PPN Naik Jadi 11 Persen, Harga Pulsa dan Paket Data Ikut Naik?

ENSIPEDIA.ID, Jember –  Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengumumkan bahwa tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) per tanggal 1 April 2022 mengalami kenaikan yang semula 10 persen, naik menjadi 11 persen. Kebijakan tarif PPN ini merupakan amanat dari pasal 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Melansir dari laman resmi Kementerian Keuangan, kenaikan PPN ini bertujuan untuk memperkuat perekonomian Indonesia dalam jangka panjang serta membantu pembiayaan APBN, khususnya untuk pemulihan ekonomi nasional sebagai akibat adanya Covid-19. Namun, beberapa barang akan diberikan bebas PPN maupun tetap tidak dikenakan PPN.

Adapun barang-barang yang diberikan fasilitas bebas PPN antara lain minyak bumi, gas bumi, panas bumi, emas batangan dan emas granula, senjata/alutsista, barang kebutuhan pokok, jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa sosial, jasa asuransi, jasa keuangan, jasa angkutan umum, jasa tenaga kerja, vaksin, rusun sederhana, rusunami, RS, RSS, jasa konstruksi untuk rumah ibadah dan jasa konstruksi untuk bencana nasional, mesin, hasil kelautan perikanan, ternak, bibit/benih, pakan ternak, buku pelajaran dan kitab suci, air bersih termasuk biaya sambung/pasang dan biaya beban tetap, listrik, pakan ikan, bahan pakan, jangat dan kulit mentah, bahan baku kerajinan perak, dan alat foto udara.

Sedangkan barang-barang yang tidak dikenakan PPN, yakni objek Pajak Daerah, jasa yang merupakan objek Pajak Daerah, uang, emas batangan untuk kepentingan cadangan devisa negara, surat berharga, jasa keagamaan, dan jasa yang disediakan oleh pemerintah.

Berdasarkan kebijakan yang dibuat oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tersebut, sejumlah operator seluler di Indonesia akan menerapkan penyesuaian tarif pada sejumlah layanan dan produk mereka. Perusahaan seperti Telkomsel, XL Axiata, Smartfren, dan Indosat Ooredoo Hutchison sepakat untuk mematuhi aturan pemerintah.

“Terkait dengan rencana kenaikan tarif PPN yang akan berlaku per 1 April 2022, sebagai Wajib Pajak, pada prinsipnya kami akan mematuhi setiap peraturan perpajakan yang berlaku, dengan tetap berkomitmen untuk terus menjaga kualitas layanan dan produk terbaik bagi pelanggan,” terang Steve Saerang, SVP-Head Corporate Communications IOH.

Hal tersebut juga senada dengan apa yang diungkapkan oleh XL Axiata.

“(XL) Mengikuti aturan dan ketentuan pemerintah untuk melakukan penyesuaian pemberlakuan besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari saat ini sebesar 10 persen menjadi sebesar 11 persen berlaku mulai 1 April 2022,” kata Group Head Corporate Communications XL Axiata, Tri Wahyuningsih, seperti dilansir dari kompas.

Telkomsel juga mengungkapkan bahwa mereka akan patuh dengan aturan baru yang telah diputuskan pemerintah.

“Telkomsel sebagai perusahaan yang mengedepankan good corporate governance akan selalu patuh pada setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, termasuk mematuhi jika ada penyesuaian/perubahan terkait isi maupun jadwal penerapan aturan (PPN),” kata Vice President Corporate Communications Telkomsel, Saki H. Bramono.

Tidak hanya Telkomsel, XL Axiata maupun Indosat Ooredoo Hutchison, Smartfren pun memiliki tanggapan yang serupa.

“Smartfren selalu mengikuti kebijakan pemerintah, demikian juga dalam hal perubahan PPN menjadi 11 persen. Pada saat peraturan tersebut diberlakukan maka PPN akan mengikuti aturan baru,” ujar Sukaca Purwokardjono, Deputy CEO Mobility Smartfren.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles