Sejarah Resimen Mahasiswa (Menwa), Asuhan Militer di Kampus Sipil

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Beberapa waktu lalu, Resimen Mahasiswa atau disingkat Menwa menjadi sorotan publik. Pasalnya, dalam kegiatan yang diselenggarakan unit kegiatan tersebut memakan korban jiwa. Kasus kematian seorang mahasiswa bernama Gilang, mahasiswa yang mengikuti Diklatsar Menwa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terkuak setelah keluarga korban melaporkannya ke polisi.

Tak lama setelah wafatnya Gilang, kasus lain pun bermunculan. Seorang mahasiswi bernama Fauiziah Nabila, Mahasiswi D3 Fisioterapi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta tewas setelah kelelahan mengikuti pembaretan Menwa UPNV Jakarta.

Lalu, bagaiman sejarah kegiatan militer tersebut masuk di kampus-kampus sipil?

Resimen Mahasiswa (Menwa) merupakan salah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mendapat pelatihan militer dari unsur mahasiswa. Dilansir dari salah satu website resmi Menwa di salah satu kampus di Indonesia menyebutkan bahwa Menwa dipersiapkan dan dilatih untuk mempertahankan NKRI dalam mewujudkan sebuah sistem yang dikenal dengan Sishankamrata atau Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta.

UKM Menwa biasanya bertanggung jawab langsung kepada rektorat dan memiliki tanggung jawab dan wewenang yang berbeda dengan UKM lainnya di kampus. Menwa memiliki markas komando yang bertempat di perguruan tinggi masing-masing.

Sejarah Menwa

Pembentukan Menwa dimulai pada tanggal 13-14 September 1959 sebagai wujud pelatihn militer untuk mahasiswa di Jawa Barat. Tujuan dari pelatihan tersebut sebagai bentuk kesiapan mahasiswa dalam mempertahankan NKRI. Pembentuk latihan tersebut atas inisiasi Pangdam Siliwangi dan diapresiasi oleh Jenderal Besar A.H. Nasution.

Melihat konteks pada masa itu, Indonesia menetapkan status darurat perang pada tahun 1957 sehingga komponen-komponen pendukung bela negara dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran senjata. Mahasiswa pada saat itu menjadi komponen cadangan pertahanan negara dalam menghadapi gangguan keamanan separatisme.

Pada mulanya, komponen cadangan tersebut dinamai oleh Panglima Kodam Siliwangi, Kolonel Raden Ahmad Kosasih sebagai Wajib Latih (Walawa). Mahasiswa Wala tersebut secara khusus dipersiapkan dalam menghadapi gerombolan Darus Islam/Tentara Islam Indonesia.

Dalam buku karya Raditya Christian Kusumabrata yang berjudul Resimen Mahasiswa Sebagai Komponen Cadangan Pertahanan 1963-2000 menjelaskan bahwa Mahasiswa Wala tersebut yang berjumlah ratusan orang mengikuti pelatihan 6 kali selama seminggu. Rata-rata durasi latihan per harinya selama 4 Jam. Pelatihan tersebut berlangsung selama 20 pekan.

Pada tahun 1961, ketika gencar-gencarnya isu pembebasan Irian Barat, Presiden Soekarno membentuk Tri Komando Rakyat (Trikora). Langkah tersebut membuat program Wala terus disebarluaskan lagi. Tentara melalui Komando Daerah Militer bekerjasama dengan Perguruan Tinggi untuk membentuk Wala di masing-masing kampus mereka. Hal tersebut ditandai dengan pembentukan Badan Persiapan Pembentukan Resimen Mahasiswa Dam VI Siliwangi.

Pada tahun 1963, Wakil Menteri Pertama Urusan Pertahanan/Keamanan dan Menteri Perguruan Tinggi menandatangani sebuah Surat Keputusan Bersama (SKB) NO. M/A/20/63 yang menjadi langkah dalam memasukkan latihan pertahanan ke dalam kurikulum kampus. Dengan adanya SKB tesebut juga menginstruksikan kepada Universitas dan perguruan tinggi lainnya agar membentuk Resimen Mahasiswa.

Pada masa itu, Menwa berada di bawah Rektorat. Namun latihan yang diberikan berasal dari anggota angkatan bersenjata. Dalam hal ini, Menwa juga berada di bawah Komando Daerah Militer. Akibat arogansi Menwa yang juga berada di bawah Kodam dan kerap melangkahi Rektor dalam kegiatan di luar kampus. Maka, pada tahun 2000 dikeluarkan kembali SKB Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah untuk mengubah status kedudukan Menwa yang berada di bawah pimpinan perguruan tinggi.

Latest articles