Mikhail Gorbachev, Presiden Terakhir Uni Soviet yang Dibenci di Negaranya Sendiri

ENSIPEDIA. ID, KENDAL – Uni Soviet merupakan negara adidaya yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah dunia. Sepanjang berdirinya, negara tersebut mempunyai banyak tokoh penting yang membawa perubahan dalam perkembangan negara. Salah satunya yaitu Mikhail Gorbachev.

Mikhail Gorbachev lahir pada 2 Maret 1931 di Privolnoye, Rusia, Uni Soviet. Ia merupakan politikus Soviet yang pernah menjabat sebagai Sekjen Partai Komunis Uni Soviet dan juga menjadi presiden terakhir Uni Soviet.

Negara-negara Eropa menganggap Mikhail adalah sosok malaikat yang mampu membawa perubahan-perubahan besar di Eropa, di antaranya mampu mewujudkan reunifikasi Jerman, yaitu proses bersatunya kembali Jerman Barat dan Jerman Timur.

Namun, Mikhail justru dibenci di negaranya sendiri atas kebijakan-kebijakannya yang mulanya bertujuan memakmurkan Soviet, tetapi malah membawa Soviet dalam keruntuhan.

Salah satunya adalah Rusia yang menyalahkannya atas insiden runtuhnya negara adidaya yang menakutkan itu. Mikhail gagal membawa perbaikan-perbaikan pada negaranya dengan kebijakan yang ditempuhnya sendiri. Negara adidaya tersebut pecah pada 1991 menjadi 15 negara terpisah yang sekaligus menjadikannya sebagai presiden terakhir Uni Soviet.

Seperti yang diketahui, Uni Soviet terlibat dalam perang dingin melawan Amerika Serikat. Uni Soviet dengan komunisnya, dan Amerika dengan liberalisnya. Keduanya bersaing di bidang teknologi, ekonomi, dan sosial-budaya. Dari persaingan ini, terlihat bahwa Uni Soviet yang mengalami kemunduran, terutama dalam hal ekonomi.

Nah, setelah menimbang hal tersebut, Mikhail selaku Sekjen Partai Komunis Uni Soviet mengeluarkan dua kebijakan yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya.

Glasnost

Glastnost (keterbukaan) adalah sebuah kebijakan yang menerapkan keterbukaan Uni Soviet dalam berbagai aspek kehidupan.

Sejak munculnya kebijakan ini, banyak rakyat yang mulai berani menyampaikan pendapatnya. Tak hanya itu, rakyat Uni Soviet juga lebih membuka diri terhadap dunia luar, yang artinya membuat mereka mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru, termasuk tentang sistem kapitalisme.

Perestroika

Perestroika adalah sebuah kebijakan yang merujuk pada rekonstruksi sistem politik dan ekonomi di Uni Soviet yang pada saat itu mengalami stagnasi.

Perestroika membukakan jalan bagi rakyat dan kementerian untuk lebih independen, terutama dalam hal kendali ekonomi. Pemerintah melakukan banyak reformasi pasar dengan mengadopsi elemen-elemen ekonomi liberal tetapi tetap mempertahankan praktik sosialisme.

Dari dua kebijakan inilah yang kemudian disebut sebagai katalis utama runtuhnya Uni Soviet. Banyak wilayah-wilayah dalam Soviet membangkitkan politik nasionalisme, sehingga memicu mereka untuk menempuh jalannya sendiri dengan memproklamirkan kemerdekaan.

Menguatnya paham liberalis di Jerman Barat, serta menurunnya pengaruh komunis di Jerman Timur menimbulkan ketegangan sosial di dua wilayah tersebut. Wilayah yang dipisahkan oleh Tembok Berlin itu kemudian menginisiasi sebuah persatuan yang disebut dengan reunifikasi Jerman.

Puncaknya pada 1989 di mana rakyat dan pemerintah Jerman Timur berhasil menghancurkan Tembok Berlin yang selama 28 tahun memisahkannya dengan Jerman Barat.

Akibat gejolak politik di Uni Soviet yang terjadi selama bertahun-tahun, Mikhail Gorbachev mengundurkan dirinya sebagai Kepala Negara. Hal inilah yang kemudian menandai secara resmi runtuhnya Uni Soviet dan berganti menjadi Republik Federasi Rusia.

Hilmi Harsaputra
Menyukai bidang sosial-hukum, sosial-budaya, geografi, dan astronomi.

Latest articles