Sentinel Utara, Pulau Berbahaya yang Tidak Boleh Dikunjungi

ENSIPEDIA.ID, Jember – Saat ini pemerintah India telah melarang adanya ekspedisi ke salah satu pulau yang dimilikinya, yakni Sentinel Utara. Hal tersebut terjadi karena orang yang menempati pulau tersebut tidak ramah terhadap orang asing. Mereka akan melontarkan panah kepada siapapun yang datang ke Pulau Sentinel Utara.

Salah satu korban dari keganasan Suku Sentinel Utara adalah misionaris Amerika Serikat, John Allen Chau. Chau ditemukan tewas pada 17 November 2018 setelah nelayan yang mengantarkannya ke pulau tersebut melihat jasadnya diseret disepanjang pantai dan dikubur oleh orang-orang Sentinel Utara.

Lantas, mengapa suku Sentinel Utara tidak ramah terhadap orang asing? Apakah ada orang asing yang mampu bersosialisasi dengan suku tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini.

Alasan Suku Sentinel Utara Tidak Ramah Terhadap Orang Asing

Pada 1880-an, ketika India dijajah oleh Inggris, Maurice Vidal Portman, perwira Inggris yang bertanggung jawab atas Kepulauan beserta pasukannya masuk ke Pulau Sentinel Utara dan menculik sepasang suami istri beserta anak-anaknya ke Port Blair, ibukota dari Kepulauan Andaman.

Menurut Portman, tujuan dibawanya satu keluarga tersebut ke ibukota Kepulauan Andaman adalah untuk meneliti orang-orang Sentinel Utara. Namun, sebelum diteliti, suami dan istri dari suku Sentinel Utara tersebut jatuh sakit dan meninggal dunia. Adapun anak-anak mereka diketahui terjangkit penyakit. Namun, bukannya diobati, anak-anak tersebut dikembalikan ke Pulau Sentinel Utara.

Berdasarkan cerita sejarah tersebut, banyak orang yang berpendapat bahwa itulah alasan mengapa orang-orang Sentinel Utara tidak bersahabat dengan orang luar. Mereka pun tidak akan segan-segan untuk melontarkan anak panah mereka agar orang asing itu pergi.

Orang Asing yang Mampu Menjalin Kontak dengan Suku Sentinel Utara

Pada 4 Januari 1991, tim ekspedisi dari India berhasil melakukan kontak dengan suku yang paling tertutup itu, Triloknath Pandit, seorang Antropolog terkemuka India bersama rekan-rekannya mendekati Pulau Sentinel Utara sambil membawa beberapa hasil bumi.

Dalam sebuah wawancara setelah ekspedisi berakhir, Pandit berujar: “Mereka secara sukarela maju untuk menemui kami, dan itu tidak bisa dipercaya. Mereka harus mengambil keputusan bahwa waktunya telah tiba. Itu tidak mungkin terjadi secara mendadak.”

“Ada perasaan sedih juga, saya merasakannya. Dan muncul perasaan bahwa pada skala yang lebih besar dari sejarah manusia, orang-orang ini yang bertahan dengan caranya sendiri, pada akhirnya harus menyerah. Ini seperti suatu era dalam sejarah hilang,” ujarnya.

“Dengan perasaan was-was, mereka masuk ke air pantai, berjalan pelan untuk mengambil barang-barang yang kami lemparkan. Kami semua terus menunjukkan wajah antusias, dan beberapa tim saya mencoba mencairkan suasana dengan menari-nari dan bergumam tidak jelas. Mereka tampaknya tertarik. Panah mereka diturunkan, tidak lagi mengarah pada kami,” ceritanya.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles