Gerwani, Organisasi Perempuan yang Binasa Pasca Tragedi 30 September

ENSIPEDIA.ID, Jember – Gerakan Wanita Indonesia atau disingkat Gerwani, merupakan sebuah organisasi perempuan yang lahir di Semarang pada tanggal 4 Juni 1950.

Organisasi wanita ini aktif pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Gerwani memiliki jumlah anggota kurang lebih 650.000 orang pada tahun 1957, dan terus bertambah hingga mencapai 1,5 juta anggota pada tahun 1963 serta bertambah lagi menjadi 3 juta orang pada tahun 1965.

Sejarah Berdirinya Gerwani

gerwani-organisasi-perempuan-yang-binasa-pasca-tragedi-30-september

Gerakan Wanita Istri Sedar atau Gerwis merupakan nama pertama sebelum berubah menjadi Gerwani. Organisasi ini berdiri pada Juni 1950 oleh enam serikat organisasi perempuan, yaitu persatuan wanita sedar dari Surabaya, isteri sedar dari Bandung, perjuangan putri republik Indonesia, wanita Madura dari Madura, Rukun Putri Indonesia (Rupindo) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo) dari Kediri.

Sana halnya dengan organisasi perempuan yang berdiri pada masa itu, Gerwani ada untuk berfokus pada isu-isu perempuan dalam nasionalisme. Salah satu isu yang menjadi fokus utama Gerakan Wanita Indonesia adalah tentang Undang-Undang Perkawinan yang menurutnya tidak memihak para wanita.

Organisasi yang berdiri pada tahun 1950 ini, juga berperan aktif dalam mengedukasi perempuan tentang hak-haknya dalam perkawinan. Adapun ketua dari Gerwani adalah Tris Metty, serta Umi Sardjono sebagai ketua II, dan SK Trimurti sebagai ketua III.

Organisasi yang Binasa Pasca 30 September

gerwani-organisasi-perempuan-yang-binasa-pasca-tragedi-30-september

Sekitar tahun 1960-an, organisasi pimpinan Tris Metty diterpa isu yang tidak sedap dengan dikait-kaitkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kedekatan Gerwani dengan PKI semakin diperkuat dengan terjadinya peristiwa pemberontakan di Lubang Buaya. Gerwani dituduh melakukan tunda mutilasi kepada para jenderal.

Karena isu tersebut, membuat Gerakan Wanita Indonesia dibubarkan secara paksa setelah Soeharto menjabat sebagai seorang Presiden. Ribuan anggota Gerwani diperkosa dan dibunuh serta dibunuh sebagai gerakan pembersihan anti-komunis.

Kontroversi Mutilasi Para Jenderal

gerwani-organisasi-perempuan-yang-binasa-pasca-tragedi-30-september

Tuduhan yang diberikan kepada organisasi perempuan ini yang dikabarkan memutilasi para jenderal dimuat dalam surat kabar Yudha dari angkatan bersenjata. Surat kabar tersebut juga menjelaskan bahwa memutilasi para jenderal adalah anggota Gerwani yang bernama Jamilah dan Fainah.

Namun, sang tertuduh, Fainah, menjelaskan bahwa pada waktu itu, ia dipaksa untuk menari dihadapan para jenderal sebelum terjadinya peristiwa pembunuhan tersebut.

Bukti ini diperkuat dengan hasil visum yang menyebutkan bahwa tidak ada tanda yang ditemukan bahwa para jenderal ini meninggal karena hasil dari mutilasi. Justri hasil visum tersebut, mengungkap fakta baru, bahwa para jenderal mati akibat luka tembak.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles