KLHK: Indonesia Masih Gemar Impor Sampah. Untuk Apa?

ENSIKLOPEDIA.ID, Kendari – Permasalahan mengenai sampah merupakan isu lingkungan yang paling menarik untuk dikulik. Pada tahun 2020, Indonesia memproduksi 67.8 Juta Ton sampah. Dengan kata lain, 183.753 Ton sampah diproduksi setiap harinya.

Sebuah penelitian yang keluarkan oleh Jambeck dalam artikel jurnal ilmiah yang berjudul “Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean” menobatkan Indonesia sebagai negara kedua dunia yang paling banyak menyumbangkan sampah plastik ke laut setelah negara China. Indonesia menyumbang 187,2 Juta Ton sampah plastik.

Namun demikian, dengan segala permasalahan sampah yang dihadapi oleh bangsa kita, pemerintah masih melakukan impor sampah dari negara lain. Apa alasan pemerintah masih melakukan impor sampah?

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia setiap tahunnya masih melakukan impor sampah sedikitnya 30% sampah plastik serta 50% sampah kertas.

Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Indonesia Rosa Vivien Ratnawati, impor sampah diperlukan untuk menunjang beberapa sektor industri.

“Selama ini Indonesia masih impor sampah plastik 30 persen dan sampah kertas 50 persen. Itu sampah yang di impor sampah yang sudah terpilah dari Belanda dari New Zealand.”

“Pelaku industri di Indonesia masih membutuhkan bahan baku plastik dan kertas recycle. Kenapa masih? Memang secara permintaan, bahan baku di dalam negeri belum cukup memenuhi pabrik-pabrik tersebut,” tambah Dirjen PSLB3 Kementrian tersebut.

Alasan utama dari kebijakan pemerintah masih mengimpor sampah ialah karena masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan pengolahan sampah. Bahan baku dari beberapa Industri masih membutuhkan sampah impor guna kelancaran produksinya. Sedangkan sampah Indonesia belum layak untuk dijadikan bahan baku.

Dirjen PSLB3 berpendapat bahwa seharusnya pemerintah daerah lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat untuk mengolah sampah agar kita tidak perlu lagi melakukan impor sampah.

“Bagaimana sampah jadi bahan baku daur ulang yang mandiri, tidak impor lagi. Mari kita gunakan sampah sebagai sesuatu yang meningkatkan nilai ekonomi sirkular. Tentu ini semua membutuhkan dukungan semua pihak,” ucap Rosa.

Latest articles