Dianggap Ramah Lingkungan, Jenazah Jadi Kompos Sedang Tren di US

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Setiap manusia di bumi pasti akan mengalami yang dinamakan kematian. Setelah meninggal, seseorang akan ditentukan pilihannya, antara dikubur atau dikremasi. Biasanya, cara yang dipilih ditentukan oleh aturan agama yang dianutnya.

Dikubur, tentu membutuhkan banyak lahan. Bayangkan setiap 1 orang membutuhkan luas lahan 2,5 x 1,5 meter, sedangkan banyak sekali orang yang meninggal setiap tahunnya. Juga, penguburan dapat mencemari air tanah dikarenakan mayat-mayat dan sisa tulang belulang yang terkubur di tanah.

Dikremasi, cara ini cukup bagus dalam menghemat lahan. Namun, proses yang dilakukan tak cukup baik untuk lingkungan. Proses pembakaran yang memakan waktu hingga 3 jam pasti menghasilkan banyak sekali karbondioksida yang dapat menimbulkan efek rumah kaca.

Lalu, apa solusinya ya? Aha! Jadikan mayat sebagai kompos! Ya, cara ini masih cukup hype di daratan Amerika. Masih belum kepikiran kan bagaimana proses dan wujud dari kompos itu sendiri.

Siapa sih Pengusul dan Penemu Ide Gila Ini?

Katrina Spade, pengusul ide pengomposan mayat | indiatimes

Katrina spade, adalah orang yang mengusulkan ide ini untuk pertama kalinya. Ia terinspirasi dari cara yang sama yang dilakukan oleh peternak ketika hewannya mati. Para peternak biasanya akan mengubah hewan mereka menjadi kompos.

Di tahun sebelumnya, ia pernah melakukan pengujian terhadap 6 jenazah di Washington State University dan ternyata berhasil. Menurutnya, cara ini sangat tepat untuk digunakan di wilayah perkotaan.

Bagaimana Prosesnya? 

Kompos | Kompas.com

Prosesnya mirip seperti pengomposan tradisional, kok. Jasad manusia ditempatkan pada ruangan pengomposan lalu ditambah dengan ranting atau jerami dan dibiarkan mengurai. Celah udara sesekali dibuka untuk memasukkan mikroba yang dapat mempercepat proses pengomposan. Selama 1 bulan, yang akan tersisa hanyalah kompos.

Apa Tanggapan Warga?

Recomposition Cycle | Keepo.me

Karena ini adalah cara yang baru yang tentunya belum banyak sosialisasi tentang pengomposan jasad, ada beberapa warga di US yang mengirim email kepada para penguji. Email tersebut berisi kalimat protes dan kritik kepada mereka, dengan maksud supaya mereka berhenti melakukannya.

Hal ini mereka lakukan lantaran merasa bahwa cara ini tidak menghormati mayat. Kemudian, spade dan penguji lainnya menekankan bahwa mereka akan tetap menghormati jasad ketika proses pengomposan dilakukan.

Mereka (warga) membayangkan kami membuang jasad Paman Henry ke pekarangan belakang dan menutupinya dengan sisa-sisa makanan.” Tutur Jamie Pedersen, seorang senator dari partai demokrat. 

Ketika penelitian penguraian mayat dilakukan, para peneliti melakukannya dengan sangat hati-hati untuk mencegah menyebarnya patogen berbahaya, dan pada 2018 silam mereka menyimpulkan jasad yang diproses aman terkendali.

Pedersen juga mensponsori dibuatnya RUU tentang “rekomposisi” ini. Hal ini bertujuan supaya masyarakat dapat memilih cara ini untuk pengurusan mayat pasca kematian. Karena penelitian rekomposisi ini membuahkan hasil, maka hasil penelitiannya akan diserahkan kepada pihak yang terkait untuk dibuatkan RUU.

Cara ini memang paling efektif dalam hal keramahan lingkungan. 1 kremasi mayat saja sama dengan menjalankan mobil sepanjang 1.000 mil, yang artinya menghasilkan banyak karbondioksida. Dalam segi biaya, rekomposisi jauh lebih murah daripada penguburan tradisional yang dilakukan di US. Ketika menggunakan metode ini, keluarga harus mengeluarkan $5.500, sedangkan untuk penguburan tradisional memakan biaya $7.000. Masing-masing cara memang memiliki keunggulan dan kekurangan dalam segi biaya, waktu dan keramahan lingkungan.

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles