensi yang holistik dan lintas disipliner. Contohnya, seorang pengacara harus punya ilmu dasar tentang hukum, tetapi juga harus memiliki ilmu komunikasi yang jadi pembeda,” ujar Mendikbudristek.

Transparansi Jalur Seleksi Mandiri

Seleksi mandiri memang dikelola sendiri oleh perguruan tinggi negeri, tetapi tetap terpaut oleh peraturan dari pemerintah. Pemerintah menuntut beberapa hal kepada PTN terkait perubahan di jalur mandiri.

Pertama, PTN diwajibkan mengumumkan jumlah calon mahasiswa di tiap fakultas dan program studi sebelum seleksi mandiri di gelar. Kedua, PTN juga harus mengumumkan metode penilaian dalam tes mandiri. Ketiga, PTN pun diminta menunjukkan besaran biaya yang dibebankan kepada calon mahasiswa yang lolos seleksi sekaligus cara penetapan biaya.

“Sesudah pelaksanaan seleksi secara mandiri PTN diwajibkan mengumumkan beberapa hal, antara lain jumlah peserta seleksi yang lulus seleksi dan sisa kuota yang belum terisi,” kata Nadiem.

Adapun calon mahasiswa diberi waktu lima hari sebagai masa sanggah setelah pengumuman hasil seleksi, serta tata cara penyanggahan hasil seleksi.

Kini, masyarakat juga bisa turut aktif memantau berjalannya proses seleksi sehingga seleksi secara mandiri dapat terlaksana secara transparan dan adil. Menurut Nadiem, hal ini bertujuan agar seleksi mandiri benar-benar berdasarkan seleksi akademis dan bukan komersial.

“Apabila memiliki bukti permulaan atas pelanggaran peraturan dalam proses seleksi, calon mahasiswa atau masyarakat dapat melaporkan melalui kanal pelaporan whistleblowing system Inspektorat Jenderal Kemendikbudristek pada laman https://wbs.kemdikbud.go.id atau https://kemdikbud.lapor.go.id,” imbau Nadiem.

Hilmi Harsaputra
Menyukai bidang sosial-hukum, sosial-budaya, geografi, dan astronomi.

Latest articles