Kisah Pilu Cinta Pierre Tendean dan Rukmini

ENSIPEDIA.ID, Jember – Selain kisah tragisnya ketika dibunuh di Lubang Buaya oleh setelah mengaku sebagai Jenderal Nasution, kisah cinta dari seorang Pierre Tendean dan Rukmini pun juga tak kalah tragisnya.

Pierre Tendean merupakan ABRI blasteran Indonesia-Perancis. Ia mendapatkan gen perancis dari ibunya yang bernama Maria Elizabeth Cornet. Adapun ayahnya bernama A.L Tendean yang merupakan seorang dokter di manado.

Sejak kecil ia memang sudah bercita-cita untuk menjadi seorang prajurit atau setidaknya menjadi seorang dokter seperti ayahnya. Tendean akhirnya diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada 1958 di Bandung dan lulus dengan pangkat Letnan Dua (Letda).

Pertemuan Pertama Pierre Tendean dan Rukmini

Pierre Tendean kemudian ditugaskan sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Sumatera Utara sejak tahun 1961. Di tempatnya bertugas itu, nama Pierre Tendean menjadi buah bibir para perempuan karena parasnya yang rupawan.

Pada 1963, ia diajak oleh dua sahabatnya, Satrijo Wibowo dan Setijono Hadi untuk berkunjung ke rumah Raden Chamim Rijo Siswopranoto, salah seorang pengusaha terkemuka di Sumatera Utara. Dari sanalah pertemuan pertama Tendean dan Rukmini Chaimin yang merupakan anak si pengusaha tersebut terjadi.

Awalnya Pierre Tendean tidak tertarik untuk dijodohkan dengan Rukmini oleh kedua sahabatnya itu. Namun, ia akhirnya jatuh hati terhadap Rukmini yang memiliki sifat sederhana, lemah lembut, pemalu dan memiliki tutur kata yang sopan.

Rukmini yang pada waktu itu masih bersekolah SMA mau menjalin hubungan asmara dengan Pierre Tendean meskipun sempat terganjal restu orang tua mengingat keduanya berbeda agama.

Menjalin Hubungan Jarak Jauh

Setelah cinta bersemi, keduanya harus berpisah dan melakukan hubungan jarak jauh lantaran Pierre Tendean dipindahkan ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen yang dipersiapkan untuk Operasi Dwikora.

Tahun demi tahun pun berlalu, berbagai tugas telah ia laksanakan. Mulai dari misi intelijen sebagai mata-mata di Malaya (sekarang Malaysia) hingga menjadi ajudan dari Jenderal Abdul Haris Nasution pada 1965.

Pada saat masa cuti dari tugasnya sebagai seorang ajudan, ia selalu menyempatkan diri ke Medan untuk menemui sang kekasih, Rukmini Chaimin.

Lamaran Terakhir Tendean

Pada 31 Juli 1965, Pierre Tendean mendampingi Jenderal A.H Nasution untuk melakukan tugas peninjauan di Medan. Di sela-sela tugasnya itu, ia melamar Rukmini untuk melanjutkan hubungan asmaranya ke jenjang pernikahan. Rencana pernikahan itu kemudian disepakati akan dilaksanakan pada bulan November 1965.

Keseriusan Pierre Tendean itu bukan main-main, ia bahkan rutin mencari informasi kontrakan di Menteng sebagai tempat yang akan ia tinggali bersama kekasihnya, Rukmini. Namun, siapa sangka rencana pernikahan keduanya harus kandas di tengah jalan setelah Tendean gugur pada tragedi 30 September 1965 bersama para jenderal lainnya.

Setelah bertugas di beberapa tempat dengan pangkat Letnan Dua, Pierre Tendean kemudian dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen. Karena kecakapannya dalam menjalankan tugas, ia kemudian naik pangkat menjadi Letnan Satu dan diberikan tugas untuk menjadi ajudan jenderal A.H Nasution.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles