Pol Pot, Khmer Merah, dan Pembantaian Massal di Kamboja

ENSIPEDIA.ID, Jember – Saloth Sar atau biasa dikenal dengan Pol Pot merupakan perdana menteri Kamboja periode tahun 1976 hingga 1979. Ia terkenal sebagai pemimpin kejam yang tak segan untuk membantai rakyatnya sendiri. Kekejamannya tersebut dianggap sebagai masa paling kelam dari sejarah pemerintahan Kamboja.

Kisah tersebut bermula ketika ia bersentuhan dengan ideologi komunis saat menginjak usia remaja. Saat usianya belum genap 25 tahun, Pol Pot memutuskan berangkat ke Perancis untuk melanjutkan pendidikannya. Tidak hanya aktif di kelas, di sana Pol Pot mulai dikenalkan dengan French Communist Party (PCF)–partai Marxist-Leninist terbesar di Prancis.

Keputusannya bergabung dengan partai komunis kala itu terasa tepat. Ideologi komunis sedang naik daun setelah Partai Komunis China pimpinan Mao Zedong berhasil menduduki puncak kekuasaan.

Setelah tiga tahun menimba ilmu dan menjadi anggota aktif Partai Komunis Perancis, Pol Pot kembali ke Saigon dan bergabung dengan Khmer Viet Minh, partai asal Vietnam yang berideologi Marxis-Leninist. Dari Saigon ia bergerilya melawan Norodom Sihanouk yang baru saja membawa Kamboja merdeka dari Perancis, tapi gagal. Pada 1954 Khmer Việt Minh terdesak dan terpaksa mundur ke Vietnam Utara. Pol Pot kemudian pergi ke Phnom Penh dan bekerja sebagai guru dan ikut serta dalam merumuskan Kampuchea Labor Party. Partai tersebut kemudian berubah nama menjadi Communist Party of Kampuchea (CPK).

Setelah bertahun-tahun mengasingkan diri sambil menggalang kekuatan, Khmer Merah berhasil menguasai Kamboja pada 1975 dengan membangun dua belas divisi. Seratus batalyon bergerak di Phnom Penh, termasuk Divisi ke-11 dan 12 yang dipimpin oleh Vorn Vet. Dibantu milisi Việt Cộng yang sejak lama telah menjalin hubungan baik dengan Pol Pot, serta pasukan Vietnam Utara

Khmer Merah merupakan salah satu rezim paling brutal pada abad ke-20. Dilansir dari Britannica, selama rezim Khmer Merah berkuasa, terhitung 1,4 juta hingga 2,2 juta nyawa melayang akibat kerja paksa, kelaparan, penyiksaan, atau eksekusi saat menjalankan program reformasi sosial dan pertanian yang radikal.

Rezim Khmer Merah memaksa penduduk Kota Phnom-Penh untuk pindah ke wilayah pedesaan. Mereka dipaksa untuk meninggalkan pekerjaan lama mereka untuk terjun membuka lahan persawahan serta mengelola dan menanam padi. Pemindahan dari kota ke desa itulah yang menyebabkan korban berjatuhan karena mereka dipaksa long march beribu kilometer.

Kalapun mereka selamat di perjalanan jauh tersebut, mereka akan mendapatkan siksaan karena setiap hari dipaksa untuk bekerja dalam kondisi yang lama dan mengenaskan. Istirahat dan makan adalah dua hal yang berharga amat mahal. Banyak yang akhirnya meregang nyawa karena tenaganya habis, kelaparan akut, atau diterpa penyakit mematikan seperti malaria.

Para pekerja yang berusaha kabur atau melanggar peraturan akan dikenakan hukuman yang amat berat. Pelanggar biasanya akan dipisahkan secara diam-diam dari kelompoknya dan dibawa ke hutan atau tempat terpencil untuk dieksekusi mati.

Selain para pelanggar aturan, golongan lain yang dieksekusi adalah pejabat pemerintahan sebelumnya, para intelektual dan profesional yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dan fasih berbahasa asing, etnis minoritas (etnis China, Vietnam, Thailand serta agama minoritas, seperti Katolik, Buddha dan Muslim). Katedral yang ada di Phnom Penh dihancurkan, serta memaksa umat muslim untuk memakan daging babi. Bagi siapa saja yang menolak, maka akan dieksekusi mati.

Pol Pot juga menghapus uang sebagai alat tukar dan mewajibkan seluruh rakyat Kamboja untuk berpakaian serba hitam dengan model yang sama.

Kekuasaan Pol Pot dan Khmer Merah mencapai titik akhir setelah mereka menyatakan perang terhadap Vietnam karena dianggap sedang melakukan ekspansi yang mengancam kedaulatan Kamboja. Dalam peperangan tersebut Vietnam dibantu oleh Front Bersatu Kampuchea untuk Keselamatan Nasional (FUNSK), organisasi militan yang terdiri dari eks anggota Khmer Merah yang tidak sepakat dengan penguasa, serta dibantu juga oleh Amerika Serikat dan China.

Pada 7 Januari 1979, Vietnam yang dibantu oleh berbagai pihak berhasil merebut Phnom Penh dan menandai berakhirnya rezim Khmer Merah Pemerintahan baru yang diinisiasi aktivis anti-Khmer Merah segera terbangun, dan otomatis tidak diakui oleh sisa-sisa kekuatan Khmer Merah yang melarikan diri ke area dekat perbatasan dengan Thailand.

Setelah berganti kekuasaan, Pol Pot dijadikan tahanan rumah seumur hidup dan meninggal pada 15 April 1998 akibat serangan jantung. Jasad dari Pol Pot dibakar di pedesaan dan disaksikan secara langsung oleh beberapa mantan anggota Khmer Merah.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles