Benarkah Indonesia Dijajah oleh Belanda Selama 350 Tahun?

ENSIPEDIA.ID, Jember – Dalam berbagai literatur sejarah, disebutkan bahwa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 setelah lepas dari penjajahan Belanda selama 350 tahun atau 3,5 abad dan penjajahan Jepang selama 3,5 tahun.

Sayangnya, frasa yang menyatakan bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun adalah dianggap sebagai sebuah mitos. Banyak para sejarawan yang meragukan bahwa Indonesia dijajah selama itu. Lantas, benarkah Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda? Simak penjelasannya di bawah ini.

Kedatangan Portugis di Indonesia

Sekitar dua abad yang lalu, bangsa Eropa melakukan penjajahan di banyak negara yang tujuannya adalah untuk mencari dan berdagang rempah-rempah, sesuatu yang mahal dan banyak dicari oleh orang Eropa kala itu.

Salah satu korban dari penjajahan tersebut adalah Indonesia. Pada 1511, bangsa Portugis berhasil menguasai Malaka yang pada waktu itu merupakan pusat perdagangan yang menghubungkan perdagangan dari India dan Tiongkok. Dengan menguasai Malaka, Portugis mampu memonopoli perdagangan rempah-rempah pada waktu itu.

Setahun setelahnya, pelaut Portugis Afonso de Albuquerque mengirim beberapa armadanya ke Pulau Maluku, tepatnya Ternate untuk memperluas kedudukan. Mereka juga meluaskan kedudukannya hingga ke Pulau Timor bagian timur.

Akan tetapi, semua itu tidak berlangsung lama. Pada 1575, Portugis pergi dari Nusantara dan menuju ke Tiongkok. Hal tersebut dilakukan karena Nusantara dianggap terlalu luas dan terlalu banyak persaingan dagang di daerah tersebut.

Kedatangan Belanda di Indonesia

Pada 22 Juni 1596, empat buah kapal Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Namun, mereka tidak berniat untuk melakukan penjajahan melainkan untuk berdagang sama halnya seperti yang dilakukan oleh Portugis. Meskipun demikian, kedatangan kapal Belanda tersebut mendapatkan penolakan oleh penguasa setempat sehingga mereka diusir dari tanah Jawa.

Meskipun demikian, de Houtman beserta anak buahnya dianggap berjasa karena telah berhasil membuka jalur baru untuk ekspedisi Belanda yang selama ini telah dirahasiakan oleh Portugis.

Dua tahun setelah pengusiran de Houtman, datanglah kapal Belanda lain yang mendarat di Banten pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwjick. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini para pedagang Belanda diperbolehkan berdagang oleh penguasa Banten.

Setelah pendaratan tersebut, perdagangan di wilayah Nusantara menjadi ramai sehingga menimbulkan berbagai konflik di antara para pedagang, baik yang dari Belanda, Portugis maupun Inggris. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dibentuklah serikat dagang yang bernama Verenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Akan tetapi, VOC tidak merepresentasikan Negara Belanda itu sendiri. Mereka hanya diberi izin oleh pemerintah Belanda untuk menjalankan diplomasi hingga perang untuk merebut wilayah-wilayah yang strategis bagi perdagangan.

VOC resmi dibubarkan pada tahun 1799 dikarenakan maraknya terjadi tindak pidana korupsi, dari tingkat atas hingga akar rumputnya. VOC kemudian disita oleh Belanda untuk membayar utangnya yang mencapai 219 juta gulden, termasuk mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasainya di Nusantara.

Setelah mengambil alih wilayah Indonesia, Belanda kemudian membuat sebuah wilayah otonomi yang dikenal sebagai Nederlands Indie atau Dutch East Indies, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Hindia Belanda yang dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal.

Namun, sejak tahun 1800 hingga 1912, terjadi perlawanan di berbagai daerah di Indonesia terhadap Belanda. Jadi, Belanda baru benar-benar bisa menguasai wilayah Indonesia setelah tahun 1912.

Jika kita menghitung sejak pertama kali pedagang Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman datang ke Indonesia pada 1596, maka Indonesia seharusnya merdeka pada tahun 1946. Padahal Belanda sendiri hanya menjajah Indonesia hingga 1942 sebelum akhirnya Inggris datang dan disusul oleh Jepang beberapa bulan setelahnya.

Adapun jika kita menghitung dari awalnya berdirinya VOC pada 1602 kemudian ditambahkan 350 tahun, maka seharusnya Indonesia baru merdeka pada 1952. Adapun jika penghitungannya pada 1800 saat pemerintah Belanda mengambil alih VOC yang bangkrut dan mengubah namanya menjadi Hindia-Belanda, maka Indonesia baru merdeka pada 2150.

Munculnya Istilah Penjajahan 350 Tahun

Melansir dari Detik, menurut sejarawan Dr Lilie Suratminto, MA (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia), istilah penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda merupakan akal-akalan para politikus pada masa kemerdekaan untuk membakar semangat rakyat.

Menurutnya, angka 300 tahun itu pertama kali dikatakan Gubernur Jenderal de Jonge. Apa yang diucapkan de Jonge ini lantas digunakan oleh Bung Karno untuk membangkitkan semangat nasionalisme.

“Jaman itu yang pertama kali mengatakan itu Gubernur Jenderal de Jonge, itu masa kebangkitan nasional mengatakan ‘Kita orang Belanda tidak ada 300 tahun di sini, dan kita akan berkuasa lagi sampai berapa ratus tahun lagi’. Nah oleh Bung Karno, dipakailah itu, ‘Kita dijajah 350 tahun’, untuk membangkitkan semangat nasionalisme,” kata Lilie.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles