Inggris Alami Krisis BBM; Apakah Berpengaruh ke Indonesia?

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Inggris disebut sedang dilanda krisis BBM belakangan ini, menyebabkan kepanikan di wilayah yang terdampak krisis. Beberapa penduduk mengeluhkan pendapatan mereka menurun, khususnya bagi mereka yang bekerja menjadi supir.

Salah satu supir menuturkan hampir 20% pendapatannya menurun akibat mengantre lama di tempat pengisian bahan bakar, alhasil banyak penumpangnya yang lebih memilih menggunakan transportasi lain.

Apa Penyebab dari Krisis ini?

Krisis energi di Inggris menyebabkan banyak stasiun pengisian BBM kehabisan pasokan | Kompas.com

Dilansir dari cnnindonesia.com, penyebabnya disebut-sebut karena kebijakan baru Pemerintah Inggris yang hengkang dari Uni Eropa yang dikenal dengan Brexit atau Britania Exit hingga aksi buying panic oleh masyarakat.

Kebijakan tersebut ternyata juga berpengaruh dalam hal distribusi BBM yang digadang-gadang menjadi salah satu penyebab dari krisis ini. Peraturan imigrasi semakin diperketat setelah adanya kebijakan Brexit, menyebabkan banyak supir truk BBM kesulitan dalam melakukan pekerjaannya, pasalnya tak sedikit dari mereka merupakan imigran dari negara lain.

Gangguan distribusi ini menyebabkan berkurangnya pasokan bahan bakar di sejumlah stasiun pengisian BBM, hingga menghasilkan antrean panjang. Kenaikan gas alam juga menjadi faktor penyebabnya.

Harga gas alam di wilayah Eropa naik sejak awal 2021 lalu, bahkan hingga 250%. Hal ini disebabkan oleh dibukanya kembali perekonomian negara-negara yang sebelumnya terkunci akibat pandemi. Ditambah dengan masuknya musim dingin yang menjadikan permintaan atas gas alam melambung tinggi, baik di Eropa maupun Asia.

Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar di Inggris | Merdeka.com

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menuturkan dampak krisis energi di Inggris dapat memengaruhi perekonomian di Indonesia yang memicu terjadinya inflasi dan penurunan ekspor-impor dalam komoditas tertentu.

“Sebagai salah satu sinyal kedepan akan mengalami kenaikan dalam beberapa bulan mendatang, sehingga kita harus bersiap-siap pertama terhadap inflasi dan inflasi ini harus diantisipasi karena efek dari naiknya harga minyak kepada harga pangan kemudian harga kebutuhan pokok lainnya ini relatif ke sensitif.” Tutur Bima ketika diwawancarai oleh MNC Portal Indonesia.

Dapat kita ketahui bahwa harga minyak mentah yang naik, mengharuskan Indonesia menyesuaikan harga BBM di dalam negeri.

“Sementara pemulihan ekonomi pasca COVID-19 terjadi namun belum merata di seluruh kelompok, maka inflasi akan memukul kelas menengah bawah dan menciptakan penurunan daya beli yang signifikan dan membuat orang miskin semakin bertambah,” tambahnya.

Pemulihan ekonomi yang belum merata akan menyebabkan pemerintah kesulitan dalam meningkatkan perekonomian kelas menengah ke bawah, dampaknya adalah meningkatnya jumlah kemiskinan.

Krisis energi ini juga dapat memengaruhi aktivitas ekspor, karena dikhawatirkan akan banyak industri-industri besar yang gulung tikar. Oleh karena itu, Indonesia harus mencari pasar baru bagi beberapa komoditas yang lebih potensial dan aman dari ancaman krisis energi.

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles