Kontroversi Logo Halal yang Diganti Jadi Mirip Gunungan Wayang

ENSIPEDIA.ID, Jember – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama baru-baru ini merilis logo halal terbaru yang bentuknya menyerupai gunungan wayang. Penetapan logo halal terbaru tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal. Pergantian logo tersebut mendapatkan banyak kritikan dari berbagai masyarakat.

Menurut Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, penetapan label halal tersebut dilakukan guna melaksanakan ketentuan Pasal 37 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) dan pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang JPH.

“Melaksanakan amanat peraturan perundang-undangan khususnya Pasal 37 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, maka BPJPH menetapkan label halal dalam bentuk logo sebagaimana yang secara resmi kita cantumkan dalam Keputusan Kepala BPJPH,” kata Aqil Irham, seperti dilansir dari kemenag.go.id.

Adapun menurut Sekretaris BPJPH Muhammad Arfi Hatim, label halal yang baru ini wajib dicantumkan pada kemasan produk, bagian tertentu dari produk, dan/atau tempat tertentu pada produk. Hal ini bertujuan agar suatu produk telah terjamin kehalalannya dan memiliki sertifikat halal yang diterbitkan BPJPH.

“Label Halal Indonesia ini selanjutnya wajib dicantumkan pada kemasan produk, bagian tertentu dari produk, dan/atau tempat tertentu pada produk.” kata Arfi Hatim.

Keputusan tersebut berlaku efektif sejak 1 Maret 2022 dan sejak saat itu Label Halal Indonesia wajib digunakan sebagai tanda kehalalan produk sesuai ketentuan yang berlaku.

Penetapan logo halal terbaru ini mendapatkan kritikan dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Ia mengungkapkan terdapat dua alasan untuk mengkritik logo itu. Pertama, logo tersebut kini tidak mencantumkan nama “MUI” dan dinilai lebih mementingkan seni dibandingkan dengan kata “halal” dalam Bahasa Arab.

“Padahal dalam pembicaraan di tahap-tahap awal saya ketahui ada tiga unsur yang ingin diperlihatkan dalam logo tersebut yaitu kata BPJPH, MUI dan kata halal di mana kata MUI dan kata halal ditulis dalam bahasa Arab,” kata Anwar Abbas, seperti dilansir dari kompas.

Alasan kedua, yakni logo tersebut dinilai dirubah hanya untuk kepentingan artistik. Hal tersebut menyebabkan masyarakat tidak lagi mengetahui tulisan halal berbahasa Arab.

“Banyak orang nyaris tidak lagi tahu itu adalah kata halal dalam bahasa Arab karena terlalu mengedepankan kepentingan artistik,” kata Anwar.

Anwar mengaku memahami apa maksud dari Kemenag mengubah logo terbaru salah satunya untuk mengangkat budaya bangsa. Namun, menurutnya logo terbaru itu terkesan hanya mengangkat kearifan lokal salah satu budaya saja, yakni budaya Jawa.

“Jadi logo ini tampaknya tidak bisa menampilkan apa yang dimaksud dengan kearifan nasional, tapi malah ketarik ke dalam kearifan lokal karena yang namanya budaya bangsa itu bukan hanya budaya Jawa,” tutur Anwar.

Selain Anwar Abbas, pendakwah berdarah Tionghoa-Indonesia Felix Siauw pun turut menyorotinya. Melalui akun instagramnya @felix.siauw ia menyindir keputusan BPJPH dan membandingkannya dengan logo halal dari berbagai negara di Asia Tenggara.

“Semua yang beda dengan logo HALAL Indonesia itu intoleran! Berani-beraninya mereka berbeda dengan logo HALAL Indoensia! Dari khat HALAL-nya juga mencerminkan mereka sangat ke-Arab-araban, ga menghargai kearifan dan budaya lokal, maklumlah pasti kadrun sudah mulai banyak disana,” tulisnya.

“Artinya juga, negara-negara ini sangat radikal, karena nggak mau pake Pancasila sebagai dasar negara mereka! Apa-apaan ini negara lain?!,” imbuhnya Felix.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles