Kisah Inspiratif Scott Alfaz, Penderita HIV yang Bergelar Master dan Menjadi CEO

ENSIPEDIA.ID, Jember – Apa yang yang akan kamu lakukan jika kamu dinyatakan positif HIV AIDS? Hal yang paling sering terjadi pada penderita HIV akan mengalami depresi yang tinggi. Namun, itu tidak berlaku bagi Scott Alfaz.

HIV AIDS hingga saat ini merupakan momok yang sangat menakutkan bagi semua orang.

Seperti dikutip dari hallosehat.com penderita HIV berpotensi untuk mengalami 20 jenis komplikasi, seperti kanker servik, kanker anus, infeksi jamur pada paru hingga tuberkulosis.

Tidak hanya karena efek sampingnya saja yang membuat masyarakat was-was, tetapi harapan sembuh bagi penderitanya sangatlah kecil. Hal tersebut dikarenakan hingga saat ini belum ditemukan obat ataupun vaksin yang ampuh untuk menyembuhkannya.

Karena tidak ditemukannya obat yang ampuh untuk sembuh serta rentan menular kepada orang, membuat penderita HIV sering dijauhi oleh masyarakat setempat. Tentu beberapa dampak HIV AIDS ini yang menjadikan beberapa penderitanya mengalami depresi.

Akan tetapi, masih banyak orang yang berusaha bangkit dari keterpurukan dalam menderita HIV AIDS, salah satunya adalah Scott Alfaz, penderita HIV AIDS yang bergelar master dan menjadi seorang CEO. Lantas, siapa itu Scott Alfaz dan bagaimana kisahnya dapat bangkit meski menderita HIV? Simak penjelasannya di bawah ini.

Didiagnosis HIV, Scott Alfaz Depresi dan Berniat Bunuh Diri

Seperti dikutip dari tribunnews.com, Scott Alfaz dinyatakan positif HIV AIDS saat berada di bangku perkuliahan. Saat itu ia ingin melakukan donor darah di salah satu jegiatan yang ada di kampusnya pada tahun 2011.

Namun, beberapa bulan setelahnya, ia dipanggil oleh PMI dan dirujuk ke salah satu puskesmas Jogja. Di sana ia melakukan tes darah, dan hasilnya ia didiagnosa menderita HIV.

“Aku masih berusaha berpikiran positif kalau enggak ada hubungannya dengan HIV. Sampai aku dirujuk ke salah satu puskesmas di Kota Jogja.”

“Itu udah mulai curiga, karena pas aku bawa surat pengantar dari PMI aku langsung diarahkan ke salah satu dokter. Selang 30 menit kemudian setelah aku diambil darah oleh dokter, hasilnya udah bisa ditebak emang aku positif,” ujar Alfaz seperti dilansir dari tribunnews.com

Mengetahui hal itu, sontak saja membuat Scott Alfaz hanya bisa menunduk dan menghadapi kenyataan bahwa ia tidak akan memiliki keluarga dan anak. Alfaz juga merasa telah mencoreng nama baik keluarganya yang dikenal cukup agamis.

“Aku cuma bisa nunduk, yang pertama aku pikirin aku pasti enggak bisa punya keluarga, punya anak. Yang utama selain itu bakal malu-maluin keluarga aku, karena keluarga aku cukup agamis.”

Alfaz juga mengungkapkan bahwa ia merasa malu serta seperti mendapatkan sebuah azab. Kenyataan itu juga menjadi luka batinnnya hingga saat ini.

“Aku berasa menjadi positif HIV pada saat itu udah malu banget, azab banget. Masih kerasa sampe sekarang dan itu jadi luka batin aku sampe sekarang,” paparnya.

Scott Alfaz pun juga menyatakan bahwa perlu satu hingga dua tahun untuk menerima kenyataan bahwa ia mengidap HIV. Namun, sering dengan berjalannya waktu, ia pun menerima takdir yang ada pada dirinya itu.

“Butuh waktu satu tahun bahkan hampir dua tahun untuk aku bisa menerima. Walaupun aku belum bisa bilang aku udah menerima sepenuhnya. Tapi lambat laun aku berusaha untuk bisa hidup dengan virus aku,” Tuturnya.

Berhasil Mendapatkan Gelar Master di Eropa

Sempat diterpa kegalauan, akhirnya Scott Alfaz memutuskan untuk melanjutkan studi s2-nya di Eropa. Mulanya, virus HIV menjadikan alasan dirinya untuk lari. Akan tetapi hal tersebut justru menimbulkan dampak yang positif. Ia mendapatkan beasiswa penuh S2 Hukum Kriminal Global di Groningen, Belanda pada tahun 2017 silam.

Namun, hal itu tidaklah mudah, Scott Alfaz mendaftarkan diri ke banyak kampus Eropa dan belajar Bahasa Inggris selama satu tahun.

“”Saya benar-benar berjuang untuk mendaftar kampus di berbagai negara dan belajar bahasa Inggris selama satu tahun lebih,” ungkap Scott Alfaz.

Atas berkat kerja kerasnya, ia mendapatkan gelar LL M (Legum Magister) atau Magister Hukum dari Universitas Groningen, Belanda.

Merintis Perusahaan yang Bernama hayVee

Dengan berbekal ilmu dan pengalamannya sebagai seorang penderita HIV, Scott Alfaz kemudian mendirikan sebuah perusahaan bernama hayVee. HayVee merupakan platform digital di bidang kesehatan bagi para penderita HIV.

Selain itu, ia juga aktif dalam mengkampanyekan melawan stigma negatif terhadap orang dengan penderita HIV AIDS. HIV bukanlah menjadi sebab seseorang menjadi dikucilkan.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles