Mengetahui Lebih Lanjut tentang Varian Omicron

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Pandemi COVID-19 telah merebak di seluruh dunia hampir 2 tahun lamanya, sejak terdeteksi pertama kali di China pada akhir Desember 2019.

Hingga saat ini, kasus konfirmasi virus corona di Indonesia sebanyak 4,26 juta dan jumlah kasus konfirmasi positif di seluruh dunia sejumlah 265 juta, angka yang hampir setara dengan jumlah penduduk Indonesia tahun 2021.

Dalam beberapa bulan ini, virus corona berhasil membuat lonjakan-lonjakan kasus dengan varian barunya bernama delta yang pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020.

Di Indonesia sendiri, varian delta dapat menyebar 6x lebih cepat dan menimbulkan kepanikan di masyarakat. Terbukti, “tsunami” COVID-19 terjadi di Indonesia pada bulan Juni-Juli 2021 lalu, dan baru berhasil menurun pada bulan September hingga saat ini. Namun, belakangan ini kita dikejutkan lagi dengan varian baru yang mulai bangkit dan menyebar di seluruh dunia; Omicron.

Asal Muasal Varian Omicron

Varian baru dari virus corona bernama Omicron | Pixabay

Infeksi yang dikonfirmasi pertama kali dengan varian omicron berasal dari sebuah sampel yang diambil pada 9 November, hingga pada akhirnya seorang pejabat di Afrika Selatan yang melaporkan pertama kali varian omicron ke WHO pada 24 November 2021.

Meskipun laporan pertama berasal dari Afrika Selatan, hal ini bukan berarti varian tersebut tumbuh dan berkembang pertama kali di sana. Karena sejauh ini, perjalanan varian omicron masih ditelaah lebih dalam oleh para peneliti.

Menurut The Washington Post, varian omicron saat ini telah menyebar hingga di Kanada, Austria, Belgia, Jerman, Italia, Inggris, Belanda, Portugal, Prancis, Skotlandia, Israel, Australia hingga Hongkong.

Dampak dari laporan tersebut adalah, perjalanan dari dan menuju Afrika Selatan untuk sementara ini dilarang di beberapa negara.

Mutasi Varian Omicron

Ilustrasi virus corona | Pixabay

Menurut Nature, varian ini memiliki lebih dari 30 mutasi pada gen yang mengkode protein lonjakan. Dari mutasi ini, 10 di antaranya berada di domain pengikatan reseptor, atau bagian dari protein lonjakan yang menempel di sel manusia, menurut penjelasan dari The Guardian. 

Sementara itu, beberapa mutasi lain sudah pernah ditemukan juga di varian sebelumnya yang dikhawatirkan akan menyebabkan lonjakan kasus akibat persentase penularan yang mungkin lebih tinggi, atau mungkin dapat membantu virus COVID-19 menghindari kekebalan imun tubuh. (WHO)

Dampak yang Ditimbulkan

Dampak yang ditimbulkan oleh varian omicron belum diketahui secara pasti | Pixabay

Hingga saat ini, beberapa penelitian masih terus dilakukan untuk mengkaji seberapa jauh dampak dari varian omicron ini; apakah ia lebih parah dibanding varian-varian sebelumnya? Atau lebih “jinak”?

Di Afrika Selatan, tingkat rawat inap di rumah sakit terus mengalami peningkatan, tapi jumlah tersebut adalah total keseluruhan orang yang terinfeksi COVID-19, bukan akibat infeksi varian omicron saja. Untuk diketahui, hanya sekitar 24% populasi Afrika Selatan yang disuntik vaksin penuh untuk mencegah dampak parah COVID-19.

Orang yang dilaporkan terjangkit varian omicron pertama kali di Afrika Selatan adalah seorang mahasiswa yang tentunya cenderung mengalami komplikasi lebih ringan dibandingkan para lansia. Namun, hanya sekitar 6% orang di Afrika Selatan yang berumur 65 tahun ke atas, angka menyebabkan para peneliti belum mengetahui seberapa parah efek varian omicron apabila menjangkiti para lansia.

Belum ada bukti kuat yang mengatakan varian omicron lebih cepat menyebar dan berbahaya dibanding varian sebelumnya. Jadi, jika ada seseorang yang membagikan informasi tentang bahaya omicron tanpa disertai bukti yang valid, jangan mudah percaya ya!

Efektivitas Vaksin

Saat ini sudah banyak jenis vaksin COVID-19 yang dilegalkan oleh WHO dan tersebar di seluruh dunia, tetapi belum jelas apakah vaksin yang ada saat ini masih efektif untuk melawan varian omicron. Karena data tentang varian omicron masih minim, penelitian efektivitas vaksin juga sulit untuk dilakukan.

Dua pengembang vaksin besar, yaitu Pfizer-BioNTech dan Moderna bergerak cepat untuk mengetahui seberapa efektif kah vaksin yang mereka keluarkan dalam melawan varian omicron.

“Jika kita harus membuat vaksin baru, saya pikir itu akan menjadi awal 2022 sebelum benar-benar tersedia dalam jumlah besar,” kata Paul Burton, Kepala Petugas Medis Moderna.

 

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles