Singapura, Negara yang Merdeka Bukan Atas Kehendak Sendiri

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Singapura merupakan salah satu atau mungkin satu-satunya negara maju yang ada di wilayah Asia Tenggara. Sektor utama negara singa ini adalah terletak pada bidang industri dan jasa.

Hal ini dikarenakan Singapura tidak memiliki sumber daya alam yang banyak seperti Indonesia ataupun tidak mempunyai tambang melimpah seperti Brunei Darussalam. 

Dengan memanfaatkan sektor industri dan jasanya tersebut, Singapura mampu menjadi salah satu negara maju yang ada di dunia. Namun, di balik kesuksesannya itu, negara singa menyimpan masa lalu yang kelam. Seperti apa kisahnya? Simak ulasannya di bawah ini.

Dari Temasek menjadi Singapura

Patung Sang Nila Utama di Singapura

Menurut catatan bangsa Tionghoa pada abad ketiga, dahulu nama negara Singapura adalah “Pu-luo-chung” atau jika diterjemahkan berarti “pulau di ujung semenanjung”. Kemudian, wilayah ini berganti nama menjadi “Temasek” yang berarti “Kota Laut”.

Menurut Legenda, seorang pangeran Kerajaan Sriwijaya dari Palembang yang bernama Sang Nila Utama sedang berburu hewan, ketika di sana ia melihat hewan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya (Singa). Kemudian Sang Nila Utama menamai kota tersebut dengan nama Singapura. Nama Singapura diambil dari Bahasa Sansekerta, yaitu “simha” (singa) dan “pura” (kota).

Namun hal ini masih belum dapat dibuktikan secara nyata, karena Singa yang berada di Benua Asia hanyalah ras Panthera leo persica atau Singa India. Dan hewan ini hanya dapat ditemui di negara yang terkenal dengan film Bollywoodnya itu.

Kemunculan Sang Nila Utama di Singapura bukan merupakan sebuah hal yang mengejutkan, pasalnya pada waktu itu, Temasek menjadi salah satu wilayah daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Kekuasaan Inggris di Singapura

Patung Thomas Stamford Raffles di Singapura

Sejak insiden pembakaran oleh Portugis pada tahun 1613, Temasek yang dulunya menjadi wilayah yang sering diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan, kini diabaikan dan menjadi tempat pertarungan antar perompak yang sedang berebut harta rampasan.

Hingga akhirnya, datanglah East Indian Company (EIC), sebuah perusahaan dagang yang sedang mencari tempat strategis di Selat Malaka guna menandingi dominasi VOC yang menguasai Indonesia. EIC datang pada tanggal 28 Januari 1819 yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.

Pada saat kedatangan Raffles, Temasek hanya ditempati oleh satu keluarga temenggung dari Johor. Guna memuluskan usahanya untuk membangun pos perdagangan, ia membayar sejumlah uang kepada keluarga tersebut.

Tak hanya itu, dalam upaya melindungi wilayah tersebut dari ancaman Belanda, Raffles membuat perjanjian dengan pewaris Kesultanan Johor dan membantunya naik takhta. Pada tanggal 9 November 1824, perjanjian antara EIC dan Johor diperbarui dan sejak itu Temasek resmi menjadi milik Inggris.

Pada tahun 1824, dilaksanakannya sebuah perjanjian London, isi dari perjanjian tersebut adalah tentang pembagian wilayah kepulauan Melayu antara Inggris dengan Belanda. Hasilnya, Inggris menguasai kawasan utara, termasuk Pulau Penang, Singapura dan Melaka, sedangkan Belanda menguasai kawasan selatan.

Di tangan Inggris dalam hal ini EIC, Temasek ataupun Singapura menjadi salah satu kota yang berkembang pesat dan modern. Dengan hal tersebut, peran Singapura sebagai kawasan yang strategis di wilayah Asia Tenggara pun semakin besar.

Pada tahun 1942, tepatnya tanggal 15 Februari 1942, wilayah Singapura diambil alih oleh Jepang seiring dengan kemenangannya dalam pertempuran atas Inggris. Namun, kekuasaan Nippon tak berlangsung lama, hal ini dikarenakan Jepang mengalami kekalahan delam Perang Dunia II.

Sebuah pemilihan umum pertama diadakan di Singapura pada tahun 1955 atas seizin pemerintah Britania Raya. Hasil dari pemilu tersebut dimenangkan oleh David Saul Marshall, salah seorang tokoh pro-kemerdekaan. Kemudian Marshall meminta kemerdekaan kepada pihak Inggris Raya namun ditolak.

Kegagalan tersebut, membuat David Saul Marshall mengundurkan diri dan digantikan oleh Lim Yew Hock. Kerajaan Inggris Raya kemudian memberikan hak pemerintah internal dengan dipimpin oleh seorang perdana menteri.

Seiring dengan berjalan waktu, Singapura menjadi wilayah taklukan Britania Raya yang dilupakan, puncaknya adalah ketika Singapura memutuskan untuk melepaskan diri dari Britania Raya dan bergabung dengan Federasi Malaysia terhitung sejak 31 Agustus 1963.

Didepak Malaysia dan Merdeka

Bendera Singapura

Belum genap setahun bergabung dengan Federasi Malaysia, telah terjadi banyak kerusuhan, hal ini dipicu kerusuhan antar etnis. Pada akhirnya, berdasarkan keputusan Parlemen Malaysia, Singapura bukan lagi bagian dari Federasi Malaysia.

Pada 9 Agustus 1965, Singapura secara resmi menjadi negara yang berdaulat. Dengan fakta tersebut, Singapura menjadi satu-satunya negara yang merdeka bukan atas kehendak sendiri.

Menjadi Berkembang dan Maju

Suasana malam hari Singapura

Mulai tahun 70-an, Singapura menerapkan kebijakan pertumbuhan ekonomi yang agresif yang terutama didasarkan pada manufaktur dan perdagangan ekspor. 

Secara bertahap, Singapura juga mengambil peran lebih aktif dalam diplomasi regional. Singapura adalah anggota pendiri Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada tahun 1967, dan pada tahun 1980 telah muncul sebagai salah satu pemimpin ASEAN.

Kini, Singapura menjadi satu-satunya negara di regional Asia Tenggara yang dapat dikatakan sebagai negara maju. Dan menjadi wilayah strategis sebagai salah satu jalur perdagangan dunia.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles