ENSIPEDIA.ID – Januari 1959, titik mula insiden yang merenggut kesembilan nyawa mahasiswa/i Institut Politeknik Ural di Yekaterinburg, Rusia — sebuah kelompok ekspedisi beranggotakan 10 orang yang diantaranya terdiri dari 8 orang pria dan 2 orang wanita dengan tujuan akhir mencapai Otorten (Sebuah gunung 10 km dari titik lokasi “Dyatlov Pass Incident” terjadi). Namun, ekpedisi tersebut gagal dan berakhir di puncak Kholat Syahkl atau masyarakat setempat menyebutnya dengan “Gunung Kematian”. Adapun beberapa jasad kelompok ekspedisi yang ditemukan dengan “Sangat mengenaskan”.

Pemimpin kelompok, Igor Dyatlov merupakan seorang mahasiswa teknik radio yang berusia 23 tahun telah berhasil mengumpulkan teman-teman kampusnya pada 8 Januari yang juga mempunyai sertifikasi kelas 2 dalam pengalaman wisata ski. Selain ingin mencari “Kebebasan”, mereka juga mengejar sertifikasi kelas 3 (Tertinggi pada saat itu) yang mana mengharuskan kandidat melintasi 300 km dan diterima setelah berhasil kembali.

Perasaan Yudin sebagai Seorang Mantan Kelompok

Dyatlov Pass
Yuri Yudin, mantan anggota kelompok dalam insiden “Dyatlov Pass”

Alih-alih di tengah perjalanan, tepatnya pada 28 Januari, Yuri Yudin memutuskan untuk mundur dari ekspedisi ini karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Sementara yang lain, tetap melanjutkan perjalanan dengan jalur yang sudah ditetapkan bersama pada 23 Januari lalu. Dalam referensi yang diambil, dikatakan Yuri Yudin mengalami sakit pada lutut dan juga disertai dengan ia penderita rematik dan kelainan jantung bawaan.

Igor Dyatlov mengharapkan Yuri Yudin bertahan lebih lama selambat-lambatnya sampai 12 Februari yang mana Dyatlov akan mengirimkan Telegram kepada klub olahraganya sebelum Yudin keluar dari grup.

Setelah tiadanya kabar apapun sampai 20 Februari, teman-teman seperkuliahannya memutuskan untuk melaporkan kekhawatirannya terhadap kelompok ekspedisi tersebut dan menuntut operasi penyelamatan kepada kepala lembaga penyelenggara.

Termasuk Yuri Yudin yang berspekulasi bahwa karena telah terjadi badai salju sehingga jarak pandang mulai menurun, juga semakin mendaki, cuacanya malah semakin memburuk. Lalu, kelompoknya pun menyadari bahwasanya mereka telah kehilangan arah — menyadari kesalahannya tersebut, mereka membuat tenda perkemahan di puncak Kholat Syahkl.

“Dyatlov mungkin tidak ingin kehilangan ketinggian yang mereka peroleh, atau dia memutuskan untuk berlatih berkemah di lereng gunung.”

Operasi Penyelamatan dan Investigasi Korban insiden “Dyatlov Pass”

Dyatlov Pass
26 Februari 1959, regu pencari menemukan tenda perkemahan kelompok “Dyatlov Pass” yang telah rusak

Operasi penyelamatan dilakukan dengan pembentukan regu pencari, di dalamnya terdiri dari tentara dan pasukan militsiya, adapun mahasiswa dan guru yang ikut terlibat sebagai anggota relawan. Peninjauan juga dilakukan menggunakan helicopter yang diperintahkan langsung oleh kepala lembaga penyelenggara.

26 Februari, mahasiswa relawan menemukan tenda perkemahan kelompok yang sudah rusak parah yang di dalamnya berisikan sejumlah perlengkapan anggota kelompok ekspedisi. Perkemahan tersebut membingungkan regu pencari, hal ini berdasar pada beberapa tanda bahwa tenda perkemahan itu dibuka paksa dari dalam dan jejak kaki yang mengarah ke timur atau tepi hutan terdekat dari titik lokasi tenda perkemahan ditemukan.

Regu pencari melakukan eksplorasi di hutan yang ditumbuhi pohon pinus besar tersebut. Tidak lama, ditemukanlah dua jasad pertama yakni Krivonischenko (Georgiy) dan Doroshenko yang hanya mengenakan kaos kaki dan pakaian dalam saja. Di dekatnya, sisa-sisa api kecil terlihat dan dengan beberapa cabang pohon setinggi 5 meter yang patah. Hal ini menunjukkan bahwa anggota kelompok tersebut berusaha membuat api penghangat dan mencari tenda yang mereka tinggalkan.

Kemudian, tak jauh lokasi penemuan dua anggota kelompok tersebut, regu pencari menemukan tiga jasad yang diantaranya adalah Dyatlov, Kolmogorova, dan Slobodin yang berjarak 300, 480, dan 630 meter dari pohon dan kamp darurat mereka. Posisi ketiga orang tersebut telah dipastikan sedang berusaha kembali ke tenda perkemahan sebelum akhirnya Hipotermia.

Berselang sekitar 2 bulan atau tepatnya 4 Mei, regu pencari telah menemukan keempat jasad yang merupakan sisa dari penemuan sekelompok ekspedisi, yakni Dubinina, Kolevatov, Brignolles, dan Zolotaryov yang tertutup di bawah salju setebal 4 meter di jurang berkedalaman 75 meter dari pohon dan kamp. 3 dari 4 jasad yang ditemukan berpakaian lebih baik daripada yang lain. Hal ini juga merupakan tanda bahwasanya mereka telah melepas pakaian temannya yang sudah meninggal lebih dulu.

Investigasi Korban Kelompok “Dyatlov Pass” Tingkat Lanjut

Dyatlov Pass
Jasad kelompok ekspedisi dalam insiden “Dyatlov Pass”

Pemeriksaan jasad kelima korban pertama dilakukan dibawah pengawasan hukum. Menurut pemeriksaan medis, tidak ada hal lain selain Hipotermia yang menyebabkan mereka kehilangan nyawa. Namun, tengkorak pada jasad Slobodin mempunyai keretakan kecil yang tidak dianggap sebagai luka yang serius.

Pemeriksaan kembali dilakukan pada jasad korban yang ditemukan 4 Mei lalu telah mengubah narasi atau anggapan medis di pemeriksaan sebelumnya. 3 Korban mengalami luka yang serius: Brignolles dengan kerusakan tengkorak yang parah, serta patah tulang dada pada Dubinina dan Zolotaryov. Hingga pemeriksaan post-mortem yang dilakukan oleh ahli forensik Vozrozhdenny, disimpulkan bahwa kondisi ketiga jasad tersebut disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak karena lokasi jasad ditemukan di sungai yang mengalir.

Adapun yang dapat disimpulkan, yakni:

  • Dyatlov: Mengalami Hipotermia.
  • Doroshenko: Mengalami Hipotermia.
  • Krivonischenko: Mengalami Hipotermia.
  • Kolevatov: Mengalami Hipotermia dan kehilangan alis.
  • Kolmogorova: Mengalami Hipotermia.
  • Slobodin: Mengalami Hipotermia dengan kerusakan kecil pada tengkorak.
  • Brignolles: Kerusakan parah pada tengkorak.
  • Dubinina: Kehilangan mata, lidah, dan sebagian bibirnya serta pendarahan internal yang disebabkan patah tulang pada dada.
  • Zolotaryov: Kehilangan bola mata dan trauma dada yang disebabkan patah tulang pada dada.

Ada spekulasi bahwa masyarakat Mansi telah menyerang kelompok ekspedisi karena telah melanggar batas wilayah. Beberapa Mansi diinterogasi, namun tidak mendapati informasi yang sinkron terhadap penyelidikan. Penyelidikan menunjukkan kematian kelompok tersebut tidak mendukung spekulasi ini karena tidak ada tanda-tanda perjuangan tangan kosong dan hanya jejak kaki kelompok ekspedisi yang ditemukan.

