Tjokroaminoto dan 3 Murid Fenomenalnya

ENSIPEDIA.ID, Jember – Jauh sebelum menjalani hidupnya sendiri-sendiri beserta ideologi yang mereka bawa, Soekarno, Kartosoewirjo dan Semaoen, pernah berguru kepada pimpinan Serekat Islam, H.O.S Tjokroaminoto.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir pada tanggal 16 Agustus 1882 di Madiun, Jawa Timur.

Selain menjadi pemimpin pertama di organisasi Serekat Islam, beliau merupakan guru yang hebat, bahkan sangking hebatnya–Belanda menjulukinya dengan sebutan De Ongekroonde Koning van Java atau jika diterjemahkan memiliki makna “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. 

Bukan tanpa alasan, banyak murid-murid dari Tjokroaminoto yang menjadi tokoh-tokoh penting pergerakan sebelum kemerdekaan, sebut saja seperti Soekarno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), Semaoen, Alimin, Musso, Tan Malaka yang menjadi tokoh ‘kiri’, hingga SM Kartosoewirjo yang menjadi pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Soekarno

tjokroaminoto-dan-3-murid-fenomenalnya

Bapak proklamator Indonesia ini pernah berguru dengan H.O.S Tjokroaminoto pada usia yang masih tergolong belia, 15 tahun. Soekemi Sosrodihardjo, ayahanda dari Soekarno, menitipkan anaknya ke sana karena Soekarno melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger School (HBS). 

Pada saat itu, tepatnya tahun 1916, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto sudah menjabat sebagai ketua Serekat Islam, sebuah organisasi politik terbesar serta yang pertama menggagas nasionalisme.

Dalam salah satu biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Soekarno menganggap Tjokroaminoto sebagai idolanya. Dia belajar menggunakan politik sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Ia belajar tentang bentuk-bentuk pergerakan modern seperti organisasi massa serta pentingnya menulis di media. Sesekali, bapak proklamator yang satu ini, menggantikan sang guru di Media Oetoesan Hindia dengan nama pena Bima. Soekarno juga sering meniru gaya bicaranya dalan berpidato.

SM Kartosoewirjo

tjokroaminoto-dan-3-murid-fenomenalnya

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo muda memiliki ketertarikan terhadap dunia bergerakan ketika masih bersekolah di Nederlandsch Indische Artsen School pada tahun 1923. Ia juga gemar membaca buku-buku milik sang paman yang berhaluan kiri, Mas Marco.

Akibat-akibat dari buku yang ia baca dari sang paman tersebut, ia tertarik untuk terjun ke dunia politik dibuktikan dengan bergabung ke Jong Java dan kemudian Jong Islamieten Bond.

Dalam dunia pergerakan, Kartosoewirjo dibimbing oleh H.O.S Cokroaminoto sekaligus menjadi pembimbing spiritualnya. Tjokroaminoto amat diidolakan oleh pria kelahiran 7 Januari 1905 tersebut, terlebih lagi ketika guru agamanya melakukan pidato dalam berbagai pertemuan.

Guna membayar uang “mondoknya”, Kartosoewirjo bekerja di koran harian Fadjar Asia. Karena ketekunannya, ia dipercaya menjadi sekretaris Tjokroaminoto. Adapun isi tulisannya, Kartosoewirjo bangsawan Jawa yang bekerja sama dengan Belanda. 

Pada masa kemerdekaan, sekitar tahun 1945-1949, terlibat lebih aktif tetapi karena keaktifannya tersebut, ia sering bertolak belakang dengan pemerintah kala itu. Karena kekecewaan terhadap penguasa, ia memutuskan untuk membentuk Negara Islam Indonesia yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1949.

Perjuangannya guna membentuk Negara Islam Indonesia berakhir dan taj terwujud setelah tertangkap di wilayah Gunung Rakutak, Jawa Barat–pada tanggal 4 Juni 1962. Mirisnya lagi, presiden sekaligus teman satu kosnya waktu mondok di rumah Tjokroaminoto, Soekarno menandatangani eksekusi mati Kartosoewirjo pada September 1962.

Semaoen

tjokroaminoto-dan-3-murid-fenomenalnya

Semaoen tergolong masih belia ketika ia memutuskan untuk terjun ke dunia politik, yakni pada usia 14 tahun. Pada saat itu, Semaoen bergabung dengan Serekat Islam (SI) wilayah Surabaya.

Semaoen bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) cabang Surabaya–sebuah organisasi sosial demokrat–setelah pertemuannya dengan salah satu tokoh komunis Belanda, Henk Sneevliet, pada tahun 1915.

Akibat begitu aktif dalam dunia pergerakan, membuat pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) ini berhenti bekerja di perusahaan kereta Belanda. Ketika pindah ke Semarang, Semaoen bekerja sebagai redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang.

Pada tahun 1918 dia menjadi anggota dewan pimpinan SI. Bersama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen banyak terlibat dalam aksi pemogokan buruh, ini juga merupakan impiannya yang ingin mewujudkan cita-cita Sneevliet dalam memperkuat dan memperbesar gerakan komunisme di Hindia-Belanda.

Namun usahanya dalam mensukseskan pengaruh komunisme di Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah kegagalan. Setelah kegagalannya itu, ia bekerja sebagai pegawai pemerintah dan mengajar mata kuliah ekonomi di Unpad Bandung.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles