May Day: Memperingati Hari Buruh Internasional

ENSIPEDIA.ID, Sukabumi – Hari ini pada tanggal 1 Mei 2021, kita memperingati hari perayaan yang cukup besar dan fenomenal yang dinamakan sebagai May Day atau Hari Buruh Internasional. May Day merupakan gerakan bersejarah yang menorehkan banyak catatan perjalanan dan perubahan yang panjang sehingga berpengaruh pada peradaban dunia, terutama mengenai kesejahteraan para buruh sebagai aktor dan inisiator utamanya. Lantas, bagaimana sepak terjang dan awal mula terciptanya gerakan ini? Mari kita bahas bersama-sama.

May Day adalah hari di mana kita memperingati perjuangan para pekerja atau buruh yang dulunya diperlakukan secara tidak manusiawi dan tidak mendapatkan kelayakan penghidupan yang cukup. Sebelumnya, May Day ini merujuk pada perayaan pergantian musim ke musim semi di Amerika Serikat. Dalam perayaan tersebut dimaknai sebagai hari persatuan, kebersamaan, dan kelahiran kembali bagi semua orang untuk merayakan kehidupan. Kendati demikian, Amerika Serikat tidak merayakan Hari Buruh pada 1 Mei, namun pada bulan September. Alasannya untuk menghindari catatan kelam yang terjadi pada tahun 1886. Berbeda dengan rivalnya, Uni Soviet yang mengesahkan 1 Mei sebagai perayaan Hari Solidaritas Buruh Internasional. May Day ini pun telah lama menjadi titik fokus demonstrasi bagi kelompok komunis, sosialis, bahkan anarkis.

Memasuki abad ke-19, pergeseran makna May Day pun terjadi kala itu karena salah satu faktornya adalah keselamatan dan kesejahteraan para buruh yang tidak diperhatikan. Awalnya, banyak anak-anak yang dipaksa bekerja di tambang dan puluhan pekerja meninggal setiap tahunnya akibat kondisi kerja yang buruk dan tidak terjamin.

Kolektivitas dan solidaritas antar pekerja pun memuncak sehingga menimbulkan persatuan di kalangan organisasi buruh dan aliansi pergerakan pekerja untuk mulai menuntut hak-hak mereka. Dengan begitu, aksi demonstrasi pun tidak terelakkan. Salah satu tuntutannya adalah “Gerakan Delapan Jam” yang dirasa cukup dan layak untuk kaum pekerja. Pada saat semuanya sudah turun ke jalan pada 1 Mei 1886, semuanya terlihat kondusif. Tetapi, selang beberapa hari pada aksi pertama, semuanya menjadi berubah dan terkesan mencekam karena terjadinya pertempuran antara demonstran dengan aparat sehingga menewaskan beberapa pekerja yang terlibat. Keesokan harinya, pertemuan di Chicago’s Haymarket Square diselenggarakan untuk menindaklanjuti kasus kematian beberapa pekerja di hari sebelumnya.

Pertemuan itu pun awalnya berjalan dengan tenang dengan dihadiri oleh wali kota Chicago, Carter Harrison. Sialnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama karena ada tindakan provokatif yang dilakukan oleh salah satu massa yang melemparkan bahan peledak ke arah polisi. Akhirnya, kejadian sebelumnya pun terulang kembali yang menyebabkan penembakan secara membabi-buta oleh aparat kepada massa yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Akhirnya, peristiwa di Haymarket pun menjadi salah satu sumber bersejarah mengapa gerakan May Day ini terbentuk. Upaya-upaya para aktivis dan pegiat lainnya juga berperan penting dalam mencapai kesejahteraan buruh yang harus diperjuangkan terlebih dahulu.

Terlepas dari itu semua, apakah kaum buruh atau pekerja sudah sejahtera, terutama di Indonesia? Mari kita telisik lebih jauh perkembangannya.

Buruh atau pekerja merupakan salah satu elemen yang kuat untuk melangsungkan serta melanggengkan perputaran roda perekonomian, baik bagi dirinya ataupun korporasi yang mempekerjakannya. Negara sebagai pihak ketiga untuk menjembatani kepentingan mereka tentunya harus bersikap adil dan tidak tendensius. Namun sayangnya, negara kerap kali terjerat dalam buaian para investor dan korporat sehingga kemaslahatan dan keselamatan para buruh dikesampingkan begitu saja.

Akhir-akhir ini kaum yang termarginalkan seperti buruh dan pekerja sedang menghadapi kebijakan negara yang “semrawut”, yakni terkait dengan Undang-Undang Cipta Kerja yang disinyalir merugikan klaster ketenagakerjaan buruh. Selain itu, para buruh juga dalam aksinya nanti akan mendesak pemerintah untuk segera memberlakukan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) pada 2021.

Ditambah, buruh semakin merugi akibat wabah pandemi yang menjalar ke pemotongan upah, bahkan PHK secara besar-besaran yang dilakukan oleh pihak perusahaan. Menurut catatan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), pada 2021 sekarang akan terjadi PHK besar-besaran lagi yang akan menimpa buruh di sektor manufaktur. Seperti yang kita tahu bahwa di beberapa industri tekstil, garmen, dan lainnya sudah terjadi PHK. Ditambah dengan industri otomotif yang sudah melakukan PHK kepada sebagian tenaga kerjanya.

Sudah seharusnya pemerintah dikritik dan didesak atas gagalnya kinerja mereka dalam menyelamatkan nasib buruh, ditambah ketika Menteri Ketenagakerjaan tidak berhasil menunaikan tugasnya untuk melarang perusahaan yang mem-PHK buruh secara sepihak.

Kemelaratan di mana-mana. Kesengsaraan tak bisa dihindari. Oleh karena itu, kaum buruh beserta elemen lainnya merencanakan aksi protes atas nasib buruh yang tak kunjung menemukan titik terang. Di sisi lain, negara malah merepresi perhimpunan yang terlibat aktif dalam aksi ini. Bisa dilihat ketika aksi di lapangan pada beberapa waktu ke belakang ketika UU Ciptaker ini masih berstatus RUU. Banyak sekali kawan-kawan, baik dari buruh ataupun mahasiswa yang mendapatkan kekerasan dan penahanan oleh aparat. Bukannya menyediakan solusi, eh malah menimbulkan masalah baru lagi.

Tuntutan serta keresahan buruh di atas hanyalah secuil dari banyaknya problematika yang ada. Dimulai dari polemik upah minimum, kerancuan nilai pesangon, kebebasan outsourcing tanpa batas dan kontrak yang diperluas terkait fleksibilitas pasar kerja, dan kesemrawutan lainnya.

Jadi, mengingat tema hari ini yang kita bahas tentang May Day. Sudah sejahtera’kah buruh atau pekerja di Indonesia? Silakan berkomentar.

Mikhael
an ordinary guy who wants to live as a human being.

Latest articles