Program Merdeka Belajar, Nadiem Makarim Bebaskan Sekolah Pilih Kurikulumnya Sendiri

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Merdeka Belajar, adalah dua kata yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Istilah tersebut dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju Nadiem Makarim yang terinspirasi dari sebuah slogan salah satu sekolah swasta di Jakarta.

Jika diartikan, maka Merdeka Belajar maknanya adalah membebaskan para guru beserta murid-muridnya dalam berinovasi dan bertindak di lingkup proses belajar mengajar. Dengan hal ini, guru sebagai pendidik disarankan untuk tidak monoton dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga para murid juga akan lebih senang ketika belajar. Hal ini nantinya perlahan akan membentuk karakter murid yang semakin mengedepankan kreativitas dan sikap kritis.

Bebas Pilih Kurikulum

Nadiem Makarim saat meluncurkan program Merdeka Belajar | kompas.

Pandemi covid-19 membawa dunia dan Indonesia semakin terpuruk, terlebih pada sektor pendidikannya. Di beberapa daerah, lonjakan kasus konfirmasi positif kembali terjadi, mengharuskan sekolah-sekolah kembali melakukan Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ. Hal ini tentu berpotensi mengakibatkan learning loss atau hilang atau menurunnya pengetahuan dan kemampuan siswa, baik secara umum maupun spesifik.

Oleh karena itu, Kemendikbud Ristek tak tinggal diam dan meluncurkan terobosan untuk mengatasi hal ini dengan menerbitkan Merdeka Belajar Episode 15: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar.

Nadiem menerangkan, penting saat ini untuk dilakukan penyederhanaan kurikulum dalam bentuk kurikulum dalam kondisi khusus atau kurikulum darurat. Menurutnya dengan adanya penyederhanaan ini, learning loss dapat diminimalisir dan pembelajaran tetap dapat berjalan efektif.

Dengan diluncurkannya Merdeka Belajar Episode 15 ini, disebutkan pula beberapa arah perubahan kurikulum. Di antaranya adalah struktur kurikulum menjadi lebih fleksibel, lebih difokuskan pada materi yang esensial, membebaskan guru untuk menggunakan berbagai perangkat sebagai kebutuhan atau sarana mengajar dan adanya aplikasi yang menyediakan banyak referensi bagi guru sehingga nantinya dapat dikembangkan lagi menjadi materi yang lebih baik.

Nah, dalam program pemulihan pembelajaran ini, satuan pendidikan diberi keleluasaan dalam menentukan kurikulum mana yang akan dipilih tanpa ada unsur paksaan. Adapun Kemendikbud menyediakan 3 pilihan, yaitu:

1. Kurikulum 2013 secara penuh.

2. Kurikulum darurat, yakni kurikulum 2013 yang telah disederhanakan.

3. Terakhir, kurikulum merdeka secara penuh.

“Untuk itu, pemerintah akan menyiapkan angket untuk membantu satuan pendidikan menilai tahapan kesiapan dirinya menggunakan Kurikulum Merdeka,” ujar Nadiem pada peluncuran Merdeka Belajar Episode Kelima belas secara daring, pada Jumat (11/2/2022).

Kurikulum merdeka mempunyai sifat yang fleksibel, artinya siswa dapat menentukan sendiri pelajaran apa yang akan mereka pelajari sesuai dengan minat dan bakatnya. Oleh karena itu, wacananya penjurusan di SMA seperti IPS, MIPA dan Bahasa akan ditiadakan.

 

 

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles