Perang Mu’tah, Gugurnya 3 Jenderal Kaum Muslimin

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Mu’tah pada zaman Nabi Muhammad menjadi saksi penting sejarah perkembangan agama Islam. Mu’tah merupakan kampung yang berada di provinsi Kerak, Yordania.

Mu’tah pernah menjadi tempat perang kaum muslimin melawan bangsa Romawi. Perang Mu’tah terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah dan merupakan salah satu dari berbagai perang yang dihadapi umat Islam pada zaman Jahiliyyah.

Perang ini menjadi saksi gugurnya 3 jenderal Islam dan awal mula dikenalnya nama Khalid bin Walid. Seperti apa kisahnya? Simak ulasannya berikut ini

Latar Belakang Perang Mu’tah

Setelah terjadinya perjanjian damai Hudaibiyyah disepakati, Rasulullah mengirimkan delegasi dan surat kepada raja-raja yang berada di luar Arab. Salah satunya adalah raja Heraclius, Kekaisaran Romawi Timur.

Namun, pesan damai Rasulullah tersebut ditolak mentah-mentah Heraclius dan justru membunuh al-Harits bin ‘Umair yang saat itu ditugaskan untuk menjadi delegasi yang mengirim surat kepada Kekaisaran Romawi Timur.

Pada tahun yang sama juga utusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al Talh terbunuh oleh penguasa sekitar. Hal ini sangat aneh karena utusan-utusan sebelumnya pergi dan pulang dengan aman-aman saja.

Dalam dunia politik masa itu, membunuh delegasi adalah tantangan perang dan hal ini membuktikan bahwa umat Islam tidak pernah memulai perang.

Pertempuran Perang Mu’tah

Dengan tindakan raja Heraclius itu, maka Nabi Muhammad SAW memberangkatkan 3000 pasukan serta 3 panglima perangnya, yakni Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan seorang sahabat Anshar, Abdullah bin Ruwahah.

Khalid bin Walid sendiri berada pada barisan kaum muslimin namun bukan sebagai panglima perang, dia hanya sebagai prajurit biasa pada waktu itu.

Kekaisaran Romawi Timur yang saat itu sangat adidaya menyiapkan 200.000 pasukan yang terdiri dari 100.000 pasukan Romawi dan 100.000 kaum kaf*r Arab.

Jika kita menghitung menggunakan logika dari kedua pasukan tersebut maka seorang prajurit kaum muslimin harus melawan 70 orang pasukan dari Romawi.

Pertempuran kedua pasukan tersebut akhirnya pecah, singkatnya ketiga panglima perang yang ditunjuk oleh Rasulullah saw berhasil takluk dan terbunuh oleh pasukan Romawi.

Kemudian, Tsabit bin Arqam mengambil bendera kaum muslimin dan berseru agar cepat menentukkan pengganti panglima perang kaum muslimin. Maka, seluruh pasukan membaiat Khalid bin Walid sebagai pemimpin karena kecerdikannya dalam melakukan siasat dan strategi perang.

Awalnya, Khalid bin Walid menolak usulan tersebut karena beliau sadar bahwa baru kemarin sore dia bergabung dan memeluk agama Islam. Namun, karena semua pasukan sepakat menunjuknya maka dia bersedia jadi panglima di Perang Mu’tah tersebut.

Khalid bin Walid mulai menyusun pasukan perang yang kocar-kacir, beliau mampu membabat pasukan romawi sembari memegang panji dengan tangan kirinya. Pada akhirnya kaum muslimin berhasil memukul mundur dan membuat kerugian yang banyak bagi pasukan Romawi.

Pasca Pertempuran Perang Mu’tah

Pasukan Islam yang masih hidup pulang dengan selamat dan disambut dengan penuh kegembiraan. Para ahli sejarah mencatat total hanya 12 pasukan kaum mulimin yang gugur, sedangkan pasukan Romawi yang tewas pada peperangan itu mencapai angka ratusan.

Hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa Khalid telah menghabiskan 9 pedang dalam perang tersebut dan menyisakan 1 pedang saja yang merupakan buatan Yaman.

Sejak saat itu, Khalid bin Walid dikenal dengan sebutan Sayf Allāh al-Maslūl yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti pedang Allah yang terhunus.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles