Hasil Survei, Masyarakat Indonesia Lebih Percaya Dukun Dibandingkan Ilmuan. Matinya Kepakaran?

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Akhir November lalu, lembaga survei Global Wellcome Monitor 2020: Covid-19 mempublikasikan hasil temuan mereka. Berdasarkan laporan tersebut, diketahui bahwa persentase kepercayaan masyarakat global terhadap ilmuan dan ilmu pengetahuan meningkat dari temuan 2018 silam. Yang sedari 34% pada tahun 2018 meningkat menjadi 43% di akhir tahun 2020. Di Indonesia sendiri, masyarakat lebih percaya dukun dibandingkan ilmuan.

Peningkatan tersebut disebabkan oleh pandemi covid-19 yang menyerang dunia saat ini. Kampanye-kampanye untuk mencegah penularan covid-19 memicu masyarakat global untuk memercayai ilmu pengetahuan.

Walaupun secara agrerat global, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap ilmuan meningkat, di beberapa bagian dunia mengalami penurunan kepercayaan. Contohnya di bagian Kaukasus/Asia Tengah dan Afrika Sub-Sahara. Indonesia juga termasuk negara yang tingkat kepercayaan terhadap ilmuan masih rendah.

Laporan tersebut menyatakan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap ilmuan (12%) sedikit lebih rendah dari tingkat kepercayaan terhadap dukun (13%). Mengapa hal tersebut terjadi?

Dukun Lebih Dipercayai

Dalam setiap kebudayaan, pasti memiliki sebuah status sosial yang disebut sebagai dukun. Biasanya, mereka memiliki kemampuan-kemampuan khusus dan suprantural, seperti mengobati, menolong, dan memberi bantuan dengan ritual atau jimat tertentu.

Dalam beberapa kebudayaan juga, dukun merupakan orang-orang yang dituakan atau seseorang sesepuh. Proses pemilihan atau memberikan gelar sebagai dukun tidak lah sama di setiap tempatnya.

Kita mengenal ada banyak sekali macam-macam dukun. Ada dukun yang lebih kearah pengobatan, dukun persalinan, dukun juru kunci daerah tertentu, pawang hujan, dukun barang hilang atau yang mengerikan seperti dukun santet.

Timbul sebuah pertanyaan, mengapa dukun lebih dipercaya?

Hal ini terkait dengan kebudayaan suatu daerah. Sebuah kebudayaan yang masih memegang nilai-nilai luhurnya pastilah menghormati dukun. Dukun di beberapa kebudayaan memiliki peran sebagai orang yang dituakan.

Selain itu, eksistensi dukun juga dipengaruhi oleh aliran kepercayaan. Orang-orang yang beragama tertentu tentunya tidak memercayai praktek perdukunan. Berbeda dengan masyarakat yang masih mengenal hal-hal yang berbau tradisional, mereka lebih akrab dengan dukun ketimbang profesi-profesi yang ada di dunia modern, seperti dokter, polisi, apoteker, atau pejabat pemerintah.

Faktor lainnya kenapa masyarakat lebih memercayai dukun ialah terkait masalah finansial. Misalkan saja untuk berobat, biaya pengobatan alternatif di seorang dukun jauh lebih murah dibandingkan berobat ke dokter ataupun rumah sakit. Contoh lainnya, ketimbang melaporkan ke polisi ketika kehilangan barang, beberapa orang biasanya lebih suka bertanya kepada dukun atau “orang pintar.”

Lihat saja ketika masa Pilkada atau Pemilu tiba. Ada banyak caleg yang meminta bantuan kepada dukun alih-alih pergi ke ahli jasa konsultasi. Perlu digarisbawahi, CALEG.

Masih ingat pula dengan jimat “Manjur Lolos CPNS” yang ramai dan laku keras di musim-musim penerimaan aparat sipil negara? Hal-hal tersebut yang bisa menandakan bahwa di negeri ini, dukun, jimat, dan mantra masih menjadi primadona bahkan mengalahkan pendapat ahli, ilmuan, hingga jasa profesi lainnya.

Namun, apakah hal tersebut hanya disebabkan oleh dominasi pemikiran masyarakat Indonesia yang belum modern dan masih terbelakang?

Matinya Kepakaran!

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Tom Nichols mengkritik kehidupan modern yang membunuh para pakar/ahli. Walaupun penyebab utama matinya sebuah kepakaran adalah adanya distrubsi informasi dan membuat masyarakat terbutakan oleh informasi salah dan hoaks. Namun, kita tidak akan membahas hal tersebut. Hal menarik lainnya yang terkait matinya kepakaran ialah pakar yang membunuh dirinya sendiri. Mereka membunuh kepakarannya dengan cara menghilangkan kepercayaan masyarakat.

Untuk di Indonesia sendiri, kebanyakan orang yang tidak percaya terhadap ahli/ilmuan/profesi ialah karena mereka selalu diperdaya oleh orang-orang yang seharusnya melindungi mereka.

Alih-alih memilih bidan yang mematok harga mahal untuk sebuah persalinan, masyarakat lebih suka ke dukun beranak.

Ketimbang melapor ke polisi untuk mencari barang hilang yang entah kapan akan diproses, mereka lebih memilih seorang dukun.

Matinya kepakaran dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dukun merupakan penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pakar/ahli. Hal ini lebih diperkeruh oleh kehadiran pemerintah yang membunuh citra ilmuan/ahli/pakar. Walaupun sebenarnya pemerintah dan pakar/ahli adalah pranata yang berbeda.

Latest articles