Lukisan Gua Tertua di Dunia Ada di Sulawesi, Bukti Kecerdasan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

ENSIPEDIA.ID – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Universitas Griffith, Australia berhasil memperkirakan usia lukisan gua tertua di dunia yang terletak di Gua Leang Tedongnge, Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Lukisan bergambar babi hutan tersebut diperkirakan sudah berumur 45.500 tahun.

Dalam jurnal Science Advance yang memuat publikasi hasil penelitian tersebut, dimensi lukisan gua tersebut berukuran 136 cm x 54 cm. Dalam lukisan tersebut, terlihat seekor babi hutan sulawesi (Sus celebensis). Terdapat pula gambar dua ekor babi lainnya yang sudah mulai terkelupas dari dinding gua, satu gambar babi telah hilang seutuhnya. Selain gambar babi sulawesi, dalam dinding gua tersebut bisa dilihat cap tangan yang diduga dibuat dalam periode bersamaan dengan gambar babi.

Gua Leang Tedongnge

Lokasi Lukisan Gua Tertua – Leang Tedongnge

Gua Leang Tedongnge berasal dari bahasa Bugis-Makassar. Leang berarti gua sedangkan tedongge berarti kerbau. Warga di sekitar gua tersebut dahulunya menggunaan gua sebagai tempat bernaung kerbau ketika banjir datang.

Lukisan gua pertama kali ditemukan oleh mahasiswa doktoral bernama Basran Burhan pada tahun 2017 dalam survei yang dilakukan bersama tim yang berwenang. Menurut pengakuan Basran, ketertarikannya untuk menuju ke lokasi tersebut dikarenakan keunikan letak geografis Leang Tedongnge saat dipetakan. Benar saja, gua tersebut menjadi saksi keberadaan manusia yang sudah memiliki kemampuan kognitif ditandai dengan adanya lukisan-lukisan gua.

Leang Tedongnge berada di daerah perbukitan karst di Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan. Lokasi tersebut juga dikelilingi oleh ratusan gua lainnya. Ini membuktikan bahwa pada zaman dahulu, ada kelompok masyarakat yang mendiami daerah tersebut.

Sampai saat ini, lokasi persis dari Leang Tedongnge masih dirahasiakan untuk mencegah perusakan seperti vandalisme oleh tangan-tangan usil. Leang Tedongnge menjadi aset arkeologi berharga yang menyimpan banyak nilai sejarah.

Narasi dalam Gambar Dinding Gua

Lukisan Gua Tertua

Gambar babi dalam dinding gua tersebut dilukis menggunakan pigmen berwarna merah yang berasal dari bata merah. Teknik melukisnya diduga menggunakan kuas dengan goresan-goresan pendek. Sedangkan cetakan telapan tangan diduga dilukis dengan cara menyembur pigmen warna merah ke dinding gua yang telah ditempeli tangan sebagai cetakan.

Selain mengamati gambar babi yang masih utuh, peneliti juga berusaha menguraikan dua gambar babi lainnya yang sudah mulai terkelupas dengan menggunakan piranti lunak. Mereka menarasikan bahwa babi yang berukuran besar tersebut sedang menyaksikan perkelahian antara dua babi lainnya.

“Babi itu tampaknya mengamati perkelahian atau interaksi sosial antara dua babi kutil lainnya,” kata seorang peneliti.

Sedangkan cetakan telapak tangan menginformasikan bahwa sejak zaman dahulu manusia di kawasan tersebut sudah akrab melakukan perburuan babi.

Peneliti mengungkapkan bahwa manusia yang melukis lukisan tersebut ingin menggambarkan episode interkasi sosial antarbabi sulawesi. Selain itu, gambar dinding gua tersebut memberitahukan kepada kita semua bahwa praktik perburuan babi telah dilakukan sejak zaman dahulu.

Metode Penentuan Usia Lukisan

Lukisan Gua Tertua

Dalam jurnal Science Advance dijelaskan juga bahwa untuk melakukan penanggalan (penentuan usia), dilakukanlah identifikasi terhadap deposit kalsit. kemudian menggunakan isotop seri uranium yang bertanggal untuk dengan yakin mengatakan bahwa deposit tersebut berusia 45.500 tahun.

Dengan metode ini, usia 45.500 tahun adalah usia minimum. Artinya, bisa saja lukisan ini memiliki usia lebih tua.

“Tapi bisa jadi lebih tua karena penanggalan yang kami lakukan hanya terhadap kalsit di atasnya,” ucap peneliti spesialis penanggalan.

Bukti Kecerdasan Nenek Moyang Bangsa Kita

Lukisan Gua Tertua

Menurut AAAS, juga seorang peneliti, mengatakan lukisan hewan dari Leang Tedongnge adalah karya seni representasional paling awal yang dikenal di dunia. Tidak ada lukisan setua itu yang bergambar sangat kompleks.

Menurut Basran, kekompleksan gambar babi di gua tersebut bisa dilihat dari penimpaan dua warna yang berbeda. Antara merah tua dan merah yang sedikit cerah. Hal ini membuat adegan babi yang seolah-olah bergerak.

Daya imajinatif di lukisan tersebut hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang memiliki intelektualitas dan level kognitif yang tinggi. Artinya, sejak puluhan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita merupakan bangsa yang cerdas.

“Para ahli meyakini, manusia modern awal itu memiliki imajinasi untuk membuat gambar yang begitu kompleks hanya di Eropa. Tetapi ternyata, sekarang sudah ada juga ditemukan di Kabupaten Maros dan Pangkep,” kata Basran.

Baca Juga: Mengapa Lukisan Mona Lisa Begitu Mahal dan Sangat Terkenal?

Latest articles