Bagaimanakah Penyaluran Hasrat Seksual di Penjara?

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Penjara, adalah tempat di mana para narapidana dikumpulkan untuk menjalani masa tahanannya masing-masing sesuai dengan putusan hakim yang mengadili.

Penjara dianggap menjadi tempat yang “sesuai” untuk narapidana jera atas kejahatan yang dilakukannya. Namun siapa sangka, di dalam jeruji besi ini juga masih terdapat kriminalitas yang sudah menjadi rahasia umum bagi penghuni di dalamnya.

Narapidana juga manusia, yang tentunya memiliki kebutuhan biologis di masa hidupnya, walaupun ia sedang di penjara.

Bagaimana Cara Mereka Menyalurkan Hasrat Seksualnya? 

Ilustrasi napi di penjara | Reuters.com

Menurut penuturan seorang mantan napi dari lapas di Jawa Barat, ada banyak kasus homoseksualitas yang terjadi di lapas. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kejadian ini, di antaranya adalah keadaan dan lapas yang melebihi kapasitas.

Keadaan, siapa yang memiliki uang maka mereka yang akan memenangkan. Begitulah yang terjadi di kehidupan dalam lapas. Seseorang yang memiliki uang bisa membeli kamar, bisa membeli makanan yang layak, dan bisa menyewa pria sebagai pasangan seksualnya.

Kebutuhan biologis juga harus dimasukkan dalam faktor keadaan, karena bagaimanapun napi juga manusia. Dorongan napsu ini memaksa mereka melakukan hubungan sesama jenis dengan paksaan maupun tanpa paksaan/sukarelawan. Selain keadaan, ada juga faktor lain yaitu lapas yang melebihi kapasitas.

Lapas seharusnya diisi sesuai dengan kapasitas yang ditetapkan, tetapi kasus kriminalitas yang tinggi menjadikan banyak napi baru yang mengisi lapas sehingga menjadi penuh.

Di Mana Mereka Melakukannya? 

Kamar mandi lapas | merdeka.com

Menurut penjelasan dari mantan narapidana, penyaluran napsu tersebut terjadi di dalam kamar mandi lapas. Kamar mandi biasanya terletak di pojok lapas sehingga jarang terkontrol oleh petugas.

Hal ini memang sudah menjadi hal yang lumrah di lapas, bahkan para petugas pun sudah mengetahuinya juga. Keributan juga biasanya datang dari para napi yang berebut pasangan seks.

Bagaimana solusi untuk permasalahan ini?

Lapas yang melebihi kapasitas | cbc.ca

“Napi atau tahanan adalah manusia seutuhnya yang memiliki kebutuhan kodrati untuk berkembang biak dan berhubungan seksual. Putusan pidana penjara tidak serta-merta membatalkan kondisi kodrati tersebut. Jika hanya dilarang, maka akan muncul ekses negatif atau penyimpangan yang justru bertentangan dengan tujuan pemasyarakatan,” tutur Leopold Sudaryono, seorang doktor kriminologi dari Australian National University. 

Menurut beliau, seharusnya hukum di Indonesia memperbolehkan napi menyalurkan hasrat seksualnya kepada pasangan suami atau istri yang sah dengan kunjungan tertutup keluarga. Disebut tertutup karena izin yang diperoleh harus sesuai dengan syarat dari lapas, serta mengatur siapa saja yang bisa mengunjungi.

Selain untuk memenuhi kebutuhan, kunjungan pasangan sah ini juga dapat memperbaiki hubungan antar keduanya. Jika hubungan terjaga dengan baik, maka kasus perceraian dari napi akan menurun. Hal ini berpengaruh pada kesehatan mental mereka, bayangkan saja jika narapidana baru dipenjara dan langsung diceraikan oleh suami/istrinya, pasti akan membuat kesehatan mental memburuk.

Dengan adanya kasus homoseksualitas di penjara, semoga pemerintah dan pihak yang terkait bisa menanggapi dan menanganinya dengan tepat, sehingga tidak merugikan pihak manapun.

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles