Perlawanan Hacktivist: Peretasan sebagai Simbol Protes Baru kepada Pemerintah

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Beberapa pekan belakangan ini, pemerintah sedang disibukkan oleh serangan siber oleh seorang/sekelompok peretas bernama Bjorka. Sudah banyak aksi yang Bjorka lakukan, mulai dari menyebarkan data pengguna provider hingga menyebarkan data pribadi pejabat pemerintahan. Namun demikian, di balik aksi merugikan pemerintah itu, netizen di media sosial malah berada di posisi mendukung Bjorka. Ini merupakan sebuah sinyal bahwa masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah dalam hal perlindungan data pribadi.

Berbeda dengan hacker atau peretas lainnya yang memiliki motif ekonomi atau kesenangan dalam melakukan kejahatan, Bjorka memiliki motif lain berupa agenda sosial dan politik. Oleh seorang ahli teknologi informasi dari UGM, Ridi Ferdiana menyatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh Bjorka termasuk sebagai hacktivism. menurut Ridi, hacktivism adalah kegiatan hacking atau peretasan untuk motif sosial dan politik.

Walaupun belum ada bukti yang memadai bahwasanya Bjorka murni melalukan sebagai aksi sosial politik. Namun, dilihat dari protes yang ia lakukan, terdapat nada yang menginginkan agar pemerintah lebih peduli terhadap perlindungan data pribadi.

Terminologi Hacktivism

Istilah hacktivism tentunya mulai dikenal belakangan ini ketika perkembangan teknologi informasi telah berkembang sangat pesatnya. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Jordan dan Taylor bertajuk Hacktivism and Cyberwar mendifinisikan hacktivism sebagai: “Bentuk aktivisme yang menggunakan teknologi komputer untuk menunjukkan pesan politik. Simbol dalam ranah elektronik menjadi penanda tersendiri dalam demokrasi ruang siber.”

Dalam hal ini, ada pesan politis yang ingin disampaikan oleh hacktivist. Terminologi tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari istilah aktivisme yang berarti gerakan melakukan perubahan atau mendorong perubahan ke arah yang dianggap lebih baik lagi.

Hacktivism bertujuan untuk membawa masalah ke permukaan dan mendorong perubahan sosial. Kegiatan ini juga bisa dianggap sebagai aktivisme karena cara pencapaian tujuannya dilakukan dengan cara yang relatif damai.

Hacktivism sebagai Bentuk Protes Baru

Mereka menggunakan keahlian yang mereka miliki untuk bersuara agar terdengar oleh pemerintah atau kelompok kepentingan tertentu. Saat pemerintah atau kelompok kepentingan yang berkuasa tak lagi mau mendengar suara-suara teriakan di lapangan, hacktivism beserta para hacktivist-nya hadir sebagai bentuk suara baru yang dinilai lebih terdengar.

Kampanye-kampanye hacktivist di Indonesia dan dunia sudah sering terdengar. Oleh karena itu, saat Bjorka melakukan aksinya beberapa bulan yang lalu, netizen sudah mengakui bahwa aksi Bjorka adalah aksi untuk melawan pemerintah.

Kelompok-Kelompok Hactivist di Seluruh Dunia

Aksi peretasan untuk kampanye sosial ini sudah berlangsung ketika era cyberspace dimulai. Sudah banyak kelompok-kelompok yang populer di telingan netizen. Kelompok yang paling terkenal adalah Anonymous. Kelompok ini merupakan sekumpulan hacker yang saling bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Salah satu isu yang paling mereka angkat ialah isu terorisme. Mereka kerap menjalankan aksi yang ditargetkan kepada ISIS dan Al-Qaeda.

Gerakan-gerakan yang mereka lakukan bersifat reaktif, intensif, dan periodik. Ada banyak operasi-operasi yang mereka lakukan. Hal yang paling gencar dilakukan ialah dengan cara membocorkan dokumen penting suatu negara atau kelompok. Sama seperti yang dilakukan oleh Bjorka belakangan ini. Mereka juga kerap mengubah laman website penting dengan menyematkan pesan-pesan tertentu.

Seperti Robin Hood masa kini, para hacktivist bekerja untuk menyuarakan hal-hal yang kurang terdengar oleh pemerintah atau pemangku kepentingan.

Latest articles