Bersembunyi di Balik Kata Oknum, Membersihkan Nama Institusi Ala Orba

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Aparat merupakan alat/komponen negara yang bertugas untuk menjalankan tugas sesuai dengan kewenangan masing-masing. Sebuah fenomena menarik tumbuh di tubuh aparat, setiap tindakan lalai dan tidak baik yang dilakukan oleh anggota aparatur negara pastilah dilabeli dengan kata “Oknum”. Sebut saja oknum polisi, oknum hakim, oknum jaksa, oknum tentara, dan oknum-oknum lainnya.

Penyebutan kata oknum bertujuan untuk membersihkan nama baik institusi. Dengan tambahan kata tersebut, kesalahan yang dilakukan oleh aparat akan ditanggung secara perseorangan sehingga tidak mencemarkan nama baik institusi.

Lihat saja di media-media, pembelaan yang dilakukan oleh institusi baik kepolisian, TNI, dan lainnya pasti selalu bersembunyi di balik kata oknum. Selayaknya tindakan amoral yang dilakukan oleh anggota bukanlah merupakan tanggung jawab pembinaan institusi.

Menemukan Makna Oknum

Melihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oknum memiliki arti:

  1. Penyebut diri Tuhan dalam Agama Katolik
  2. Orang seorang; Perseorangan
  3. Orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik)

Dalam dunia jurnalisme, sebagaimana dilansir melalui Majalah Tempo, oknum diartikan sebagai cara untuk memisahkan anggota dan institusi yang dinaunginya. Walaupun memiliki arti seorang/perseorangan, oknum juga bisa ditautkan kepada kumpulan anggota. Hal tersebut dilakukan apabila anggota institusi telah melakukan tindakan-tindakan negatif. Pemisahan tersebut dilakukan agar institusi tempat anggota bernaung citranya tetap positif.

Jika menarik lebih jauh, oknum merupakan istilah yang diambil dari bahasa Suriah Kuno kemudian dipinjam oleh bahasa Arab dan diserap oleh bahasa Indonesia. Arti kata oknum menurut bahasa Suriah adalah “netral” atau “perseorangan.” Perseorangan yang dimaksud adalah orang-orang atau kumpulan orang yang tidak terikat dengan institusi atau organisasi. Artinya, oknum adalah orang-orang yang netral.

Namun demikian, kata oknum mengalami perubahan makna memburuk (peyorasi). Tidak hanya di Indonesia, oknum di literatur Arab dan Suriah juga mengalami penurunan makna.

“Memang dalam perkembangannya ada semacam penurunan makna. Di dalam bahasa Arab maupun Suriah juga mengalami penurunan makna. Berhubungan dengan sebuah sosok yang katakanlah menunjukan gelagat atau perilaku yang tidak sesuai dengan tatanan masyarakat,” kata Ibnu Wahyudi, Pengajar Program Studi Indonesia, FIB UI yang dikutip melalui Narasi.com.

Oknum dan Orde Baru

Dalam sejarah aparatur militer negara, awal mula penggunaan kata oknum dimulai dari masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah Orba menggunakan kata oknum sebagai cara untuk menjaga nama baik institusi pemerintahan.

Media/pers dalam masa itu bahkan tanpa disuruh lagi akan menambahkan kata oknum apabila ada aparat negara yang melakukan kesalahan. “kalau ada alat negara, seperti polisi atau militer menjadi berita karena melakukan tindak kejahatan, tanpa harus disuruh lagi mereka wajib menuliskannya ‘oknum polisi’ atau ‘oknum ABRI’ dan semacam itu,” ungkap Seno dalam Majalah Tempo.

Oknumisasi menjadi warisan Orba yang digunakan hingga saat ini. Oknumisasi menjadi cara pemerintah untuk “mencuci tangan” dari kesalahan sistemik.

Kesalahan Terstruktur yang Di-individualisasi

Pada dasarnya, institusi bertanggung jawab penuh terhadap anggota yang ada di bawahnya. Saat ini, institusi seolah-olah melupakan tanggung jawab atas perilaku individu anggotanya.

Menurut peneliti Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional menyatakan bahwa institusi tidaklah boleh menggunakan kata oknum sebagai pelepasan tanggung jawab. Individu yang telah menunjukkan identitasnya sebagai anggota institusi tentunya mewakili diri sebagai anggota institusi.

“Karena seseorang yang disebut polisi sebagai oknum adalah seseorang yang berseragam polisi. Seseorang yang sudah menunjukkan identitasnya sebagai polisi.”

Dengan menggunakan istilah oknum, permasalahan terstruktur dan sistemik sebuah institusi akan tertanam dengan baik. Hal tersebut dikarenakan setiap permasalahan tersebut selalu diarahkan ke perilaku individu dan publik tidak diarahkan untuk melakukan pembenahan ke dalam tubuh institusi.

Latest articles