Layaknya Zombie, Suku Kuno di Filipina Punya Tradisi “Pesta Otak”

ENSIPEDIA.ID, KENDAL – dalam sebuah film bergenre horor-thriller seperti zombie, tidak mengherankan apabila disajikan pertunjukan yang menegangkan seperti mengoyak leher manusia atau bahkan bermain-main dengan otaknya.

Nah, ternyata situasi “zombie” ini tidak hanya terjadi di dalam film yang notabene merupakan karya fiksi seseorang, tetapi juga tertulis catatannya dalam sejarah. Buku perjalanan terlaris pertengahan abad ke-19 karya Paul de La Gironière berjudul “Twenty Years In The Philippines’ (1819-1839) mencatat perilaku “zombie” di dunia nyata tersebut.

Gironière adalah seorang penjelajah dunia asal Prancis yang tiba dan singgah di Filipina pada 1820. Dalam petualangannya, ia berpikir untuk tinggal sementara waktu di negara tersebut sekaligus mencari tahu apa yang ada didalamnya.

Selama singgah di sana, ia mendirikan sebuah kota kecil bernama Jala Jala di lokasi yang kini termasuk Provinsi Rizal. Ia mengelolanya bersama istri dan putranya selama hampir 20 tahun hingga saat istrinya wafat ia baru pulang ke negaranya.

Suatu hari, Gironière bersama asistennya bernama Alila menjelajahi pegunungan di utara untuk mencari tahu bagaimana kehidupan salah satu suku di wilayah tersebut.

Ia berhenti di sebuah kelompok etnis bernama Tinguian yang tinggal di dataran tinggi Provinsi Abra. Hal pertama yang sangat mencolok adalah bau mereka. Gironière mengaitkan bau tersebut berasal dari pakaian yang tidak pernah mereka copot. Mulanya, ia merasa Suku Tinguian lebih baik dari yang selama ini ia kira.

Setelah berinteraksi cukup dekat dengan mereka selama beberapa hari, Gironière diberi sebuah kejutan hebat. Ia bersama asistennya diundang untuk mengambil bagian dalam “brain party” atau “pesta otak.”

Pesta otak merupakan sebuah perayaan tradisional yang dilakukan suku-suku tertentu setiap mereka memenangkan peperangan melawan suku saingan. Otak yang mereka pakai berasal dari para korban dari suku musuh.

Dalam bukunya, Gironière menyebut tradisi aneh itu dimulai ketika para pemimpin dan prajurit Tinguian duduk mengitari ruangan yang dianggap sakral dan suci. Di sana, terdapat tempat penampung minuman anggur besar bersama dengan beberapa kepala musuh yang dipenggal.

Kemudian, para pemimpin dan prajurit besar akan memberikan pidato singkat mengenai kemenangan mereka. Setelah selesai, barulah mereka melakukan aksi yang lebih menyeramkan dibanding menonton film horor—memilih kepala seseorang untuk dipotong, dipecah menggunakan kapak, dan diambil otaknya.

Tak cukup sampai di situ, otak yang telah dipilih kemudian akan ditumbuk sampai cukup halus oleh gadis-gadis muda Tinguian lalu hasilnya akan dicampur ke dalam minuman anggur.

Ketika ramuan sudah siap, semua peserta perayaan akan mencicipinya bersama-sama dan kemudian dibagikan ke suku untuk dinikmati. Saking ramahnya mereka, ramuan tersebut juga dibagikan pada Gironière beserta asistennya.

Khawatir dibunuh oleh Suku Tinguian, Gironière tak punya pilihan lain selain ikut mengambil bagian. Rasa jijiknya yang diselimuti oleh ketakutan itulah yang membuatnya menyebut ramuan tersebut sebagai “minuman dari neraka.”

Meskipun beberapa sarjana menolak hal ini sebagai sesuatu yang nyata, sejarah menunjukkan sebaliknya. Penjelajah Amerika Dean Conant Worcester menggambarkan ritual serupa di antara Suku Kalinga—salah satu suku di Filipina yang bermukim di Pegunungan Cordillera, Pulau Luzon.

Selaras dengan Worcester, William Alexander Pickering—dalam bukunya “Pioneering in Formosa” (1898)—menyebut orang-orang Formosa “mencampur otak musuh mereka dengan anggur, dan meminum campuran yang menjijikkan itu.”

Hilmi Harsaputra
Menyukai bidang sosial-hukum, sosial-budaya, geografi, dan astronomi.

Latest articles