Kosasih Kartadiredja, Wasit Indonesia Pertama yang Berlisensi FIFA Berjuluk King Kobra

ENSIPEDIA.ID, Jember – Kosasih Kartadiredja merupakan wasit Indonesia pertama yang memilili lisensi FIFA serta mendapatkan julukan yang unik, King Cobra.

Seperti yang diketahui, masyarakat Indonesia memang sudah dikenal akan kefanatikannya terhadap sepak bola. Sayangnya, kepopulerannya tidak ditunjang dengan kualitas dan prestasi yang munpuni.

Tidak hanya gelar saja yang masih kalah dengan Thailand ataupun Malaysia, kualitas wasit Indonesia pun masih tertinggal. Hanya segelintir pengadil lapangan yang mendapatkan lisensi FIFA, yang lainnya hanya sebatas pengakuan dari PSSI.

Namun, dari segelintir tersebut, namanya dikenal hingga kancah Asia, sebut saja Kosasih Kartadiredja, wasit pertama Indonesia yang memiliki lisensi FIFA. Lantas, siapa sebenarnya Kosasih Kartadiredja? Simak penjelasannya di bawah ini.

Dari Pemain Kemudian Menjadi Wasit

kosasih-kartadiredja-wasit-indonesia-pertama-yang-berlisensi-fifa-berjuluk-king-kobra

Kosasih lahir di Sukabumi pada tanggal 13 Agustus 1934. Pada tahun 19550-an, ia merupakan pemain sepak bola yang bermain di klub Perssi Sukabumi. Namun, karir sepak bola tidak begitu cemerlang, ia kemudian memutuskan untuk beralih profesi menjadi seorang pengadil lapangan.

“Ayah saya, Mohammad Saleh Kartadiredja, awalnya juga keberatan saya main bola. Apalagi karena saya tidak tamat SMA. Hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat) dulu tahun 1950. Tapi tetap saya main sampai sempat di tim Perssi Yunior sampai 1955. Tahun berikutnya saya dinasihati pelatih saya bahwa kalau tetap jadi pemain, tidak akan jadi pemain bagus. Lebih baik jadi wasit. Makanya kemudian saya belajar jadi wasit,” ujarnya, seperti dilansir dari historia.id

Mulai pada tahun 1955, Kosasih Kartadiredja mengikuti kursus Bahasa Inggris, lalu mengikuti pendidikan wasit tingkat kabupaten yang mendapatkan lisensi wasit C3 dari PSSI. Setelah itu, ia mengikuti pendidikan wasit kembali ditingkat provinsi dan mendapatkan lisensi C2 PSSI. Dilanjutkan dengan lisensi C1 yang didapatkannya di Jakarta pada tahun 1965.

Pada tahun 1972, Kosasih Kartadiredja diusulkan oleh PSSI untuk mendapatkan lisensi FIFA. Hal ini tidak lepas dari keputusannya yang dinilai adil dalam setiap pertandingan perserikatan pada waktu itu.

“Sampai awal 1972, PSSI mengajukan nama saya ke FIFA. Dalam beberapa waktu saya diteliti (dipantau) oleh Mister (Peter) Velappan dari AFC. Akhirnya, di tahun yang sama saya lulus Lisensi FIFA,” ungkapnya.

Dengan lambang FIFA yang terdapat di saku depan, membuat ia semakin disegani oleh pemain. Pernah suatu ketika, pertandingan antara Persebaya vs Persija di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno), 11 Desember 1973, beliau mengeluarkan dua pemain bintang dari kedua tim, yakni Rusdy Bahalwan dan Simson Rumahpasal.

“Dulu, dua pemain terbaik Indonesia yang banyak wasit segan sama mereka, Rusdy dan Simson, saya kasih kartu merah. Tek…tek, udah saya usir,” ujarnya seraya memeragakan pengacungan kartu merah. “Ya karena terjadi pelanggaran, keduanya beradu begitu, sampai bertengkar. Manajer timnya Pak (Maulwi) Saelan juga mau marah, tapi tidak saya perhatikan.” kenangnya.

Pada lain pertandingan, ia juga pernah diancam oleh salah satu pemain. “Pernah pertandingan di Makassar, si Andi Lala tidak terima keputusan saya. Dia bilang, ‘Awas nanti di luar ya!’. Tunggu saja di luar, saya jawab begitu,” kata Kosasih.

Kiprah Kosasih Kartadiredja di Kancah Internasional

kosasih-kartadiredja-wasit-indonesia-pertama-yang-berlisensi-fifa-berjuluk-king-kobra

Dalam setiap pertandingannya, Kosasih Kartadiredja kinal sangat lincah dalam mendekati bola saat pertandingan berlangsung. Karena hal itu, ia dijuluki King Cobra oleh Strait Times, media asal Singaputa.

Karena mengantongi lisensi FIFA, ia dapat memimpin pertandingan di kancah Internasional. Kosasih dipercaya menjadi pengadil di King’s Cup 1972 dan 1972 di Thailand, Quoc Khanh Cup 1973 di Vietnam, dan President’s Cup 1975 di Korea Selatan.

Dengan fakta bahwa dalam memimpin pertandingan Kosasih selalu berlaku adil, membuat dirinya dirilik FIFA untuk memimpin pertandingan yang sifatnya Internasional. Beliau dilercaya memimpin pertandingan dalam ajang Piala Dunia Junior 1979 di Tokyo.

Sesuai dengan catatan FIFA dalam Technical Study Report: FIFA World Youth Tournament 1979, Kosasih Kartadiredja tercatat tiga kali tampil di lapangan. Sekali sebagai wasit utama dalam laga antara Spanyol vs Aljazair (Grup A), serta dua kali sebagai hakim garis di partai Uni Soviet vs Hungaria (Grup D) dan Spanyol vs Meksiko (Grup A).

Momen-momen lain yang membuatnya bernostalgia adalah ketiga memimpin pertandingan ekshibisi tim papan atas Eropa yang kebetulan bertandang ke Indonesia. “Dulu ada pertandingan MU (Manchester United) dan Ajax Amsterdam tahun 1975. Juga Liverpool dan Cosmos, itu yang ada Pelé-nya ikut main (1976),” ujarnya.

Pekerjannya Tak Seimbang Dengan Upah yang Didapat

kosasih-kartadiredja-wasit-indonesia-pertama-yang-berlisensi-fifa-berjuluk-king-kobra

Kecermelangan dia dalam memimpin pertandingan, tidak sebanding dengan apa yang didapatkannya. Dalam memimpin laga yang dinaungi PSSI, ia hanya dibayar 20rb, sedangkan pertandingan FIFA, ia diberi upah 100rb per laga.

Dengan upahnya yang sedikit, membuat Kosasih Kartadiredja dapat dikatakan kesulitan dalam menghidupi istri dan tujuh anaknya. Tak jarang juga ia berusaha disuap oleh Mafia guna memenangkan salah satu tim dan akan mendapatkan bonua yang banyak. Akan tetapi ia nenolaknya dan memilih hidup seadanya daripada menerima uang “haram”.

Pensiun Sebagai Pengadil Lapangan

kosasih-kartadiredja-wasit-indonesia-pertama-yang-berlisensi-fifa-berjuluk-king-kobra

Setelah memimpin ratusan pertandingan, baik tingkat nasional maupun internasional. Wasit Kosasih Kartadiredja memutuskan undur diri menjadi pengadil lapangan. Pada tahun 1986, Kosasih masuk ke dalam Komisi Wasit dan didaput menjadi wakil ketua.

“Dari 1980-an kan saya sudah diangkat PNS Pemda Kabupaten Sukabumi. Tapi 1993 saya pilih pensiun dini. Ya karena jarang masuk juga, kan. Karena saya sering ke luar negeri untuk (mewasiti) pertandingan atau ikut mengajar penataran wasit,” ungkapnya

Setelah cabut dari Komisi Wasit, ia ditugaskan menjadi instruktur untuk wasit yang akan mendapatkan C3 hingga C1. Pekerjaan itu ia lakukan hingga tahun 2007. Setelah itu, ia menghidup keluarganya dengan gaji pensiunan PNS dan gaji istrinya sebagai guru SD.

Pada tahun 2012, Kosasih Kartadiredja mengidap stroke yang membuatnya lumbuh. Hal ini membuat perekonomian keluarganya menjadi runyam, karena uang yang didapat dari gaji pensiun PNS harus dibagi dengan biaya pengobatannya.

“Kaki kiri saya masih sering terasa sakit. Tapi ya mau bagaimana lagi? Buat saya, Alhamdulillah masih bisa gerakan salat”

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles