Mengapa Israel Bersikeras Menentang Palestina?

ENSIPEDIA.IDIsrael adalah negara dengan mayoritas Kaum Yahudi. Negara Israel ini selalu saja bersikeras untuk mengklaim tanahnya. Ternyata ini alasan mengapa Israel bersikeras menentang Palestina di wilayahnya

Yahudi disini yang dimaksud adalah keturunan dari Yacob (Nabi Ya’kub dalam Islam) yang dinamakan Bani Israel. Mereka percaya bahwa Messiah akan turun suatu saat nanti ke tanah suci (Yerussalem). Dan ketika Messiah turun, kaum Yahudi yang telah mati akan dibangkitkan dan mereka akan kembali ke Yerussalem ketika Tuhan menciptakan surga baru di bumi.

Messianic Era - Digital Commonwealth

Semua konflik ini berawal dari zaman perbudakan kaum Yahudi di bawah Kerajaan Mesir. Lalu, Musa (Nabi Musa dalam Islam) datang untuk membebaskan kaum Yahudi dari perbudakan di Mesir. Musa beserta kaum Yahudi melarikan diri dengan membelah lautan dan pergi ke tanah yang dijanjikan (tanah Israel saat ini). Dan kaum Yahudi membangun 2 kerajaan, Kerajaan Israel dan Kerajaan Judah.

Namun, pada 722 SM (sebelum masehi) wilayah Kerajaan Israel dikuasai oleh Kerajaan Asyur dan membuat kaum Yahudi yang tersisa hanya di Kerajaan Judah. Dan pada 586 SM, Kerajaan Babilonia menguasai wilayah Kerajaan Asyur beserta Kerajaan Judah. Kuil suci kaum Yahudi pun dihancurkan dan sekali lagi melakukan perbudakan kepada kaum Yahudi ke ibu kota Babilonia. Kehancuran kuil suci ini menjadi sejarah memilukan bagi kaum Yahudi.

Destruction of The Second Temple | Tarih, Kudüs, Tintin

Pada 539 SM, Kerajaan Persia berhasil menaklukkan Babilonia dan membebaskan kaum Yahudi dari perbudakan serta membangun kembali kuil suci yang telah rusak. Namun pada tahun 70 Masehi, Kerajaan Roma menaklukkan wilayah Persia. Dan sekali lagi, kuil suci pun dihancurkan kembali. Kaum Yahudi pun berpindah dan melakukan pengungsian ke negara-negara tetangga. Hal ini tentunya membuat kaum Yahudi mengalami persekusi, penganiayaan, dan sebagainya dari tetangganya.

Kebencian terhadap kaum Yahudi ini membuat seorang jurnalis, Theodor Herzl menyimpulkan bahwa dimanapun kaum Yahudi berada, akan mendapat perlakuan yang buruk dari bangsa setempat. Maka mau tidak mau kaum Yahudi harus pergi kembali ke tanah mereka, yaitu Yerussalem. Maka disini muncullah ideologi yang berbeda dengan Yudaisme. Jika Yudaisme adalah ideologi agama yang percaya dengan mengunggu keselamatan dari messiah, ideologi Herzl didasarkan berdasarkan ideologi nasionalisme Yahudi. Herzl berpikir bahwa kaum Yahudi perlu memutuskan takdir mereka untuk membangun negara Yahudi sendiri, inilah yang dinamakan Zionisme. Herzl pun menyebarkan ideologinya kepada kaum Yahudi yang berada di Eropa.

Hingga pada tahun 1914, Kekaisaran Ottoman yang menguasai wilayah Yerussalem memutuskan untuk berperang bersama Jerman melawan Prancis dan Inggris pada Perang Dunia I. Dan Menteri Luar Negeri Inggris menjanjikan sepetak tanah di Palestina kepada kaum Yahudi apabila memenangkan pertempuran melawan Kekaisaran Ottoman.

Setelah memenangkan pertempuran di Perang Dunia I, Inggris mengingkari janjinya. Inggris membentuk negara Transjordan, dan negara ini bukanlah negara untuk kaum Yahudi. Hal ini mementik kemarahan nasionalisme kaum Yahudi, yang membuat mereka menjadi membenci bangsa Inggris dan bangsa Arab. Lalu, muncullah ekstrimis bernama Vladimir Zhabotinsky membentuk militer Yahudi bernama Haganah. Zhabotinsky percaya bahwa kaum Yahudi tidak boleh mempercayai bangsa Arab dan bangsa lainnya, termasuk bangsa Inggris.

Pada 1939, Inggris pun menolak segala bentuk imigrasi ke Palestina. Dan ternyata, di tahun yang sama meletuslah Perang Dunia II. Pada Perang Dunia II, merupakan masa-masa ketakutan kaum Yahudi di Eropa karena N*zi yang memutuskan untuk melakukan pembantaian kaum Yahudi, yang dinamakan Insiden Holokaus. Hal ini membuat pandangan keras Zhabotinsky didukung oleh kaum Yahudi di Eropa. Mereka yang awalnya menginginkan hidup berdampingan bersama bangsa Arab di Palestina, menjadi terdoktrin oleh pandangan keras Zhabotinsky.

Survey finds 'shocking' lack of Holocaust knowledge among millennials and Gen Z

Setelah Perang Dunia II berakhir, tanah Palestina pun dilepas dari kekuasaan Inggris. Dan membangi wilayah menjadi 3 bagian, satu untuk bangsa Yahudi, satu untuk bangsa Arab, dan Yerussalem untuk Dewan PBB. Pembagian wilayah ini disetujui oleh 33 negara, 13 negara menolak, dan 10 absten. Dan Inggris pun resmi meninggalkan tanah Palestina.

Beberapa jam kemudian Iraq, Mesir, Suriah, dan Jordania menyerang Israel, yang dikenal dengan Perang Arab-Israel Pertama (1948). Setelah berlangsung selama setahun, Israel dan negara-negara Arab melakukan perjanjian dan mengakhiri Perang Arab-Israel Pertama. Dan pada 1967, Israel menyerang Mesir, Suriah, dan Jordania. Meski pada akhirnya diluncurkan serangan balasan pada tahun 1973 yang dikenal dengan Perang Yom Kippur. Hal ini membuat hubungan Israel dan negara-negara Arab semakin keruh.

Hingga kini, konflik Israel-Palestina didasarkan berdasarkan rasa nasionalisme mereka setelah beribu-ribu tahun mereka merasakan penindasan. Gabungan dari nasionalisme (Zionsime) Herzl, pandangan keras Zhabotinsky yang mengatakan jangan percaya kepada bangsa lain, dan kepercayaan dari Yudaisme (agama Yahudi) membuat terciptanya Israel yang sekarang. Mereka yang menganut Zionisme percaya bahwa menerima bangsa asing, hanya akan membawa kehancuran bagi kaum Israel kini, yang telah dibangun setelah beribu-ribu tahun mengalami keterpurukan.

Latest articles