Benarkah Tidak Ada Pribumi Indonesia?

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Manusia adalah mahkluk yang menempati planet bumi. Di sini, mereka dapat mengendalikan makhluk lainnya dan selalu melakukan perkembangan, baik dalam meningkatkan kualitas hidup ataupun menentukan tempat tinggal.

Indonesia, merupakan negara kepulauan yang saat ini ada di urutan ke-15 dalam kategori negara terluas di dunia. Dari luasnya dunia ini, aku dan kamu, dari manakah kita berasal?

Apakah kita pribumi (penghuni asli) Indonesia? 

Penduduk Indonesia atau yang disebut oleh kolonial sebagai pribumi | VIO

Jawabannya bukan, ternyata tidak ada orang asli Indonesia. Jadi, kita semua ini pendatang? Iya, kita adalah para pendatang.

Penelitian yang dilakukan oleh Eijkman Institute for Molecular Biology selama bertahun-tahun telah membuahkan hasil. Para peneliti telah berkunjung ke 19 pulau di Indonesia dan mengetes DNA warga dari 130 suku.

DNA atau deoxyribonucleic acid adalah rantai molekul yang menjadi ciri khas pada setiap organisme. DNA terdapat di seluruh makhluk hidup dan berguna untuk membedakan individu yang satu dengan lainnya. DNA ini berfungsi layaknya sebuah file yang sifatnya permanen atau tidak dapat terhapus.

Dilansir dari National Geographic Grid, terdapat 3 marka yang dapat digunakan untuk menelusuri asal usul penduduk Indonesia.

Kromosom Y yang dapat menunjukkan asal usul anak laki-laki dari ayahnya. Lalu, DNA mitokondria yang diturunkan oleh ibu ke anak-anaknya dan kemudian DNA autosomal yang menunjukkan pencampuran genetik dari kedua orang tua.

Tak hanya mempelajari ketiga bagian itu, Eijkman Institute for Molecular Biology juga menggunakan metode arkeologi dan linguistik untuk menambah banyaknya sudut pandang.

Hasilnya, tidak ada penduduk asli Indonesia, karena kita semua adalah pendatang. Ya, mulanya homo sapiens bermigrasi dari Afrika ke bagian selatan semenanjung Arab menuju ke India. Kedatangan keturunan mereka di Nusantara dibagi menjadi 4 gelombang besar.

Pertama, gelombang yang datang sekitar 50.000 tahun lalu. Mereka sampai di Paparan Sunda (yang kini pecah menjadi pulau-pulau) yaitu Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Semenanjung Malaya. Lalu, perjalanan mereka lanjutkan hingga tiba di Papua dan Australia.

Kemudian gelombang kedua berasal dari Asia Tenggara tepatnya wilayah Vietnam, yang datang 30.000 tahun lalu. Mereka kemudian menyebar dan menetap di berbagai pulau di Nusantara.

Gelombang ketiga datang dari Tiongkok yang mulanya singgah di Taiwan, kemudian ke Filipina dan menyebar ke Sulawesi, Kalimantan dan Maluku sekitar 5000 tahun lalu.

Gelombang besar terakhir berasal dari para pedagang India, Tiongkok dan Arab, tak lupa juga para penjelajah dari bangsa Eropa. Para pedagang itu rupanya tak hanya berjualan, tetapi juga singgah dan melakukan kawin silang dengan penduduk yang sudah tinggal di Nusantara pada saat itu.

Nah, kedatangan manusia, interaksi budaya dan perkawinan silang ini menghasilkan beragam macam etnik. Sampai-sampai ada sekitar 500 etnik dan 700 bahasa di Indonesia. Sungguh kayanya negeri kita.

Jadi, cukup jelas saat ini bahwa istilah pribumi dan non-pribumi seharusnya sudah tidak ada.

Bagaimana istilah pribumi bisa ada?

Tanam paksa pribumi pada zaman kolonial | Kompasiana.com

Dahulu kala, Nusantara berisikan orang-orang yang saling membaur satu sama lain dengan damai, hingga pada akhirnya datanglah para bangsa Eropa yang menjajah Indonesia.

Pada masa kolonial Belanda, para petinggi menggunakan istilah pribumi untuk melemahkan persatuan antar penduduk. Simpelnya, orang yang memiliki fisik dan etnis dari bangsa Eropa dianggap paling tinggi kedudukannya, baik dari aspek martabat maupun kehormatan.

Disusul oleh orang yang memiliki ciri fisik seperti keturunan Tiongkok, Arab dan China. Ketiganya berada pada posisi kedua tetapi masih di bawah bangsa Eropa.

Lalu yang terbawah dan paling rendah adalah para “pribumi” dan orang “campuran” yang memiliki ciri fisik suku-suku di Indonesia, seperti Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Minangkabau, Minahasa dll.

Tentunya, perbedaan kasta sosial seperti ini memicu adanya pertentangan dan lahirnya diskriminasi. Sedikit berbeda dari konsep bangsa Eropa, saat ini istilah pribumi ditujukkan untuk orang yang memiliki suku seperti Jawa, Dayak, Papua dll. Sedangkan istilah non-pribumi (asing) ditujukkan untuk orang keturunan Tionghoa, India, Arab dll.

Untuk menyatukan kembali kesenjangan yang diciptakan oleh bangsa Eropa, Soekarno pernah mengusulkan etnis Tionghoa, India dan Arab untuk diperhitungkan juga sebagai orang Indonesia. Syaratnya mereka harus menetap, berbudaya dan berbahasa Indonesia.

Manfaat mempelajari asal usul penduduk Indonesia

Persebaran para pendatang ke Nusantara | Roboguru

Banyak manfaat yang kita dapatkan ketika mempelajari dan menelitinya, salah satunya adalah dapat mengetahui dari mana sebenarnya kita berasal, karena konsep pribumi sangat diagung-agungkan padahal tidak ada bukti ilmiah mengenai konsep tersebut.

Selain itu, mengetahui asal usul seseorang juga dapat berguna di bidang kedokteran. Karena dengan ini, kita dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang berasal dari genetik.

Kemudian, hasil dari penelitian ini juga dapat berguna untuk membantah sikap-sikap rasialisme, karena seharusnya kita tidak bisa membanggakan diri kita sebagai apa yang disebut “pribumi” kepada etnis lain, karena kita semua adalah pendatang! Ya, kamu dan aku, kita semua adalah pendatang.

-Sikap rasialisme sudah sepatutnya menghilang dari muka bumi, karena kita semua sama, Indonesia.-

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles