Home Berita Kisah Kekejian Ahmad Suradji, Menelanjangi dan Membantai 42 Perempuan Demi Kesaktian

Kisah Kekejian Ahmad Suradji, Menelanjangi dan Membantai 42 Perempuan Demi Kesaktian

253

ENSIPEDIA.ID, Jember – Kisah dukun AS alias Ahmad Suradji pernah heboh pada masanya. Bagaimana tidak, seorang dukun dengan teganya menelanjangi dan membunuh 42 perempuan digunakan sebagai “tumbal” untuk memperoleh kesaktian.

Kisah tersebut bermula ketika Ahmad Suradji mengaku bermimpi didatangi mendiang ayahnya yang akan memberinya sebuah ilmu sakti. Ilmu tersebut konon dapat mengalahkan lawan sekaligus mampu mengobati orang.

Akan tetapi, ilmu tersebut mampu digunakan setelah ia menumbalkan 72 nyawa Wanita. Salah satu prosedur yang harus dilakukannya adalah menghisap air liur sang tumbal.

Sekilas Tentang Ahmad Suradji

Dukun AS alias Ahmad Suradji lahir pada 10 Januari 1949 dan merupakan anak kedua dari pasangan Jogan dan Sartik. Dia terlahir dengan nama Sagimin dan sudah ditinggal ayahnya sejak berusia 7 bulan. Di daerahnya, ia dikenal dengan sebutan Nasib Kelewang. Kata Nasib didapat karena ketika kecil ia pernah tercebur ke sumur dan berhasil selamat. Sedangkan nama Kelewang ia dapatkan arena dia sering mencuri lembu dan ke mana-mana membawa kelewang.

Menurut pengakuan dari sang ibu, Sartik, Sagimin sudah mempelajari ilmu perdukunan sejak usia 12 tahun lewat buku-buku peninggalan sang ayah.

Ketika menginjak usia 27 tahun, Sagimin menikah dengan wanita asal Pekanbaru, Tumini. Ia juga memutuskan berganti nama menjadi Ahmad Suradji dengan harapan dapat membawa berkah dan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.

Dengan Tumini, Ahmad Suradji telah dikaruniai 4 orang anak laki-laki. Namun, bukannya bersyukur, ia memutuskan untuk berpoligami dengan alasan Tumini tidak mampu memberinya anak perempuan.

Hal yang membuat syok, Ahmad Suradji ternyata menikah dengan Tuminah dan Ngatiyah yang merupakan adik iparnya sendiri atau adik dari istri pertamanya, Tumini.

“Semua orang tahu bahwa itu perbuatan tidak benar,” keluh Sartik. Suradji tidak peduli. Ia bahkan mengajak tiga wanita bersaudara itu tinggal satu atap. Karena ibunya terus menerus menentang, Suradji akhirnya mengusir ibu kandungnya dari rumah.

Pada saat yang bersamaan, Suradji kian mantap mendalami ilmu perdukunan. Ia mengaku bahwa sang ayah kerap mendatanginya dalam bentuk mimpi untuk memberikan sebuah kesaktian. Terlepas sakti atau tidaknya Suradji, masyarakat setempat sudah menyebutnya dengan dukun. Dirumahnya ia menjalankan praktik perdukunannya, seperti pemasangan susuk hingga menyembuhkan orang sakit.

Kebrutalan Dukun AS

Aksi kebrutalan dari dukun AS mulai terendus pada tahun 1997 ketika ditemukannya 42 rangka manusia di ladang tebu Dusun Aman Damai, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera utara. Rataan usia korban antara 13-27 Tahun.

Penemuan tersebut bermula ketika seorang pemuda mendapati mayat tanpa busana di ladang tebu. Setelah melalui proses identifikasi, mayat tersebut Bernama Sri Kemala Dewi. Awalnya polisi menduga bahwa pelaku pembunuhan adalah istrinya karena sebelum hilang, keduanya terlibat cekcok.

Salah seorang warga Bernama Andreas memberikan kesaksiannya kepada polisi dan mengungkapkan bahwa ia pernah mengantarkan Dewi ke rumah Suradji guna melakukan konsultasi. Dari keterangan tersebut, polisi kemudian mendatangi rumah Suradji dan melontarkan beberapa pertanyaan. Suradji mengklaim bahwa Dewi memang mendatangi rumahnya, tetapi selepas maghrib korban sudah pulang.

Kasus ini sempat terhenti karena tidak ada bukti yang kuat untuk menetapkan tersangka. Namun kepolisian tidak kehilangan akal dan terus melakukan Analisa kasus ini. Mereka kemudian mendalami sejumlah laporan orang hilang dalam beberapa tahun kebelakang. Anehnya, kesemua orang hilang tersebut merupakan pasien dari Ahmad Suradji.

Berkat temuan tersebut, polisi akhirnya mendatangi rumah dukun AS dan melakukan penyisiran di seluruh bagian rumah. Akhirnya, di temukanlah beberapa helai pakaian perempuan dan perhiasan. Barang bukti tersebut membuat sang dukun tertangkap. Dari hasil introgasi terungkap bahwa Suradji telah membunuh 42 wanita yang salah satunya adalah Sri Kemala Dewi.

Hukuman Mati untuk Suradji

Pada persidangan pertama tanggal 22 Desember 1997, masyarakat berbondong-bondong untuk menyaksikan persidangan Saking banyaknya pengunjung, pihak Pemda Deli Serdang sampai menyiapkan tenda besar serta 4 televisi monitor bagi pengunjung yang tak kebagian tempat duduk di dalam siding.

Agar tidak ada gangguan selama masa persidangan, pihak kepolisian mengerahkan 4 peleton untuk mengamankan jalannya persidangan. Pada persidangan tersebut, Suradji menolak laporan BAP jaksa dan membantah telah membunuh 42 wanita. Pengakuan bahwa dirinya telah membunuh 42 wanita berdasarkan bisikan gaib muncul karena paksaan selama proses interogasi.

Rangkaian proses persidangan telah dilalui hingga pada 24 April 1998, majelis hakim yang dipimpin Hakim Haogoaro Harefa S.H menjatuhkan putusannya.

“Kami majelis hakim memutuskan, saudara terdakwa dijatuhi hukuman mati!” Putusan ini langsung disambut gemuruh tepuk tangan pengunjung yang memadati ruang sidang

Suradji yang mendengar vonis tersebut tampak tenang, bahkan sesekali melempar senyum saat kamera para wartawan menyorotnya.

Berbagai upaya telah dilakukan Dukun AS Bersama kuasa hukumnya. Ia mengajukan banding di Pengadilan Tinggi Sumatera Utara pada 27 Juni 1998, tetapi ditolak. Suradji juga mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung pada 27 September 2000 serta kasasi yang kedua pada 28 Mei 2003, tetapi semua kasasi tersebut ditolak mentah-mentah oleh majelis hakim.

Selama menunggu proses eksekusi mati, Suradji tetap terlihat tenang. Menurut pengakuan dari pihak Lapas Kelas ! Tanjung Gusta, keseharian Suradji adalah memelihara ikan yang ada di kolam lapas dan juga telah mendapatkan bimbingan spiritual agar membuat seluruh ilmu perdukunannya.

Sebelum dieksekusi mati, Suradji mengajukan permohonan terakhir, yakni bertemu dan bermesraan dengan istri tertuanya, Tumini. Permohonannya pun dikabulkan.

Pada 10 Juli 2008 eksekusi hukuman mati dilakukan. Sekitar pukul 22.00, Suradji dihadapkan di depan 12 orang anggota regu tembak. Atas permintaan keluarga, jenazahnya langsung dikuburkan keesokan harinya