Peran Pelacur dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

ENSIPEDIA.ID, Jember –  “Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia” ujar Soekarno kepada Cindy Adams, penulis buku Sukarno An Autobiography as Told to Cindy Adams.

Seperti yang diketahui, bahwa perjuangan para pahlawan dalam mencapai kemerdekaan Indonesia dilalui dengan susah payah, semua kalangan warga Indonesia turut berjuang agar bebas dari penjajahan, tak terkecuali para pelacur.

Perjuangan tidak hanya dilakukan oleh para pemuda-pemuda yang tangguh serta orang-orang terpelajar. Pelacur, rampok, maling ataupun sejenis juga turut memberikan sumbangsihnya. Para pelacur biasanya ditugaskan untuk mengumpulkan informasi serta melakukan sabotase.

Adapun ide awal dalam melibatkan para pekerja “hitam” ini berasal dari Mayor Jenderal dr. Moestopo. Ide itu berawal dari Moestopo yang mendengar keluh kesah dari Sultan Hamengku Buwono IX terkait dengan banyaknya pengungsi, sehingga menyebabkan Yogyakarta menjadi sesak dan rawan tindakan kriminalitas.

Pria kelahiran 13 Juni 1913 itu pun berpikir bahwa, daripada menyusahkan sesama rakyat Indonesia, akan lebih elok jika diajak dalam perjuangan melawan penjajah. Para tindak kriminal dan pekerja seks seluruh Yogyakarta, Surabaya serta Gresik pun dikumpulkan dalam satu barisan yang diberi nama Barisan P.

Karena tak memiliki latar belakang militer, maka Mayor Jenderal dr. Moestopo meminta bantuan kepada Kolonel TB Simatupang untuk melatihnya. Lalu, sekitar 100 personil Barisan P ikut Moestopo ke Subang, dan menamainya dengan Terate (Tentara Rahasia Tinggi), yang terbagi atas dua jalur, yakni Barisan Maling dan Barisan Wanita Pelatjoer (BWM). Tidak hanya Moestopo, terdapat perwira lain yang memiliki personil Barisan P, seperti Kahar Muzakkar dan Zulkifli Lubis.

Barisan ini diajarkan tentang dasar-dasar kemiliteran serta telik sendi dan dilatih menyanyikan lagu nasional juga pendidikan kebangsaan. Adapun wilayah operasi dari Barisan P yang berada di Yogyakarta, meliputi Lempuyangan, Malioboro, Bong Suwung, Kuncen, Kepatihan serta sekitar stasiun tugu.

Dalam melaksanakan tugas mencari berbagai informasi, Barisan P mengoreknya ketika melayani “londo ireng” di atas ranjang. Para londo ireng tersebut juga tidak menyadari bahwa mereka sedang dikorek mengenai hal-hal yang bersifat rahasia, seperti jalan tikus ke markas Belanda hingga rute pelarian.

Tidak hanya untuk mencari informasi, juga ikut menyabotase musuh. Sementara itu, anggota-anggota lain mempunyai tugas yang beragam. Pencopet bertugas mencuri barang orang kaya di pasar serta mencuri perlengkapan milik musuh, pengemis bertugas nguping pembicaraan Belanda serta perampok biasanya menggasak rumah orang kaya sebagai pendanaan revolusi.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles