Melihat Tren Meningkatnya Ateisme di Timur Tengah

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Beberapa dekade ke belakangan, muncul fenomena baru yang berkembang di wilayah Timur Tengah. Pasalnya bermunculan orang-orang yang mengaku tidak beragama (ateis). Padahal, seperti yang kita ketahui dan percayai bersama bahwa wilayah tersebut memiliki tingkat religiusitas yang tinggi.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh WIN Gallub International menunjukkan bahwa 5% dari 500 responden warga Arab Saudi berpindirian ateis, serta 19% di antaranya tidak melakukan praktik keagamaan. Hal ini jauh dari data statistik yang sering dijabarkan bahwa 100% warga Arab Saudi adalah beragama Islam.

Di negara Iran sendiri, hasul survei GAMAAN yang mengukur dan menganalisis sikap warga negara Iran menemukan bahwa 47% warga telah beralih dari kepercayaan beragama ke non-agama.

Dalam sebuah jajak pendapat di media sosial menyebutkan bahwa 2.293 menyatakan diri sebagai ateis di negara-negara Arab. Walaupun data ini meragukan karena diperoleh melalui jajak pendapat di media sosial, tetapi Pusat Penelitian Hukum Islam di Kairo, Mesir melakukan pengutipan dari data tersebut. Hal tersebut juga diperkuat dengan jajak pendapat yang dilakukan oleh Universitas Kairo pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa 10,7 juta warga negara “mengaku” sebagai ateis.

Ateisme dan Kekangan Negara

Kebanyakan dari masyarakat di Timur Tengah mengakui ke-ateis-an mereka melalui media sosial. Hal tersebut karena beberapa negara seperti Arab Saudi yang menerapkan hukum syariah. Kemurtadan yang dilakukan bisa saja berujung hukuman mati.

“Jika negara (Arab) melindungi hak minoritas, jumlah orang-orang yang mengungkapkan bahwa mereka ateis akan bertambah sepuluh kali lipat,” ungkap salah seorang aktivis ateis asal Mesir.

Di pihak lain, dengan bermunculanya tren ateisme, negara-negara Arab malah melalukan penekanan terhadap larangan untuk tidak bertuhan. Contohnya negara Arab Saudi yang mengeluakan Peraturan Menteri Dalam Negeri di tahun 2014 yang melarang warga negata untuk membicarakan ateisme serta melarang pula untuk mempertanyakan pilar-pilar utama ajaran Islam.

Uniknya, tren kenaikan ateisme di Timur Tengah seiringan dengan peningkatan dan munculnya kelompok-kelompok radikal Islam di wilayah tersebut.

Mengapa Tren Ini bisa Terjadi?

Tren ateisme di kawasan Timur Tengah dipengaruhi oleh penolakan warga negara terhadap negara dan agama. Kedua lembaga tersebut seakan menyatu dan bersatu untuk saling memanfaatkan kepentingan satu sama lain. Mereka (warga Timur Tengah) menilai kontrol agama terlalu kuat dalam mencampuri kehidupan mereka. Lebih sulit lagi karena negara juga berada di bawah otoritas agama.

Dikutip dari satuharapan.com, seorang mantan pekerja media mengeluarkan keluh kesahnya. “Masjid penuh tapi masyarakat kehilangan nilai-nilai islami; ke masjid seperti praktik mekanis saja, seperti juga orang Kristen harus pergi ke gereja pada hari Minggu. Kami tidak lagi mengerti agama kami. Bukan karena kami menginginkannya tetapi karena visi dan pemahaman kami tentang agama telah dikotori oleh Kerajaan karena ketetapan resmi tentang agama yang hanya menuruti kemauan dan kesenangan Kerajaan”.

Merve, seorang mantan penganut agama bercerita kepada BBC. Sebelum keluar dari agama Islam, ia merupakan orang yang cukup radikal. Walaupun demikian, ia akhirnya murtad karena adanya pemaksaan dalam urusan beragama di Turki. “Tapi, sekarang aku tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak, dan aku benar-benar tidak peduli,” ungkap Merve.

Selain hal di atas, gagasan untuk tidak beragama juga dipicu oleh kekecewaan terhadap tokoh agama. Mereka menilai bahwa terdapat kontradiksi antara apa yang diajarkan oleh tokoh agama dengan apa yang dilakukannya. Hal tersebut menjadi kekecewaan para pengikut agama.

Pada dasarnya, ada dua hal yang melatarbelakangi gelombang ateisme di kawasan Timur Tengah seperti yang dikutip dalam Tamer Fouad (2012).

Pertama, masyarakat merasa bingung dengan keyakinan yang mereka peluk. Hal ini terjadi karena maraknya pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran tempat ibadah, dan kasus kriminal lainnya. Padahal, seharusnya agama hadir untuk menumbuhkan kedamaian. Mereka kecewa dengan agama yang tidak memanusiakan manusia.

Kedua, alasan politik. Agama kerap kali dipersatukan dengan negara. Tak jarang pula agama dijadikan sebagai tunggangan untuk berpolitik. Rezim negara di kawasan Timur Tengah biasanya menggunaan agama sebagai sumber legitimasi. Di beberapa negara bahkan agama dijadikan sebagai hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh warga negara.

Latest articles