Nama Asli Kapitan Pattimura, Ahmad Lussy atau Thomas Matulessy?

ENSIPEDIA.ID, Jember – Beberapa hari yang lalu, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah potongan video ceramah Ustadz Adi Hidayat. UAH dalam video tersebut mengungkapkan bahwa nama asli dari pahlawan Indonesia asal Maluku, Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy bukan Thomas Matulessy yang biasanya tercantum dalam buku-buku sejarah.

Menurut Ustadz Adi Hidayat terjadi pembelokkan sejarah oleh Belanda sebagai bentuk agenda mereduksi peran Islam. Ia juga mengungkapkan bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang muslim, bahkan kiai. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Ahmad Lussy memerintahkan santri-santrinya untuk berperang melawan penjajah Belanda, kata Adi Hidayat dalam video ceramah tersebut.

Video ceramah tersebut viral setelah akun @yaniarsim mengunggahnya di Twitter pada Minggu, 3 Juli 2022. Ia juga menambahkan video tersebut dengan kalimat yang menohok dan bernada provokatif. Akun tersebut mengungkapkan bahwa fenomena Islamophobia sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

“Islamofobia ternyata sudah ada sejak jaman penjajahan. Membelokkan sejarah seorang pejuang muslim Ahmad Lussy dengan nama Thomas Matulessy. Suatu ketakutan, kebencian, atau prasangka terhadap Islam atau Muslim secara umum,” cuit akun Twitter@yaniarsim.

Pernyataan Ustadz Adi Hidayat juga tidak kalah provokatif jika dibandingkan cuitan akun Twitter @yuniarsim. Adi Hidayat menyuruh kepada jamaahnya agar melihat uang pecahan Rp 1.000 yang bergambar Kapitan Pattimura. Ia menuturkan bahwa nama sebenarnya dari orang yang ada pada uang tersebut adalah Ahmad Lussy yang disinyalir juga seorang muslim. Ia menganggap bahwa ini adalah upaya pembelokan sejarah oleh Belanda agar perjuangan umat Islam tidak didengar.

“Saya mau tanya Anda siapa yang mau mempermainkan sejarah kita, sehingga anak cucunya tidak paham tentang para pejuang di masa lalu. Siapa Ahmad Lussy itu, beliau itu adalah seorang pejuang, beliau itu seorang kiai, beliau itu seorang pemimpin pesantren. Beliau arahkan anak-anak santrinya untuk berjuang menegakkan kebenaran di bumi pertiwi ini. Makanya Ahmad Lussy tiba-tiba jadi Thomas.”

“Saya mau katakan bahwa kalau disebutkan Thomas orang tidak ingat orang ini dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Orang ini berasal dari pesantren. Makanya kemudian dibuang nama-nama itu persis seperti orang-orang barat dulu melakukannya. Ibnu Sina jadi Avicenna. Ya Ibnu Rusyd jadi Averroes dan lain sebagainya. Diganti namanya supaya generasi berikutnya tidak ingat bahwa ada orang-orang yang yang ketika mewujudkan kemerdekaan mereka malamnya tahajud. Siangnya puasa bergerilya dan sebagainya,” kata UAH.

Adapun sumber rujukan yang diambil oleh Ustadz Adi Hidayat adalah buku yang berjudul “Api Sejarah” karya dari Ahmad Mansur Suryanegara. Dalam buku tersebut, Mansur menyebutkan bahwa nama asli Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy. “Bangkitlah perlawanan bersenjata dipimpin oleh Kapten Pattimura, 1817 M. Di Ambon penyandang nama Pattimura adalah Muslim. Oleh karena itu, salahlah jika dalam penulisan sejarah, Kapten Pattimura disebut seorang penganut Kristen,” tulis Mansur.

Kapitan Pattimura bukan Ahmad Lussy

Sayangnya, klaim dari Ahmad Mansur Suryanegara oleh beberapa pakar sejarah disebut sebagai sebuah kesalahan dan kebohongan. Menurut sejarawan Sam Ardi, buku yang ditulis oleh Mansur tersebut memiliki banyak kelemahan, seperti penggunaan sumber sejarah yang tidak kritis dan tidak lengkap.

“Dalam sejarah, justru yang menyebut nama Ahmad Lussy yang harus menyebutkan sumber sejarahnya. Jadi jika ditanya penamaan Thomas Matulessia menjadi Ahmad Lussy, orang yang menyebut Ahmad Lussy tersebut yang harus menyebutkan sumbernya karena sampai saat ini belum ada sumber sejarah yang mengarah ke nama tersebut.” katanya.

“Dengan tidak menyebut sumber sejarah yang berkaitan dengan pernyataan tersebut, maka akan susah untuk dilakukan tahapan heuristik dan kritik sumber sejarah. Orang yang hidup tahun 2022 bisa sangat percaya diri untuk menjelaskan suatu peristiwa atau tokoh yang hidup ratusan tahun lalu tanpa menyebutkan sumber sejarah itu aja udah aneh,” ujar Sam Ardi seperti dilansir dari VOI.

Pernyataan dan Sam Ardi tersebut juga dibenarkan oleh sejarawan Christopher Reinhart. Ia menyebut bahwa tidak ada sumber yang jelas menyatakan bahwa nama asli dari Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy. Ia juga menyoroti bahwa isu Ahmad Lussy bertujuan untuk menonjolkan kelompok tertentu saja. Padahal banyak sekali golongan yang ikut berjuang melawan Belanda, tidak hanya umat muslim saja.

“Saya sekarang melihat upaya yang cukup sistematis untuk menonjolkan peran satu golongan di dalam historiografi kita. Dan, ini sekarang tidak hanya sekedar ditulis oleh orang awam, tapi juga oleh akademisi-akademisi yang punya gelar doktor dan sebagainya (meskipun kadang bukan dari ilmu sejarah). Nah, sebetulnya penelitian terus menerus terhadap sejarah itu baik, tapi sekali lagi metode sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, historiografi) itu harus benar-benar dilaksanakan.” Ujarnya.

“Dan biasanya simpulan-simpulan yang cukup meragukan (dan mungkin ngawur) seperti ini muncul kalau dari awal seorang peneliti itu sudah punya tujuan subjektif (misalnya: peneliti ingin menonjolkan peran orang Islam), akhirnya dia hanya akan mencari sumber-sumber yang mendukung tujuannya dan mengesampingkan sumber lain yg menurut dia tidak sesuai. Padahal, penelitian sejarah itu kan harus mencari sumber sebanyak-banyaknya supaya bisa membandingkan sumber,” kata Christopher Reinhart dilansir dari VOI.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles