Pangeran Diponegoro dan Wanita-Wanita Cantik

ENSIPEDIA.ID, Jember – Pangeran Diponegoro dalam buku pelajaran sekolah digambarkan sebagai sosok pahlawan yang tangguh dan berani menghadapi para penjajah Belanda. Perlawanannya ditandai dengan meletusnya Perang Jawa atau biasa disebut dengan Perang Diponegoro pada tahun 1825 hingga 1830.

Di balik kisah heroiknya itu, ternyata Diponegoro memiliki kisah cinta yang menimbulkan sejumlah pandangan miring. Kisah tersebut memang jarang sekali kita dengar, bahkan di buku pelajaran sekolah sekalipun. Lantas, bagaimana kisahnya? Simak penjelasannya di bawah ini.

Pangeran Diponegoro diketahui menikah untuk pertama kali[nya] pada usia ke-27 dengan salah seorang anak ulama terkemuka dari Desa Dadapan, Banyuwangi, yaitu Raden Ayu Madubrongto. Dari hasil pernikahannya itu, Pangeran Diponegoro dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Pangeran Diponegoro II.

Diponegoro kemudian melakukan pernikahan keduanya dengan Raden Ajeng Supadmi, putri dari Bupati Panolan, Kesultanan Yogyakarta, Raden Tumenggung Notowijoyo III. Pernikahan tersebut sebenarnya bukan keinginan dari Pangeran Diponegoro, melainkan bujukan dari ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III. Pernikahan[nya juga] (tersebut) berjalan dengan meriah, tetapi sifatnya lebih ke arah “politis”.

Diponegoro dan Raden Ajeng Supadmi bertemu untuk pertama kali hanya tiga bulan sebelum melangsungkan pernikahan. Pernikahan ini tidak membawa kebahagiaan dan berumur pendek. Bahkan, Diponegoro tidak pernah sekalipun menyebut istrinya yang satu ini dibandingkan istri-istri lainnya.

Seumur hidupnya, Pangeran Diponegoro memiliki delapan istri dan selir yang tak terhitung jumlahnya. Di Tegalrejo sendiri diketahui bahwa Diponegoro mempunyai empat istri resmi dan beberapa selir. Selir terakhirnya bahkan konon cukup cantik hingga mampu menarik hasrat seksual dari Asisten Residen Belanda untuk Yogyakarta, P.F.H Chavellier (menjabat 1823-1825). Selir tersebut hidup bersama Chavellier beberapa bulan sebelum meletusnya Perang Jawa.

Menurut Peter Carey, sejarawan Universitas Oxford yang menulis buku Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (2014) dan Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (2012) mengungkapkan bahwa Diponegoro dikaruniai 17 anak (5 perempuan dan 12 laki-laki dari istri-istri resminya).

Saat terjadinya masa Perang Jawa, diketahui istri keempat yang paling disayangi Diponegoro, Raden Ayu Maduretno meninggal. Maka dari itu, Diponegoro menikahi tiga wanita] baru lagi, salah satunya adalah Raden Ayu Retnoningsih, putri Bupati Madiun dan kemenakan perempuan Raden Ronggo Prawirodirdjo III.

Ketika menikah dengan Diponegoro, Raden Ayu Retnoningsih masih berusia 17 tahun. Ia dikenal sebagai gadis yang cantik dan menjadi istri satu-satunya yang menemani Diponegoro di pengasingan.

Fakta lain tentang “kegilaan” Diponegoro dengan wanita adalah hubungannya dengan perempuan muda Cina (nyonya Cina), yang bukan istri resmi dan bukan pula selir. Perempuan tersebut merupakan tawanan perang di Kedaren. Nyonya Cina dijadikan oleh Diponegoro sebagai tukang pijatnya dan bahkan keduanya pernah “tidur” bersama sebelum Perang Jawa.

Setelah “tidur” dengan perempuan Cina tersebut, di kemudian hari Pangeran Diponegoro mengalami kekalahan dalam Perang Jawa di Gawok, di luar Surakarta, 15 Oktober 1826. Diponegoro menuding bahwa skandalnya ini merupakan biang dari kekalahannya dan penyebab ia terluka di bagian tangan dan dada.

Semenjak itu, Pangeran Diponegoro melarang komandannya memiliki hubungan seksual dengan ras campuran (peranakan) perempuan Cina-Indonesia. Diponegoro memperingatkan bahwa hubungan dengan ras campuran China-Indonesia akan mendatangkan kesialan.

Setelah mengalami kekalahan perang dan berada di pengasingan, insting Pangeran Diponegoro untuk menaklukkan wanita tak pernah pudar. Residen Manado Pietermaat (menjabat 1827-1831) mengungkapkan bahwa percakapan yang paling digemarinya adalah tentang wanita yang melihatnya sebagai seorang kekasih yang menawan.

Menurut Peter Carey, ketika Diponegoro ditempatkan di pengasingan dan mengalami sakit malaria selama tiga bulan, ia masih bisa-bisanya “bermain” dengan janda-dukun, Nyai Asmarataruna, yang merawatnya di Desa Sebodo.

Ketika berada di Manado untuk menjalani masa pengasingan, ia ingin menikahi putri dari Letnan Hasan Nur Latif, salah seorang muslim terkemuka di sana. Namun, Letnan Hasan Nur Latif menolak lamaran tersebut karena hanya akan membawa nasib buruk kepada putrinya.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles