Home Berita Nasional Prediksi Bappenas: Indonesia Akan Kehabisan Petani pada Tahun 2063, Hilangnya Generasi Petani...

Prediksi Bappenas: Indonesia Akan Kehabisan Petani pada Tahun 2063, Hilangnya Generasi Petani Muda

182
Petani Tua

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Petani merupakan pekerjaan yang menyangga tatanan pangan Indonesia. Bung Karno pernah berpidato dan mengungkapkan bahwa petani merupakan singkatan dari Penyangga Tatanan Negara. Hal ini membuktikan bahwa peran petani sangatlah penting bagi bangsa. Terlebih lagi bahwa Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah.

Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia diprediksi pada tahun 2063 akan kehabisan orang-orang yang berkiprah sebagai petani. Begitu pula hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga lainnya bahwasanya petani di Indonesia semakin menua dan kehilangan generasi-generasi muda yang berminat menggeluti profesi ini.

Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi? “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” akankah penggalan lagu “Kolam Susu” yang ditembangkan oleh Koes Plus tersebut hanya menjadi dongeng di masa depan ketika anak cucu kita selalu mengimpor beras, jagung, gandum, dan bahan makanan lainnya dari luar negeri?

Petani dalam Data

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan, rata-rata usia petani Indonesia saat ini adalah 52 tahun. Sementara itu, generasi muda yang tertarik menjadi petani hanyalah berkisar di angka 3%.

Sementara itu, Bappenas pernah mengungkapkan bahwa pada tahun 1976, proporsi pekerja Indonesia yang bekerja sebagai petani atau pekerja lainnya yang berada di sektor pertanian mencapai 65,8%. Namun, angka tersebut semakin menyusut. Pada tahun 2019, proporsi pekerja Indonesia yang berada di sektor pertanian hanya sebesar 28%. Penurunan yang sangat drastis dan mengancam petani Indonesia yang berada di ambang kepunahan.

Seiras dengan LIPI dan Bappenas, Badan Pusat Statistik (BPS) memetakan usia petani di Indonesia pada tahun 2018. Sekitar 7,8 Juta petani memiliki usia yang cukup tua yaitu berada di rentang usia 45-55 tahun. Petani yang berusia 30-40 tahun memiliki angka yang lebih sedikit yaitu sekitar 6 juta orang. Sementara itu, petani yang berusia muda dengan kata lain berusia sekitar 20 tahun hanya terdiri dari 2,9 juta orang. Hal ini kembali menunjukkan bahwa minat anak muda terhadap pekerjaan petani sangatlah minim.

Apa Penyebab Rendahnya Minat Anak Muda untuk Menjadi Petani?

Petani Muda

Berikut beberapa alasan mengapa anak muda enggan menjadi petani:

  1. Akibat Kebijakan Pemerintah

Pemerintah memanglah sangat gencar menggaungkan jargon kedaulatan pangan.  Namun demikian, sektor pembangunan di Indonesia lebih banyak ke arah manufaktur. Sungguh menjadi sebuah paradoks ketika pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang swasembada pangan, tetapi malah menutup mata dengan sektor pertanian.

Kebanyakan kebijakan pemerintah hanya menyentuh di sektor hulu seperti pemberian bantuan mesin, pupuk, dan peralatan produksi lainnya. Pemeritah mengabaikan sektor hilir seperti harga jual, pengolahan hasil pertanian, hingga pemberdayaan petani muda.

  1. Penghasilan yang Kecil

Sebagian besar anak muda di desa berasal dari keluarga yang menggantungkan dirinya di sektor pertanian. Namun demikian, sangat sedikit anak petani yang ingin melanjutkan profesi petani dari orang tuanya. Kebanyakan dari orang tua yang berprofesi sebagai petani pun enggan melihat anaknya bertani. Mereka akan berusah keras menyekolahkan mereka guna mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Melihat data yang diperoleh dari KRKP, Upah rata-rata pekerja petani di Indonesia sangatlah minim. Pada tahun 2013, per tahunnya, petani hanya mendapat upah sebesar 34 juta. Berbeda jauh dengan sektor perbankan yang mendapat upah 230 juta/tahun dan sektor pertambangan yang mendapat upah 700 juta/tahun.

  1. Rendahnya Minat Anak Muda dan Kekurangan Lahan Garapan

Anak muda saat ini lebih tertarik ke pekerjaan yang berada di dalam ruangan. Pekerjaan petani dinilai sangat berat dengan pendapatan yang sedikit. Dalam sebuah desa, kebanyakan anak muda lebih suka merantau ke kota ketimbang bertani atau bersawah.

Faktor lainnya, terkait kekurangan lahan. Bayangkan saja, sebuah keluarga anak 3 yang memiliki 1 hektar sawah. Sangat tidak logis apabila tanah sekecil tersebut harus dibagi menjadi 3.  Mereka akan berpikir untuk lebih baik mencari penghidupan lainnya.