Mengenang Raja Faisal al Saud: Penghapusan Perbudakaan Hingga Embargo Amerika Serikat

ENSIPEDIA.ID, Jember – Hingga saat ini, kerajaan Arab Saudi teehitung telah dipimpin oleh 9 raja dari “dinasti” Saud. Salah satu di antara 9 raja tersebut adalah Raja Faisal yang merupakan anak ketiga dari Raja ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman as-Saud.

Faisal menjabat sebagai raja pada 1964 hingga 1975. Ia dinobatkan sebagai raja menggantikan kakaknya, Saud ibn ’Abd al ’Aziz Al Su’ud yang dikenal sebagai pemimpin korup, nepotisme, dan suka meminum arak yang sudah pasti dilarang dalam agama Islam.

Ketika memimpin negaranya, Raja Faisal dikenal sebagai pemimpin yang shalih dan memihak kepada rakyatnya. Faisal melakukan pemotongan anggaran belanca secara drastis untuk menyelamatkan kas negara dari kebangkrutan yang diwarisi oleh raja-raja sebelumnya.

Sebelum kepemimpinan Raja Faisal, sistem perbudakan di Arab Saudi masih gencar dilakukan. Hingga pada 1962, Raja Faisal membebaskan 1.682 budak dengan biaya sekitar 2.000 dollar untuk setiap orang. Ia juga mengeluarkan sebuah dekrit yang isinya adalah perintah untuk menghapus sistem perbudakan.

Selain itu, ia juga memperkenalkan pendidikan kepada kaum perempuan yang lada waktu itu masih di anggap tabu. Terlebih lagi, kebijakan tersebut mendapatkan beberapa penolakan terutama dari kaum konservatif agama.

Untuk menyiasati hal tersebut, Raja Faisal mempersilahkan para pemimpin agama untuk mengawasi kurikulum pendidikan yang akan ia buat. Kebijakan ini berlangsung lama bahkan setelah ia wafat.

Selain berfokus terhadap urusan dalam negeri, Raja Faisal juga membangun kerja sama dengan beberapa negara. Ia turut serta dalam mendirikan Liga Muslim Dunia yang keberadaannya masih eksis hingga sekarang.

Pada 1963, Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman as-Saud mendirikan stasiun televisi pertama di negaranya. Namun, lagi-lagi kaum konservatif menolak kebijakan Raja Faisal itu. Faisal meyakinkan mereka bahwa prinsip kesopanan Islam tetap menjadi perhatian utama dan memastikan bahwa sebagian besar siaran televisi berkaitan erat dengan unsur keagamaan.

Raja Faisal juga turut melakukan penyederhanaan hidup keluarga kerajaan dan melakukan penghematan kas kerajaan dengan cara menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana. Dana tersebut kemudian ia manfaatkan untuk pembangunan sumur-sumur raksasa yang dalam mencapai 1.200 meter sebagai tambahan sumber air rakyat untuk dialirkan pada lahan-lahan tandus di semenanjung Arab.

Adapun kebijakan Raja Faisal yang paling fenomenal adalah dengan melakukan embargo terhadap Amerika Serikat. Hal tersebut dilakukannya sebagai reaksi atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Nixon, Presiden AS waktu itu memberikan bantuan yang fantastis kepada Israel berupa 566 pesawat tempur dan 22 000 ton bahan peledak.

Embargo yang dilakukan oleh Raja Faisal pada waktu itu langsung melumpuhkan perekonomian Amerika Serikat. Sikap dan pandangannya yang tegas terhadap Israel, tampak jelas dalam pidatonya. Ia ingin meninggal sebagai syahid dan berdoa, agar Allah berkenan mencabut nyawanya, bila al-Quds tidak segera berhasil di bebaskan ketika itu. Setelah keputusan tersebut, Raja Faisal sangat dihormati diseluruh wilayah Arab.

Raja Faisal wafat pada 25 Maret 1975 setelah dibunuh oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaed dengan menggunakan senjata api dengan dua luka tembak di bagian dagu dan telinga. Awalnya, pembunuh raja Faisal dianggap sebagau orang yang tak waras. Namun, pengadilan Riyadh menetapkannya sebagai orang yang “normal” dan pada akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Setelah kematian Raja Faisal, banyak spekulasi-spekulasi liar yang menganggap bahwa dalang dari semua ini adalah Amerika Serikat karena ia terkenal sebagai orang yang pro kemerdekaan Palestina dan anti Isreal. Terlebih lagi Faisal bin Musaid merupakan seorang pecandu narkotika dan menempuh studi di Amerika Serikat

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles