Mengenang Jasa Gus Dur dalam Kebebasan Perayaan Imlek

ENSIPEDIA.ID, Jember – Perayaaan imlek di Indonesia yang kita kenal hari dengan segala kemeriahannya merupakan salah satu peninggalan dari Gus Dur ketika menjabat sebagai Presiden.

KH Abdurrahman Wahid atau biasa dipanggil dengan Gus Dur memperkenankan keturunan Tionghoa untuk merayakan imlek secara terbuka.

Hal tersebut tentu mendapatkan respon yang positif lantaran pada masa orde baru segala bentuk kebudayaan dan tradisi etnis Tionghoa hanya dapat dirayakan secara tertutup, seperti yang tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.

Sikap toleransi Gus Dur terhadap etnis Tionghoa tersebut Ketua Umum Dewan Rohaniawan Matakin, Xs Budi Santoso Tanuwibowo. Setelah Gus Dur seminggu menjadi Presiden, Budi Santoso beserta temannya yang bernama Bingki meminta pengadaan acara imlek kepada Presiden Gus Dur.

“Sebelumnya tidak kepikiran apa-apa, kami main ke Ciganjur ndengerin musik, ketika lewat di jembatan Istiqlal jembatan rel kereta, tiba-tiba saya berkata pada Bingki tercetus ‘eh ayo kita minta Imlek’, seperti ada wangsit untuk menemui Gus Dur,” ungkapnya dalam podcast yang ditayangkan oleh Kanal Youtube NU Online pada, Selasa (18/10/22).

Xs Budi dan Bingki pun datang ke Istana untuk meminta Gus Dur mengadakan acara Imlek Nasional untuk pertama kalinya.

“Ketika saya bertemu Gus Dur saya meminta ‘Gus memupung Sampean jadi presiden boleh dong sekali-kali adain Imlek nasional,” tandasnya.

Setelah mendengarkan usulan dari Xs Budi tersebut, Gus Dur pun menyetujuinya, bahkan beliau mengusulkan untuk mengadakan dua acara sekaligus, yakni Imlek dan Cap Goh Meh.

“Bikin dua kali Imlek di Jakarta, kamu ketuanya, dan Cap Gomeh di Surabaya Pak Bingki ketuanya,” kata Budi meniru ucapan Gus Dur pada waktu itu.

“Saya dan pak Bingki bingung, karena nggak ada dana untuk mengadakan dua acara besar sekaligus,” sambungnya.

Karena alasan keterbatasan dana, Xs Budi pun hanya meminta satu perayaan saja, sama dengan agama-agama minoritas lain. Menurutnya wajar jika Islam memiliki banyak perayaan karena umatnya juga banyak.

“Saya mengatakan kepada Gus Dur, Umat Hindu perayaannya satu Nyepi, Umat Budha satu juga yaitu Waisak, Umat Kristen dan Katolik dijadikan satu di Natal. Nah kalau Islam karena banyak jumlahnya jadi perayaanya lebih dari satu tidak papa, jadi saya meminta kepada Gus Dur cukup satu perayaan saja,” ungkapnya.

Di pagi hari, Xs Budi mendapati telepon dari Sekretaris Presiden Ratih Harjono, bahwa dua perayaan yaitu Imlek dan Cap Gomeh disetujui oleh Gus Dur untuk diadakan

“Maka tanggal 17 Februari tahun 2000 Imlek di Sudirman terjadi pertama kali, dan satu minggu kemudian Cap Gomeh di Surabaya,” ungkapnya

Hal tersebut juga ditandai dengan terbitnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000 yang isinya tentang pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.

Sejak saat itulah Hari Imlek dapat dirayakan secara terbuka oleh Etnis Tionghoa. Selain itu, umat Kong Hu Chu juga boleh melaksanakan peribadatan secara terbuka dan dijamin oleh negara.

Menindaklanjuti keputusannya pada tahun sebelumnya, Gus Dur menerbitkan Keputusan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari Libur Nasional Fluktuatif.

Kedekatan emosional Gus Dur dengan etnis Tionghoa memang sudah terajut saat sebelum menjadi presiden. Hal tersebut tercermin pada Tahun 90-an beliau bersedia menjadi saksi ahli untuk pernikahan pengantin Tionghoa di Surabaya bernama Budi Wijaya dan Lanny Guito yang tidak dapat mencatatkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil karena agama Konghucu belum diakui di Indonesia.

Pasangan ini kemudian mengajukan gugatan secara resmi ke Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya. Gugatan ini dilakukan agar nantinya anak dari mereka tidak dianggap sebagai anak di luar pernikahan dan tidak mendapatkan pengakuan dari negara. Sejak saat itulah Gus Dur mulai terkenal di kalangan orang Tionghoa.

Berkat perannya dalam mempromosikan pluralisme di Indonesia khususnya menyangkut etnis Tionghoa, Gus Dur dijuluki sebagai “Bapak Tionghoa” oleh masyarakat Semarang bertepatan dengan hari Cap Go Meh di Klenteng Tay Kek Sie pada 10 Maret 2004.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles