Tan Malaka: Bapak Jomblo Revolusioner

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau yang lebih dikenal sebagai Tan Malaka adalah salah satu tokoh bangsa yang terlupakan. Beliau lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat. Bapak bangsa yang pertama kali mencetuskan konsep “Republik” ini pun ternyata pernah menjalin hubungan asmara dengan beberapa wanita semasa hidupnya. Namun sayangnya, di akhir hayatnya, beliau meninggal tanpa menanggalkan status lajangnya yang sampai kini sangat disayangkan oleh kaum pria, namun sangat didambakan oleh kaum wanita. Terlebih lagi jika beliau masih hidup hingga sekarang. Jadi, seperti apa kisah lengkapnya? Mari, kita ulas bersama-sama.

Di usia yang sudah menginjak 17 tahun, ia diberikan dua pilihan oleh ibunya, yakni menerima gelar “Datuk” sebagai gelar tertinggi yang akan menggantikan ayahnya nanti atau segera menikah dengan wanita pilihan ibunya. Dan, pilihannya adalah ia bersedia memangku gelar tersebut daripada harus terperangkap dalam perjodohan, sebab ternyata ada wanita lain yang sudah memikat hatinya terlebih dahulu.

Syarifah Nawawi adalah orang yang bertanggung jawab atas keputusan yang diambil oleh Tan Malaka pada rapat tetua adat Nagari Pandam Gadang, Lima Puluh Kota, yang mengharuskannya menjabat sebagai petinggi di sana. Syarifah Nawari merupakan anak keempat dari Nawawi Sutan Makmur—guru bahasa Melayu di Kweekschool.

Syarifah adalah wanita Minang pertama yang mengenyam pendidikan ala Eropa. Menurut catatan Gedenkboek Kweekschool 1873-1908, Syarifah dan Tan Malaka merupakan angkatan tahun 1907. Syarifah menjadi primadona di sana karena ia merupakan satu-satunya wanita. Kemudian, tak lama setelah penobatan, Tan Malaka melanjutkan studinya ke Belanda sehingga harus berpisah dengan pujaan hatinya, Syarifah Nawawi.

Meskipun jarak memisahkan mereka, namun itu tidak dijadikan alasan oleh Tan Malaka untuk memutuskan hubungan dengan Syarifah. Justru hal tersebut membuatnya semakin rajin mengirimkan surat kepada Syarifah. Namun sialnya, ternyata cinta itu bertepuk sebelah tangan. Syarifah tidak pernah sama sekali membalas surat-surat itu. Dan akhirnya, terdengar kabar bahwa Syarifah Nawawi telah menikah dengan Bupati Cianjur, R.A.A. Wiranatakoesoema, yang sudah memiliki lima anak dari dua selir pada tahun 1916. Nahasnya, pada tahun 1924, Wiranatakoesoema menceraikan Syarifah lalu kemudian menikah dengan wanita lain lagi.

Berangkat dari situ, muncullah sebuah anekdot yang mengisahkan bahwa alasan Tan Malaka berhaluan kiri karena kegagalannya dalam mendapatkan cinta pertamanya. Ia menjadi anti-feodal dan anti-borjuis karena sosok pujaan hatinya yang direbut dan dibuang begitu saja. “Ketika Tan Malaka mendengar Syarifah dikawin Wiranatakoesoema, lantas diceraikan begitu saja. Tan jadi dendam pada kaum feodal dan kemudian jadi komunis. Ini cerita yang beredar di kalangan masyarakat Bukittinggi,” ujar Joesoef Isak sebagai salah satu yang mempopulerkan anekdot tersebut. Ingat, hanya anekdot, bukan berarti yang sebenarnya.

Kemudian, selepas kejadian itu, Tan Malaka mulai membuka hatinya untuk wanita lain, yakni Fenny Struyvenberg, mahasiswi kedokteran berdarah Belanda. Kabarnya, Fenny sering terlihat selalu datang ke pondokan Tan Malaka. Menurut sejarawan, Hary Poeze, Fenny sempat dekat dengan Tan Malaka, namun tak pernah jelas arah hubungan mereka mau dibawa kemana. Minimnya catatan dan keterangan soal hubungan mereka pun menjadi penghambat dalam mendalami kisah mereka.

Tan Malaka memang suka menuliskan kisahnya dengan beberapa wanita yang berbeda-beda dari negara-negara yang pernah dikunjunginya. Dalam bukunya “Dari Penjara ke Penjara”, kita bisa melihat bahwa terdapat nama-nama wanita di dalam buku tersebut. Semasa tinggal di Manila, Filipina, pada tahun 1927 dengan nama samaran Elias Fuentes, Tan Malaka sempat jatuh cinta kepada seorang wanita. “Nona Carmen” sebutannya, anak perempuan dari Rektor Universitas Manila. Wanita tersebut yang memberikan petunjuk untuk memasuki Filipina, mengajari bahasa Tagalog, bahkan sampai merawat Tan Malaka selama ia tinggal di sana.

Hubungan dengan Nona Carmen di Filipina pun tidak berlangsung lama karena Tan Malaka ditangkap intelijen Amerika dan berakhir di pengadilan Manila yang memutuskan untuk mendeportasinya keluar dari Filipina. Di Tiongkok, dalam keadaan melarat, kabarnya ada seorang wanita yang merawat beliau. Tidak begitu jelas hubungan mereka seperti apa. Kemudian, pada saat ia mengunjungi Amoy, Xiamen, lalu mendirikan sekolah bahasa asing. Di sana, ia bertemu dengan gadis Amoy yang berusia 17 tahun berinisial “AP”. Gadis tersebutlah yang meminta beliau untuk mengajarinya bahasa Inggris. Dan, seperti biasa, hubungan mereka tidak jelas dan tidak terdapat catatan kecil di dalam memoar Tan Malaka.

Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, Tan Malaka mulai menampakkan dirinya secara terang-terangan setelah sebelumnya kerap kali singgah di beberapa negara. Ketika ia megunjungi salah satu kawan lamanya, yakni Ahmad Soebardjo, ia langsung terpikat pada keponakan mantan Menteri Luar Negeri ini. Namanya adalah Paramita Rahayu Abdurrachman. Hubungan beliau dan Paramita cukup serius sehingga banyak orang yang menyangka bahwa mereka telah bertunangan. Padahal, selisih usia mereka cukup jauh, yakni terpaut 26 tahun. Paramita mengaku mencintai beliau, tetapi pertunangan itu tidak sampai ke jenjang pernikahan sebab titik fokus beliau adalah sibuk dengan kegiatan politiknya.

Paramita menjadi wanita terakhir yang mengisi kisah hidup Tan Malaka, sang Bapak Republik Indonesia. Akhir yang tragis karena ia tidak sempat menjalin rumah tangga selayaknya pemimpin-pemimpin lainnya.

Sebelum Beliau meninggal, ia pernah ditanyai oleh koleganya di Persatuan Perjuangan, yakni Adam Malik yang berbunyi, “Bung, apa Bung pernah jatuh cinta?”. Beliau langsung menjawab, “Pernah. Tiga kali. Sekali di Belanda, sekali di Filipina, dan sekali lagi di Indonesia. Tetapi, ya, semua itu katakkanlah cinta yang tak sampai. Perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan.”

[Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kisah Bapak Jomblo Revolusioner]

Dalam sepenggal kisahnya, Beliau pernah ditolak cintanya, bahkan untuk yang kedua kalinya oleh Syarifah Nawawi—orang yang sama yang dulu pernah mencampakkan Tan Malaka. Namun, ia tidak langsung merasa seakan-akan dunia sedang kiamat, melainkan malah terus mengembangkan diri tanpa merasa dihambat oleh probelamatika cinta yang kerap kali dihadapinya.

Tidak hanya berhenti di situ saja, berkat kegigihan dan pemikiran revolusionernya, banyak wanita yang kagum dan mulai mendekatinya seperti wanita-wanita di atas yang pernah berlabuh mengitari hati Beliau. Oleh karena itu, jangan sampai kita menjadikan persoalan pahit cinta sebagai sesuatu yang destruktif dan bisa meruntuhkan kehidupan kita. Bersedih, menangis, kecewa, dan mengeluarkan ekspresi emosional lainnya itu boleh, asalkan jangan berlebihan, apalagi yang mengatasnamakan cinta.

Mari, berkaca pada perjalanan asmaranya Beliau. Tetapi, ingat, bersembunyi di balik nama Tan Malaka saat diejek oleh teman-temanmu, tidak akan menjadikanmu sebagai jomblo yang revolusioner, Fren.

Mikhael
an ordinary guy who wants to live as a human being.

Latest articles