Sesaat setelahnya, pemeriksaan dihentikan secara resmi pada akhir Mei 1959 karena tidak mendapati hal-hal atau indikasi lain selain disebabkan oleh kekuatan alam. File dan dokumentasi penyelidikan dikirim ke arsip rahasia.

Investigasi dan Membuka Kembali Kasus

Dyatlov Pass
Kesembilan anggota kelompok ekspedisi pada insiden “Dyatlov Pass”

Pada 12 April 2018, jasad Zolotarev digali oleh Komsomolskaya Pravda, sebuah jurnalis surat kabar tabloid Rusia. Hasil kotradiktif yang diperoleh yakni pernyataan salah satu ahli mengatakan bahwasanya analisis DNA tidak menunjukkan kecocokan terhadap kerabat-kerabat sedarah lain yang masih hidup, tidak adanya daftar nama Zolotarev pada pemakaman kelompok ekspedisi di pemakaman Ivanovskoye, dan rekonstruksi wajah yang cocok dengan Zolotarev pasca perang melalui foto-foto yang diarsipkan. Namun, beberapa wartawan menyatakan kecurigaan terhadap orang lain yang bersembunyi dan/atau memakai nama Zolotarev dengan sengaja.

Juga mendapati teori/spekulasi lain, yakni:

  • Rahasia militer dengan pengujian senjata radiologi.
  • Rahasia militer dengan teori bola oranye bercahaya mengambang atau jatuh di langit di sekitar pejalan kaki dan diduga difoto oleh mereka. Memungkinan pesawat militer atau ranjau parasut yang turun.
  • Infrasonik, Hipotesis lain yang dipopulerkan oleh buku Donnie Eichar tahun 2013 “Dead Mountain” adalah bahwa angin yang berputar di sekitar Kholat Syakhl menghasilkan infrasonik yang mampu memicu serangan panik dan mental pada manusia.
  • Angin Katabatik.
  • Bom fotoflash, sebuah bom yang dijatuhkan oleh pesawat mata-mata AS dengan sebuah dokumen AS yang tidak diklasifikasikan menegaskan bahwa pada paruh pertama tahun 1959 ada misi rahasia di dekat Nizhnyaya Salda.

Kasus Terpecahkan dan Resmi Ditutup

Dyatlov Pass
Foto keberangkatan kelompok ekspedisi dalam inside “Dyatlov Pass” yang didokumentasikan

Pada Februari 2019, pihak berwenang Rusia membuka kembali penyelidikan atas insiden tersebut, meskipun hanya tiga kemungkinan penjelasan yang dipertimbangkan: longsoran salju, longsoran lempengan , atau badai. Kemungkinan kejahatan telah diabaikan. Hal ini berdasar atas kecurigaan wartawan yang kemudian berkembang sampai menimbulkan banyak spekulasi-spekulasi lain.

Peninjauan bukti investigasi tahun 1959 yang diselesaikan pada tahun 2015-2019 oleh penyelidik berpengalaman dari Komite Investigasi Federasi Rusia (ICRF) atas permintaan keluarga mengkonfirmasi longsoran salju dengan beberapa detail penting yang ditambahkan.

Menurut para penyelidik ICRF, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tragedi itu adalah cuaca yang sangat buruk dan kurangnya pengalaman pemimpin kelompok dalam kondisi seperti itu, yang menyebabkan pemilihan tempat berkemah yang berbahaya. Setelah salju meluncur, kesalahan lain dari kelompok itu adalah berpisah, daripada membangun kemah sementara di hutan dan mencoba bertahan hidup sepanjang malam. Kelalaian para penyelidik tahun 1959 berkontribusi pada laporan mereka yang menciptakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban dan menginspirasi banyak teori konspirasi.

Pada 11 Juli 2020, Andrey Kuryakov, wakil kepala direktorat Distrik Federal Ural dari Kantor Kejaksaan Agung, mengumumkan longsoran salju sebagai “Penyebab resmi kematian” kelompok ekspedisi. Kemudian komputer independen simulasi dan analisis oleh peneliti Swiss juga menyarankan longsoran salju sebagai penyebabnya.